Eni Kusuma

Kenapa Menulis?

Menulis telah mengubah hidup saya. Terutama untuk memperbesar rasa percaya pada diri sendiri. Dan supaya saya tetap bias berpikir jernih. Dengan menulis, mau tak mau saya harus banyak membaca untuk memperluas wawasan saya. Bukan saja “mau”, tetapi saya menyukainya. Buku tidak memilih siapa pembecanya. Apakah ia laki-laki atau perempuan, pejabat, teknisi, eksekutif, politikus, ilmuwan, rohaniawan, bangsawan, dan lain-lain.. Bahkan budak sekalipun. Itu yang saya sukai dari buku. Kegiatan membaca juga telah membebaskan pikiran saya dan melupakan sejenak profesi saya sebagai pembantu rumah tangga , waktu itu. Tetapi kenapa harus menulis juga? Karena saya ingin sekali bisa menyusun pikiran saya sendiri secara logis dan jelas. Baik di hadapan beberapa orang atau orang banyak. Menulis adalah pilihan yang sangat tepat untuk itu.

Apakah Anda percaya jika saya waktu itu adalah seorang pembantu rumah tangga , -yang sehari-hari disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga, jarang berkutat dengan buku-buku sebagaimana halnya seorang mahasiswa, eksekutif, wartawan, maupun pakar- bisa berpikir logis? Terlebih menulis buku? Saya katakan “berpikir logis”. Apakah Anda pernah menemukan buku yang tercetak, yang isinya tidak logis? Mmh, yang berbeda pendapat dari satu buku ke buku yang lain sih, banyak. Namun semuanya logis, dengan alas an yang dikemukakan.

Masalahnya bukan Anda percaya atau tidak. Tetapi saya merasa bisa, asal saya mau berlatih dan mengikuti petunjuk-petunjuk dari mentor saya. Hal ini berarti, siapapun bisa menulis. Ini bukan menyenang-nyenangkan atau menyanjung-nyanjung Anda. Tetapi ini benar, bahwa siapapun bisa menulis.

Setelah saya berhasil menulis buku pertama saya yang berjudul “Anda Luar Biasa”, apakah keberhasilan ini luar biasa? Tidak. Ini bukan karena bakat atau berkah yang Tuhan berikan kepada beberapa manusia yang istimewa. Seperti yang telah saya tulis di buku “Anda Luar Biasa”, bahwa setiap orang adalah luar biasa. Setiap orang bisa mengembangkan pikiran-pikirannya yang terpendam untuk apa saja, terlebih untuk menulis, asal ia mau.

Jika Anda ingin memulai untuk menulis. Ini sama sekali tidak sulit. Tidak ada alasan untuk takut atau khawatir. Jika Anda berpikir tidak bisa menuangkan ide-ide serta berpikir dengan jernih ketika memegang pulpen dan kertas atau di depan computer. Maka saat itulah Anda akan mendapati kenyataan bahwa Anda akan bisa menuangkannya. Tidak percaya? Rangsanglah pikiran Anda dengan satu tema, maka coretan-coretan akan segera tercipta.

Ini yang telah saya alami. Saya mau berlatih, terus tekun, dan tak bosan-bosan. Praktek-dalam hal ini menulis-, dengan sendirinya akan melenyapkan kekhawatiran dan akan menimbulkan kepercayaan diri, juga keberanian. Saya percaya orang-orang yang sangat pandai menulis pun pada awalnya khawatir dan malu-malu setengah mati. Seorang wartawan yang sehari-harinya menulis pun pada mulanya juga merasa khawatir tulisannya tidak disetujui oleh pemimpin redaksinya ataupun para pembaca. Lalu mengapa mereka kemudian sangat piawai? Jawabannya adalah karena mereka berlatih sehingga mereka berkembang.

Menulis adalah ilmu yang tak ada habis-habisnya. Seperti ilmu pengobatan yang terus melakukan penelitian-penelitian untuk berbagai macam penyakit. Menulis, sama artinya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, sepanjang peradaban manusia. Kita sependapat bahwa kegiatan membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan, yaitu kebutuhan jiwa. Bukankah manusia itu sendiri adalah jiwa?

Jika Anda hendak bergabung dengan kegiatan yang menyenangkan ini, Anda harus:

1. Bulatkan tekad.
Ini sangat penting. Jangan setengah-setengah. Jika tekad setengah-setengah, yang didapat hanyalah: “Capek deh!” Karena hasilnya akan setengah-setengah. Dibilang “berhasil”, masih jauh, dibilang gagal pun masih proses. Lain ceritanya jika tekad dan semangat sudah bulat. Tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menghalangi tujuan Anda.

Ingatlah apa saja keuntungan-keuntungan yang bisa Anda raih dari kegiatan menulis ini. Anda tidak saja bertambah percaya diri, tetapi juga bisa bersahabat dengan para guru, berteman dan disegani oleh banyak orang. Dan ini akan memperluas pengaruh Anda kepada orang lain. Apakah ada jalan yang lebih singkat untuk maju daripada kepandaian menuliskan ide-ide atau gagasan-gagasan cemerlang? Apalagi jika dibukukan.

Saya lebih suka menjadi pintar menulis daripada menjadi mahajutawan. Kalau bisa sih dua-duanya, hehe. Karena pandai menulis adalah suatu hal yang diinginkan oleh hamper setiap manusia. Bahkan oleh manusia purba sekalipun. Ini ditandai dengan adanya beragam tulisan dan gambar pada dinding-dinding gua jaman dulu. Maklum, belum ada pulpen dan kertas. Dan untuk menandai jaman adalah dengan melihat tulisan-tulisan mereka, yaitu manusia-manusia pada jaman itu. Tulisan yang menentukan peradaban. Di sisi lain, tulisan juga menandakan adab seseorang. Gak percaya? Jika kita ingin tahu siapa orang itu, bacalah tulisan-tulisannya. Karena tulisan akan menelanjangi pemikiran penulisnya. Banyak orang bilang tulisan menandakan keintelektualan seseorang. Sayang sekali bukan, jika seseorang yang sudah intelek, tidak diabadikan dengan menulis buku? Dengan menulis buku, ilmunya pun akan bermanfaat kepada sebanyak-banyak orang.

Siapa pandai menulis, maka ia seperti telah memiliki senjata ampuh. Orang-orang yang akan membaca tulisan-tulisan kita akan lama merenungkan gagasan-gagasan kita. Bahkan lebih lama daripada hanya mendengar gagasan-gagasan itu dari seorang yang pandai berpidato. Tulisan akan mudah diingat daripada hanya mendengar. Bukankah agar kita tidak mudah lupa, kita harus menulisnya?

Apakah Anda tahu apa artinya “pandai menulis”? Ini memberi suatu perasaan percaya, kuat dan kuasa. Ini akan menambah dan memperbesar karakter Anda. Anda pun akan merasa lebih unggul sedikit diatas orang-orang lain. Pengalaman yang menyenangkan bukan?

Jika Anda kesulitan dengan “tekad” ini. Saya akan sharing pengalaman dengan Anda. Saya juga mengalami “krisis tekad” ini. Saya tidak berjanji akan terus belajar menulis pada diri saya sendiri tetapi saya berjanji pada orang lain. Ini yang membuat tekad saya bulat. Banyak orang bilang berjanji pada orang lain akan lebih mudah ditepati daripada janji kepada diri sendiri. Saya berjanji pada orang-orang. Mereka adalah teman-teman dan orang-orang terdekat saya. Terutama kepada guru atau mentor saya. Jika saya tidak menepati, saya akan malu bukan? Saya terpaksa menepati janji dengan berusaha sekeras-kerasnya. Jadi, katakan pada orang lain tekad Anda, Anda pun akan terpaksa menepatinya. Yang ada dikepala Anda nanti adalah: “Terus maju!”. Ini lain dengan berjanji terhadap diri sendiri, yang biasanya –jika tidak ditepati- tidak ada efek rasa malu dan efek rasa ingin membuktikan.

2. Anda harus mengetahui dengan sebaik-baiknya topik yang hendak di tulis.
Jika Anda belum tahu topik yang akan ditulis, belum terpikirkan dan belum tahu cara menyusunnya, ini seolah-olah orang buta yang membimbing orang buta yang lain. Tulislah jika Anda benar-benar yakin ada sesuatu yang ingin Anda kemukakan. Tetapi ada hal-hal lain yang bisa menolong Anda. Misalnya dengan membaca buku-buku atau referensi-referensi lain yang berhubungan dengan topik yang akan Anda bahas. Juga mencoba mendiskusikannya kepada teman-teman Anda. Maka Anda akan menemukan pendapat-pendapat atau alasan-alasan yang relevan atau kurang relevan dari semua itu. Termasuk pendapat Anda sendiri. Analisa dan tulislah, maka Anda akan lancer dengan sendirinya. Gunakan siasat-siasat itu. Anak kecil pun tidak terus-menerus memegangi meja dan kursi, setelah ia bisa berdiri sendiri.

3. Anda harus percaya diri.
Jika Anda kurang percaya diri untuk menulis, bersikaplah dan berlagaklah seolah-olah Anda percaya diri. Jika Anda masih kesulitan dengan hal ini, saya akan sharing pengalaman dengan Anda. Terus terang, saya adalah orang yang sangat tidak percaya diri. Terutama menulis, yang tulisan saya nanti akan dibaca oleh banyak orang yang diantaranya orang-orang intelek. Sungguh! Saya merasa takut, cemas, dan malu. Tetapi saya bersikap seolah-olah saya berani dan tabah. Sehingga perasaan berani saya mendesak kecemasan saya. Tentu saja, saya harus tahu betul tentang topik yang akan saya tulis. Darimana saya memahaminya? Tentu dari belajar dengan membaca dan berdiskusi.

Tentang keberanian dan rasa percaya diri. Perasaan ini akan muncul jika kita bersikap demikian. Perasaan sangat substansial. Sehingga perasaan ini bisa memicu kadar zat-zat biokimiawi yang ada dalam tubuh. Saya kira kita sependapat bahwa jika perasaan kita berani –yang dipicu oleh sikap kita yang seolah-olah berani- maka ini akan menurunkan kadar adrenalin kita. Sehingga kita akan berani beneran.

Jika kita sering melatihnya, maka kepura-puraan kita akan menjadi kenyataan yang sebenarnya. Metode inilah yang saya gunakan. Saya masih menggunakan metode ini dalam penulisan buku kali ini. Hal yang harus dilakukan adalah: “Terus maju!”

4. Menulis! Menulis! Menulis!
Ini sangat penting! Cara satu-satunya yang akan berhasil untuk berani menulis adalah: “Praktek menulis!” Anda tidak akan pernah bisa menulis, jika Anda tidak praktek menulis. Menulislah, maka Anda akan berkembang dengan sendirinya. Percayalah, Anda harus bertekun. Kalau mungkin ikuti dan pelajari kursus menulis.

Nah, sekarang pilihlah satu topik yang sudah Anda ketahui dan pahami. Menulislah. Maka Anda akan terkesima dengan gerakan-gerakan pulpen Anda yang belum mau berhenti.

Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 1136
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *