Eni Kusuma

Kekuatan dari Minat


Ketika saya memotivasi para mahasiswa di Ponorogo beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa bertanya pada saya: ” Kenapa Mbak Eni memilih untuk menulis, kok gak yang lain?”

Saya menjawab, karena bidang yang saya minati adalah menulis. (Karena banyak yang bertanya soal menulis, maka kolom selanjutnya saya membahas tentang menulis).

Ketika saya balik bertanya kepada mereka: “Apa bidang yang paling diminati sebagai bekal untuk hidup?” Kebanyakan dari mereka belum siap dengan pertanyaan saya. Hanya beberapa gelintir saja yang telah memiliki tujuan yang jelas.

Saat menjadi mahasiswalah saat yang paling tepat untuk menekuni bidang yang paling diminati. Masa menjadi mahasiswa adalah masa belajar dan berlatih sehingga ketika lepas kuliah diharap telah menjadi ahli di bidangnya. Nyatanya, kebanyakan dari mereka -yang mungkin bisa mewakili rekan-rekan mahasiswa dari perguruan tinggi lain- masih santai, sebagian lagi masih bingung. Hal ini dikarenakan oleh kondisi mereka yang belum mengalami masa kritis. Selepas kuliah, mereka baru akan mengetahui dunia yang sebenarnya.

Bagi yang telah memiliki keahlian yang dipupuk sejak kuliah, mereka tidak akan bingung dengan masa depan mereka. Tetapi bagi mereka yang tidak belajar dan tidak melatih bidang yang diminati sebelumnya, mereka akan mengalami masa kritis. Terutama bagi mereka yang pada akhirnya menganggur. Jika toh kemudian ia menemukan bidang yang diminati, ia akan belajar dan berlatih dari nol bila dibandingkan dengan mereka yang telah memiliki persiapan sebelumnya. Ini masih bagus daripada mereka yang tidak berusaha mencari minatnya sama sekali.

Kebanyakan dari kita, kita akan bangkit, termotivasi untuk melakukan sesuatu jika telah mengalami masa kritis atau masa terjepit. Kita akan dipaksa oleh keadaan untuk melakukan sesuatu, jika tidak kita akan mati. Sehingga ini justru kadang menjadi titik awal kesuksesan kita. Karena mereka yang telah mengalami masa kritis, memiliki daya juang yang tinggi, berani mengambil resiko dan tidak takut gagal. Ketidaktakutan ia akan kegagalan karena sekarang pun ia tidak memiliki apa-apa alias masih nol, jadi untuk apa takut? Namun kita tidak harus menunggu masa kritis, baru bertindak, bukan? Bagaimana pun juga persiapan tetap lebih baik dan memiliki peluang berhasil lebih besar jika dibarengi oleh motivasi yang besar pula.

Ketika saya ditanya kembali oleh salah satu mahasiswa di sana: “ Menulis kan beresiko, Mbak?”

Setiap apa yang kita lakukan memang beresiko. Apalagi jika kita tidak melakukan apa-apa, resikonya mungkin malah lebih besar. Saya memulai menulis dari nol, jadi jika saya gagal pun saya tetap nol. Jadi untuk apa takut? Jika tulisan-tulisan saya ditertawakan, saya akan ikut tertawa juga, hehe. Tetapi “tertawa” saya “tertawa” pertanda mengerti akan kebodohan saya sendiri. Yang berarti saya selangkah lebih maju dari sebelumnya. Yang berarti pula saya telah belajar. Itulah sebabnya “Belajar adalah Hak Saya!”

*Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 1097
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *