Syahril Syam

Kenapa Mesti Berdoa dan Beragama?

Terdapat sebuah penelitian yang sangat menarik berkenan dengan niat. Benjamin Libet, pakar saraf, pernah melakukan penelitian dengan menghubungkan beberapa orang dengan alat pengukur gelombang otak, Electro-encephalograph (EEG). Hal yang menakjubkan kemudian terjadi. Apakah itu? EEG kemudian menampakkan sebuah aktifitas gelombang otak yang muncul sebelum seseorang memiliki keinginan sadar untuk melakukan sesuatu.

Penelitian Libet kemudian menemukan bahwa sebuah niat muncul sekitar seperlima detik sebelum sebuah tindakan; dan secara jelas juga terlihat sebuah aktifitas gelombang otak muncul sekitar sepertiga detik sebelum munculnya niat. Dengan kata lain, ketika Anda membuka situs www.pembelajar.com dan meng-klik artikel saya, maka sesungguhnya pilihan tersebut bukanlah merupakan pilihan sadar Anda, tetapi faktanya adalah sebuah aktifitas gelombang di otak Anda telah memberi sebuah sinyal sebelumnya agar Anda memiliki sebuah dorongan untuk meng-klik artikel saya, dan kemudian muncullah niat Anda yang muncul ke kesadaran sehingga Anda kemudian memilih untuk meng-klik artikel saya.

Hal ini berarti bahwa semua keinginan Anda bukanlah merupakan aktifitas sadar Anda, tetapi merupakan sebuah dorongan yang diiringi dengan niat yang muncul dari bawah sadar Anda. Pilihan sadar Anda hanya akan terjadi setelah munculnya niat tersebut dari bawah sadar Anda. Sebagai contoh, membaca sebuah buku. Adanya tindakan membaca buku mungkin bagi Anda merupakan sebuah pilihan sadar Anda, tetapi biar bagaimana pun Anda tak dapat mengontrol sinyal di otak Anda yang muncul dan memberikan dorongan dan niat bagi Anda untuk membaca buku. Dorongan dan niat itu muncul tanpa ada kesadaran pilihan dari Anda. Dan ketika niat untuk membaca buku itu muncul dari dalam hati Anda, maka disinilah kesadaran Anda untuk memilih berperan. Dengan kata lain, ketika muncul sebuah niat untuk membaca buku dari dalam hati Anda, maka Anda bisa secara sadar untuk memilih: apakah melakukan niat Anda dengan membaca buku ataukah mengabaikan niat tersebut.

Dalam penelitian-penelitian lebih lanjut dalam dunia mindset dapat diketahui bahwa pada level bawah sadar terdapat begitu banyak program yang merupakan akumulasi dari banyaknya penilaian kita terhadap pengalaman. Adanya niat untuk rajin dan menunda-nunda, berdasarkan persepsi penelitian dibidang mindset, merupakan sebuah program (seperti layaknya program komputer) yang berada pada level bawah sadar, yang kemudian menjadi sebuah tindakan yang berulang-ulang (kebiasaan). Pandangan ini disatu sisi merupakan kebenaran yang jelas, yang didasarkan pada berbagai penelitian ilmiah. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar dan sangat utama adalah: Jika sebuah program merupakan penilaian kita terhadap pengalaman, maka adakah sebuah atau beberapa program yang bukan merupakan hasil dari pengalaman? Karena pengalaman merupakan sebuah stimuli yang harus dijalani terlebih dahulu, maka mutlak pula jika ada sebuah atau beberapa program yang bukan hasil dari pengalaman.

Seperti yang saya siratkan dalam artikel sebelumnya, cobalah Anda simak kembali maksud saya dengan menyimak penggalan tulisan saya dari artikel sebelumya: Alkisah tentang seorang ilmuwan yang membuat suatu sistem tertentu yang dilengkapi dengan panas, uap air, dan dengan segala syarat lain yang diperlukan dalam proses alami untuk melahirkan anak ayam dari telur. Di dalam sistem itu, ia letakkan telur agar menghasilkan ayam. Tetapi, ia tidak memperoleh hasil yang dikehendaki.
Lantas tahulah ia dari situ bahwa studinya terhadap kondisi-kondisi reproduksi alam itu tidak memadai. Ia kemudian melakukan eksperimen-eksperimen lain terhadap ayam ketika ayam itu mengerami telurnya. Setelah observasi-observasi dan tes-tes yang sangat cermat, ia menemukan bahwa ayam tersebut dalam saat-saat tertentu mengubah posisi telur dan membolak-balikkannya dari satu sisi ke sisi lain. Lantas, sekali lagi, ia melakukan eksperimen dalam sistem khususnya dengan memberlakukan proses yang dilakukan sang ayam tadi. Maka, eksperimen tersebut mendapat keberhasilan yang sedemikian.

Cerita ini menyimpulkan sebuah pertanyaan besar. Siapakah yang mengajarkan kepada ayam itu rahasia ini (cara menetaskan telur menjadi anak ayam) yang tersembunyi dari ilmuwan besar tersebut? Atau siapakah yang mengilhami ayam itu dengan aksi yang bijak tersebut, yang proses reproduksi tidak akan dapat berlangsung tanpa aksi itu?

Hal ini menjadi sangat jelas, bahwa selain adanya program yang merupakan hasil dari pengalaman, terdapat juga program yang memang tidak datang dari hasil pengalaman. Menurut Joe Vitale terdapat dua program yang asalnya berbeda, yaitu kenangan, program-program yang muncul karena hasil dari pengalaman; dan yang kedua Sang Ilahi, program-program yang merupakan inspirasi dan ilham yang muncul karena kita membersihkan pikiran dan hati kita.

Dari sudut pandang filsafat holistik, secara fitrah manusia itu ingin selalu cenderung kepada kebenaran hakiki, selalu rindu kepada kebahagiaan hakiki. Dan gambaran kita semua tentang kebenaran dan kebahagiaan hakiki adalah kebenaran dan kebahagiaan yang absolute dan tidak terbatas. Jika pengalaman adalah sesuatu bersifat terbatas, maka pasti ada sesuatu diluar pengalaman yang sifatnya tidak terbatas. Inilah yang kita biasa sebut dengan Tuhan. Dengan kata lain, terdapat dua program yang selalu memberikan dorongan dan niat kepada kita: program yang merupakan akumulasi dari pengalaman, dan kedua dorongan dan niat yang merupakan fitrah kita yang berasal dari Tuhan.

Hal ini semua berarti sangat jelas bagi kita. Jika fitrah merupakan sebuah program yang selalu memberikan dorongan dan niat kita kepada kebahagiaan dan kesuksesan, maka program lain yang dihasilkan oleh akumulasi pengalaman akan selalu berada pada dua aspek: mendukung program fitrah kita yang suci atau selalu mensabotase program fitrah kita yang suci. Oleh sebab itu, disinilah letak pentingnya setiap manusia itu berdoa dan beragama dengan tujuan untuk selalu memohon petunjuk agar program fitrah kita selalu teraktualisasi dalam tindakan, dan memfilter program dari pengalaman agar mendukung program fitrah kita yang selalu ingin sempurna dan menjadi lebih baik. Dan jika ini dilakukan, maka dorongan dan niat kita akan selalu memunculkan hal-hal baik, yang akan selalu kita pilih secara sadar untuk kita aktualkan dalam tindakan. Dan dengan ijin-Nya kita berjalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan hati. Ijinkan saya mengutip penggalan puisi Rumi yang menggambarkan dengan begitu indah pentingnya berdoa dan meminta kepada-Nya dalam kesadaran beragama:

Karena tangisan awan, taman pun tersenyum
Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir

Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata
“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”

Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung
Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung

Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”
Dengarkan, anugrah Tuhan kan curahkan air susunya

Tangisan awan dan panas mentari
Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya

Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan
Mana mungkin bakal kembang semua badan

Mana mungkin musim silih berganti
Jika kemilau dan tangis ini berhenti

Mentari yang membakar dan awan yang menangis
Itulah yamg membuat dunia segar dan manis

Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar
Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar


*) Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 1210
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *