Kolom Bersama

Kepentingan

Oleh: Radinal Mukhtar

Seorang sahabat pernah menuturkan sebuah kisah menarik mengenai kehidupan seorang tukang sampah dan gerobaknya di sebuah kota mega metropolitan. Dikisahkan bahwa di sebuah gang buntu di sebuah komplek perumahan mewah, hiduplah seorang tukang sampah yang bertugas mengumpulkan sampah-sampah warga gang kecil dan buntu tersebut. Awalnya, semua warga senang dengan kehadiran tukang sampah tersebut. Selain ramah, tukang sampah tersebut juga tidak pernah meninggalkan tempat sampah warga dalam keadaan berantakan. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh walaupun, menurut laporan warga sekitar, ia sering menerima gaji dari ketua rukun tetangga (RT) tidak sesuai dengan perjanjian awal, baik menyangkut jumlah gaji ataupun mengenai waktu pemberian.

Namun, setelah jumlah warga bertambah banyak dan tentunya berpengaruh terhadap sampah yang ada di sekitar warga tersebut, permasalahan pun bermunculan. Kehadiran tukang sampah menimpulkan pro dan kontra.

Kaum Bapak melakukan protes terhadap ketua RT. Mereka mengeluhkan kedatangan tukang sampah pada pagi hari di saat mereka sedang bersiap-siap pergi ke kantor. Bau busuk dan pemandangan tak mengenakkan mata ketika akan berangkat kerja, menurut keluhan kaum Bapak, sering mengurangi semangat kerja mereka. Mereka meminta agar tukang sampah tersebut diberhentikan.

Dengan tenang ketua RT menjawab, “Tidak mungkin kita memberhentikan tukang sampah itu. Siapa yang akan memungut sampah di lingkungan ini. Toh, bapak-bapak semua tidak mempunyai waktu untuk bergotong royong setiap minggu akibat aktivitas masing-masing! Kita cari solusi yang lain saja. Jangan memecat tukang sampah tersebut!”

Setelah berpikir lama, akhirnya Bapak-bapak memaklumi kehadiran tukang sampah tersebut. Namun, mereka tetap memikirkan agar kehadiran tukang sampah tersebut tidak di waktu mereka berangkat kerja. Walhasil, diputuskanlah, kehadiran tukang sampah tersebut dipindah di siang hari agar kaum Bapak semangat menjalani aktivitasnya masing-masing.

Terbukti! Bapak-bapak yang tinggal di lingkungan tersebut bekerja dengan baik. Tidak ada lagi keluhan dalam beberapa hari setelah perbincangan dengan ketua RT.

Namun, tidak demikian dengan Ibu-ibu komplek. Setelah saling mengetahui keluhan bersama, salah seorang ibu komplek mendatangi ketua RT sebagai perwakilan. Kaum Ibu terganggu akibat kehadiran tukang sampah tersebut. Bau busuk dan pemandangan kotor dari gerobak sampah mengganggu aktivitas gosip para ibu. Mereka meminta agar waktu kedatangan si tukang sampah diubah menjadi sore hari … dan ketua RT pun menyetujuinya.

Selang beberapa hari setelah pergantian waktu tugas tukang sampah, anak-anak komplek perumahan tersebut mengeluh kepada ibu bapaknya. Mereka terganggu ketika bermain bola di jalan akibat gerobak sampah. Hanya bermain bola di jalan yang bisa mereka lakukan mengingat tidak ada lapangan, dan permainan ini harus diganggu oleh aktivitas tukang sampah dan gerobaknya. Keluhan tersebut kembali disampaikan kepada ketua RT.

Setelah merundingkan dengan semua warga beserta kepentingan masing-masing, ketua RT akhirnya menyuruh tukang sampah tersebut untuk mengambil sampah pada malam hari ketika seluruh warga tertidur. Ini untuk kemaslahatan seluruh warga. Dan, dengan senyuman tukang sampah tersebut pun menyetujuinya.

Seluruh warga akhirnya dapat menjalani aktivitas masing-masing dengan nyaman. Tidak ada sampah di jalanan. Begitu juga dengan bau sampah yang biasanya tercium dari radius beberapa meter.

Hingga suatu pagi nan cerah, warga mencium bau sampah kembali. Terlihat di ujung gang, gerobak sampah terletak begitu saja. Warga mendekati gerobak tersebut ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Terlihat, tukang sampah tersebut terkulai berdarah akibat dipukuli pemuda komplek yang bermain gitar di malam hari.

***

Dalam menjalani kehidupan, manusia sering sekali diganggu oleh peristiwa-peristiwa sebagaimana cerita di atas. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang perlu untuk kita cermati bersama. Ternyata, kepentingan diri sendiri sering mengalahkan kepentingan bersama.

Lihatlah kaum bapak yang ingin nyaman, akhirnya mengorbankan kaum ibu. Kaum ibu mengorbankan anak-anak. Anak-anak mengorbankan pemuda. Dan pemuda mengorbankan tukang sampah dan gerobaknya. Cerita di atas sungguh menjadi pelajaran berharga bagi kita.

Berbicara kepentingan, seseorang sering berhadapan dengan sebuah dilematika tersendiri. Bila memihak kepada A ia akan diprotes oleh B. Sebaliknya bila memihak B ia akan dicerca oleh A.

Sering kita mendengar sebuah kisah anak dan bapak serta seekor keledai.

Dalam sebuah perjalanan, karena kasih dan sayang, ayah menaikkan anaknya ke pundak seekor keledai. Setelah berjalan, mereka berdua bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa sang anak tersebut tidak memiliki akhlak karena membiarkan sang ayah berjalan sementara ia duduk manis menikmati perjalanan.

Karena merasa tersinggung dan malu, sang anak akhirnya turun dan mempersilahkan ayah untuk menaiki keledai. Beberapa meter kemudian, seorang pejalan yang menemui mereka beranggapan bahwa ayah anak tersebutlah yang tidak tahu diri dengan membiarkan anak semata wayangnya berjalan.

Akhirnya, mereka berdua menaiki keledai tersebut hingga banyak pejalan kaki yang mengatakan bahwa mereka berdua tidak mempunyai prikehewanan. Keledai yang kecil lagi kurus mereka naiki berdua. Alangkah kejam dan tidak bermoral.

Mereka berdua turun, hingga ada yang mengatakan bahwa mereka berdua adalah orang yang bodoh yang memiliki fasilitas namun tidak mempergunakannya. Begitu selanjutnya, selalu ada protes terhadap sebuah pekerjaan, tergantung pada kepentingan masing-masing pihak.

***

Berbicara kepentingan, sekali lagi membutuhkan pemikiran yang matang. Janganlah sampai kepentingan diri sendiri mengalahkan kepentingan orang banyak. Kepentingan pihak A mengalahkan kepentingan pihak B. dan begitu selanjutnya. Ini semua tidak lain karena kepentingan sangatlah erat kaitannya dengan kebersamaan.

Untuk itulah, kerelaan hati dari satu pihak serta keterbukaan pikiran merupakan hal yang penting untuk merealisasikan kepentingan bersama. Kita tentu masih ingat mengenai kekisruhan yang menimpa salah satu blok koalisi partai pada pemilihan presiden (PILPRES) tahun ini. Walaupun mereka memiliki kepentingan bersama, karena komunikasi yang kurang dan saling tidak rela dan terbuka, kekisruhan kecil akhirnya bermunculan.

Jangan biarkan kekisruhan mengenai kepentingan orang banyak kembali mencuat hanya karena kepentingan diri kita sendiri yang tidak mewakili kepentingan orang lain. Kebersamaan itu sangat indah bila saling memahami. Mari selamatkan kebersamaan.

* Radinal Mukhtar Harahap. Alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah ini dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1988 di kota Pekan Baru, Riau. Setelah menempuh pendidikan dasar, pindah ke Kota Medan untuk menyelesaikan pendidikan menengah pertama dan atas. Kini, sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) di IAIN Sunan Ampel Surabaya sambil “nyantri di Pesantren kampus tersebut. Dapat dihubungi di email radinal88@gmail.com atau di blog pribadi http://kumpulan-q.blogspot.com. Dapat juga di hubungi di nomor 081331185527

Telah di baca sebanyak: 1014
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *