Syahril Syam

Kemerdekaan Dalam Memilih Respon

Dan Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (QS 2:45)

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan kisah Nabi Muhammad saw: Setiap Nabi Muhammad saw selesai beribadah dan lewat pada salah satu gang beliau diludahi, dilempar kotoran oleh salah seorang kafir setiap hari. Beliau hanya berdoa agar orang kafir itu dibukakan pintunya hatinya seraya tanpa marah dan dendam. Pada suatu ketika Nabi berjalan di gang yang sama, setelah beberapa hari Nabi pun heran, ”kemana orang yang sering melempari aku ketika aku selesai beribadah di ujung gang ini”, dan bertanyalah beliau kepada salah satu penduduk dan penduduk itu menjawab, ”Ia sedang sakit yaa Rasul”.

Ketika ada kabar bahwa orang itu sakit, Rasulullah langsung menjenguknya tanpa ada dendam sedikit pun. Datanglah Rasul ke rumah orang yang sering sekali melampari beliau sambil membawa semangkok makanan. Sang pemilik rumah pun tersentak dan menangis tersedu sambil berkata “Yaa Muhammad aku sering sekali melempari engkau dengan ludahan, kotoran dan sekarang engkau ke rumahku hanya untuk menjenguk dan membawa semangkok makanan seraya tidak ada dendam dan dengki di matamu, sedangkan tetangga dan kerabatku belum menjengukku sama sekali, yaa Muhammad sungguh mulia hatimu…”. Rasulullah telah menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya merdeka tapi juga mau menjenguk dan mendoakan orang tersebut.

Saya mengambil contoh kisah Sang Nabi karena, kisah ini begitu menarik perhatian saya akan kemerdekaan kita dalam memilih respon. Dalam NLP, ada begitu banyak teknik agar kita bisa memilih respon yang memberdayakan. Itulah sebabnya NLP, selain membahas teknik, juga mendasari dirinya dengan sebuah sikap, atau dalam bahasa saya: Kemerdekaan dalam memilih respon.

Kebanyakan orang seringkali sulit membedakan antara hal yang prinsip dan hal yang biasa dan remeh. Seringkali, seseorang cenderung fleksibel ketika berbicara tentang sesuatu yang sangat prinsip, tapi menjadi sangat tidak fleksibel ketika membicarakan hal-hal yang biasa dan remeh. Sebagai contoh, kejujuran adalah hal yang sangat prinsip, tapi banyak orang yang sangat fleksibel dalam memberi respon mengenai kejujuran. Dan di saat yang lain, hal yang biasa dan remeh seperti mudah marah, seringkali sangat tidak fleksibel dalam memilih respon. Itulah sebabnya, dalam NLP, seseorang yang paling luweslah (behavioral flexibility) yang paling memegang kendali.

Kemerdekaan memilih respon yang memberdayakan kita, akan menjadikan kita melihat diri kita sebagai suatu aset yang sangat memberdayakan. Karena, orang-orang yang selalu me-respon otomatis dan bersifat negatif itu cenderung menyalahkan dan berlindung dibalik label yang ada pada dirinya. Itulah sebabnya, NLP merupakan suatu sikap (behavioral flexibility), yang juga merupakan suatu metodologi, dan melahirkan berbagai teknik agar kita bisa merdeka dalam memilih respon yang memberdayakan diri kita dan orang lain.

Sebagai penutup, saya ingin menuturkan sebuah kisah dari seorang sufi yang bernama Ali Zainal Abidin. Suatu hari Ali Zainal Abidin di cela oleh seseorang dengan perkataan yang penuh kebohongan dan sangat kotor. Setelah orang itu selesai mencela, Ali Zainal Abidin hanya berkata, “Sekiranya apa yang kamu katakan kepadaku itu benar, maka aku akan memohon ampun kepada Allah. Namun, sekiranya apa yang kamu katakan kepadaku itu tidak benar, semoga Allah mengampunimu!” Sungguh perkataan yang luar biasa, yang menunjukkan betapa Ali Zainal Abidin sangat merdeka dalam memilih respon. Beliau bukan hanya merdeka terhadap dirinya sendiri, juga mendoakan orang yang mencela dirinya. Mari berdayakan diri dan memberdayakan orang lain!

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor dan narasumber di Delta FM. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 1679
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *