Edy Suhardono

Kendal(i) Atas Kendal(a) Diri


Di antara ribuan klien yang dilayani IISA Assessment Centre, terdapat sekitar lima puluhan klien yang berasal dari kalangan family business. Sebagian besar klien dari kluster ini memiiki persoalan yang hampir seragam: bagaimana membuat keputusan “suksesi kepemimpinan” perusahaan, yakni keputusan berkenaan dengan siapa yang kelak bakal menjadi penerus estafet kepemimpinan bisnis keluarga.

Dua pihak yang terlibat dalam proses suksesi ialah pertama, the founder (pendiri, ayah atau ibu) dan kedua, the successor (penerus, anak). The founder umumnya mempersepsikan atau mengenali kandidat successsor sebagai pribadi yang kompeten pada bidang keahlian sebagaimana sudah dipersiapkan lewat bidang studi atau pelatihan, sehingga tak ada alasan yang memberatkan untuk tidak memasang sang kandidat pada posisi direksi. Sebaliknya, para founder ini umumnya mengeluhkan buruknya kinerja para kandidat yang diungkapkan dengan sebutan “malas dan lembek”.

Kemalasan dan kelembekan ini dijabarkan sebagai kecenderungan menunda, pembawaan yang moody, ketakutan mengambil risiko, pembiaran diri berada dalam konflik kepentingan, kekakuan cara penyelesaian, kelemahan manajemen waktu, ketaklengkapan informasi lapangan, rendahnya daya determinasi diri, ketakutan dipersalahkan, dan ketidakseriusan mengurus hal yang belum familiar.

Hasil asesmen secara umum terhadap klaim “kompeten tapi malas dan lembek” menunjukkan bahwa para kandidat umumnya berada pada tingkatan memadai hingga tinggi pada kecerdasan Logika Matematika, Logika Bahasa, Spasial, Musik, Interpersonal, dan Naturalistik; lemah pada kecerdasan Kinestetik dan Eksistensial; namun umumnya paling lemah dalam kecerdasan Intrapersonal. Kisah nyata para tokoh berikut (bukan nama sebenarnya) menggambarkan permasalahan yang saya angkat.

Kendal(a) Di Dalam Diri
Pak Wardana, seorang pengusaha mebel sukses di kawasan Pasar Mebel Bukir, Pasuruan, Jawa Timur; mempunyai seorang anak tunggal bernama Benny Wirawan. Bagi Pak Wardana, Binar, begitu nama panggilan akrab Benny Wirawan, adalah sosok anak yang sangat menyenangkan dalam pergaulan dan pandai mengambil hati, meski sering membuat kesal karena sifat malasnya yang luar biasa. Obsesinya, bagaimana agar Binar kelak menjadi pekerja keras dan bertanggung jawab. Pertama-tama, Pak Wardana menginginkan Binar menyadari betapa tinggi nilai kerja.

Suatu hari pada pukul 2 siang, Pak Wardana memanggil anaknya dan berkata: “Binar, hari ini, Ayah ingin kau pergi keluar, terserah kau mau mengerjakan apa; yang penting kau harus membawa pulang sesuatu senilai dua puluh lima ribu rupiah. Jika kau gagal, kau tak boleh menikmati makan malam untuk hari ini.”

Binar tampak kebingungan dan kehilangan akal karena selama ini tak pernah mengerjakan satu pun jenis pekerjaan sebelumnya, apalagi yang menghasilkan upah senilai dua puluh lima ribu rupiah dalam beberapa jam. Karena ketakutan terhadap tuntutan ayahnya, ia menghampiri ibunya dengan isak tangisnya sambil menceritakan tugas yang dibebankan ayahnya. Ibunya tak tega dan luluh hati begitu melihat deras air mata membasahi kedua pipi anak semata wayangnya. Sejenak Bu Wardana kebingungan, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia menawarkan bantuan dengan memberinya emas batangan berbobot 25 gram.

Pada malam hari, ketika Pak Wardana menanyakan kepada Binar apa saja yang telah ia peroleh, Binar segera secara sopan mengeluarkan batangan emas dari dalam sakunya dan menyerahkan kepada ayahnya. Tanpa komentar, Pak Wardana langsung meminta Binar untuk membuang batangan emas itu ke dalam sumur belakang rumah dan Binar pun melakukan seperti yang diperintahkan ayahnya.

Sebagai businessman berpengalaman, Pak Wardana tahu, batangan emas itu bukan hasil kerja keras anaknya, tapi pemberian istrinya. Hari berikutnya Pak Wardana meminta istrinya ke Surabaya untuk menjenguk orangtuanya. Sepeninggal istrinya, ia meminta Binar pergi keluar dan mendapatkan sesuatu senilai seratus ribu rupiah dengan ancaman tidak boleh makan malam jika ia gagal.

Kali ini Binar pergi menangis dan mendatangi kakak sepupunya yang bersimpati dan memberinya seratus lembar ribuan dari tabungannya sendiri. Ketika Pak Wardana bertanya kepada Binar apa yang telah ia peroleh, anak laki-laki yang sangat ia sayangi itu tiba-tiba melempar segepok uang kertas yang terdiri dari seratus lembar uang ribuan. Pak Wardana sedikit terperanjat atas ulah anaknya, namun langsung memerintahkannya untuk membuang gepok uang itu ke dalam sumur belakang rumah. Meski dengan bersungut, Binar melakukan hal sebagaimana diperintahkan ayahnya.

Pak Wardana tahu dari mana asal uang yang baru saja diserahkan Binar. Keesokan harinya ia mendatangi kemenakan perempuannya dan mengganti sejumlah uang yang sudah ia serahkan ke Binar. Setelah itu, ia kembali meminta anaknya untuk pergi keluar dan mendapatkan apa pun senilai seratus dua puluh lima ribu rupiah dengan ancaman yang sama: Binar tidak boleh makan malam jika ia tak membawa pulang apa pun!

Kali ini, karena Binar tidak dapat mendatangi seorang pun dari orang-orang dekat untuk ia mintai pertolongan; terpaksa ia pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Ia mendatangi salah seorang pemilik toko yang menjanjikan bahwa ia akan membayarnya lima puluh ribu rupiah jika ia berhasil mengangkut setengah isi gudang di tokonya ke gudang di rumah pribadinya yang berjarak sekitar dua kilometer dari toko. Binar, anak pengusaha mebel kaya itu, tidak bisa menolak tawaran ini dan harus bermandi keringat pada saat ia menyelesaikan pekerjaannya. Kakinya gemetaran, leher dan punggungnya kesakitan. Tampak bilur-bilur dan bekas bercak darah di punggungnya. Telapak tangannya kasar dan melepuh kapalan.

Ketika ia kembali ke rumah dan mengeluarkan dua lembar lima puluh ribu di hadapan ayahnya, sang ayah memintanya untuk membuangnya ke sumur. Binar menangis tersedu dan hampir berteriak menolak keras permintaan ayahnya. Dia tidak bisa membayangkan harus melemparkan uang yang ia peroleh dengan seluruh perasaan, darah, dan keringatnya. Dia mengatakan di tengah tangis sedu tangisnya: “Ayah! Seluruh tubuhku sakit. Aku pulang dengan bilur dan bercak darah dan Ayah memintaku untuk melemparkan uang ke dalam sumur?!”

Serta merta Pak Wardana tersenyum. Dia mengatakan kepada anaknya bahwa orang baru merasakan rasa sakit bahkan sakit hati bila buah kerja kerasnya dianggap sia-sia. Pada dua kesempatan sebelumnya Binar dibantu oleh ibunya dan saudara sepupu perempuannya dan karena itu tidak punya rasa sakit, pun tak merasa tersinggung ketika harus melempar perolehannya ke dalam sumur.

Mengenali Kendal(i) Diri
Kejadian Binar sebagaimana saya ceritakan sering kita alami, meski belum tentu kita sadari. Kita sering kehilangan “binar dalam diri” lantaran kita tak mengenali dan gilirannya gagal mengendalikan kendala dalam diri kita. Kendala diri adalah faktor intrinsik yang secara mekanistik mendorong dan menciptakan kegagalan dan gilirannya menjudulkan kegagalan ini sebagai alasan melindungi rasa inkompetensi kita. Dorongan ini biasanya berupa, “tindakan membiarkan tak dihasilkannya kinerja yang lebih baik semata, demi dapat menjaga citra diri yang positif”.

Kendala diri didorong oleh keharusan melindungi citra diri. Menurut Berglas dan Jones (1978), kegagalan seseorang mengerjakan tugas penting lebih sering disebabkan oleh kendala dalam diri daripada ketakmampuan orang tersebut. Kendala diri dapat melindungi citra diri dalam jangka pendek, meski penelitian menunjukkan bahwa hal ini justru menyita biaya psikosomatik jangka panjang, seperti memburuknya kesehatan dan menurunnya tingkat kepuasan tentang kompetensi diri. Seorang yang mengalami kendala diri berusaha mengubah konsep diri agar sesuai dengan perilaku sehingga menghasilkan label diri sebagai diri yang pemalu, depresif, pemabuk, mudah tersinggung, dan sebagainya.

Hasil penelitian Edy Suhardono (2008) pada data para klien IISA Assessment Centre menunjukkan, tingginya tingkat kendala diri seseorang berkorelasi dengan rendahnya tingkat kecerdasan intrapersonal, yakni kecerdasan yang bertanggung jawab terhadap kapabilitas pembuatan keputusan, daya determinasi diri, kesadaran/refleksi diri, dan daya intuisi. Adapun kecerdasan intrapersonal yang rendah berhubungan dengan pengalaman penolakan (unwantedness) yang dialami janin pada masa perkembangan prenatal (dalam kandungan).

Apakah Anda punya kecenderungan menunda penyelesaian suatu tugas yang sudah sekian lama Anda rencanakan, punya pola emosi yang cenderung moody, sering takut mengambil risiko, dan sering berada dalam konflik kepentingan? Anda cenderung bersikap kaku ketika menempuh cara penyelesaian, lemah dalam manajemen waktu, dan menghindari rincinya informasi? Anda lemah dalam daya determinasi diri, cenderung takut dipersalahkan, dan gampang meremehkan suatu urusan?

Kenali kendala diri Anda lewat sejarah prenatal Anda. Dengan mengenali, Anda lebih mudah mengendalikan dan melakukan terapi untuk diri Anda sendiri.

*) Penulis adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, November 2009.

Telah di baca sebanyak: 1939
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *