Kolom Alumni

Keramahan, Obat Mujarab Galaknya Jakarta

Oleh: YB Riyanto

“Panasnya” Jakarta
Sepulang dari kantor di komplek Ruko Cempaka Mas di awal Januari lalu, ketika baru memasuki jalan Letjen Suprapto, saya dikejutkan dengan perkelahian, lebih tepatnya pengeroyokan, antara satu orang yang berbadan cukup tegap melawan empat atau lima orang. Wajah-wajah sangar dan keras mereka mencerminkan kehidupan yang keras pula. Entah apa pemicunya. Yang jelas, tiba-tiba mereka sudah berkelahi persis di depan mobil saya. Pemuda berbadan tegap itu bertubi-tubi mendapat pukulan, jab maupun uppercut ala petinju. Sekalipun dikeroyok, dia tidak menyerah dan membalas pukulan secara asal.

Saya, dan beberapa pengendara motor dan mobil lainnya, hanya bisa terdiam sambil berharap perkelahian cepat usai. Tidak berapa lama ada seorang pengedara motor berbadan tegap turun dari motornya. Masih memakai jaket dan helmnya, ia berusaha melerai. Terlihat dari celana dan sepatunya, kemungkinan ia adalah anggota satuan dari TNI. Baru setelah ada yang berinisiatif melerai, beberapa orang di sekitar berani terlibat untuk mendamaikan pula.

Tidak hanya sekali saya menyaksikan luapan emosi yang tak terbendung seperti ini. Di perempatan Cempaka Mas, atau biasa disebut perempatan Coca-Cola walaupun tidak ada pabrik atau baliho Coca-Cola, pernah sopir taksi dan seorang pengendara motor saling melemparkan pukulan hanya karena kaca spion taksi tersenggol motor. Saling mengumpat tidak cukup untuk meluapkan emosi mereka di siang hari yang terik itu. Seakan pukulan dan tendangan menjadi cara jitu mengumbar emosi dan menyelesaikan permasalahan.

Di lain waktu, hal serupa terjadi di perempatan Senen. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja tiga orang saling pukul. Luapan emosi, walau tidak dengan umpatan atau pukulan, juga sering terjadi di jalan tol, di pintu gerbang tol Cililitan, terutama di pagi hari di jam sibuk. Sudah jelas ada antrian panjang, tapi tetap saja banyak yang nekat serobot kanan kiri. Tak jarang jarak antar mobil hanya dalam hitungan centimeter. Inilah bentuk tak terkontrolnya emosi dan terluap begitu saja.

Jakarta memang panas. Panas cuacanya, panas suasananya. Kalau tidak bisa mengontrol, hati pun bisa ikut panas. Tak terasa kita hidup dalam paradigma “siapa cepat, dia dapat; siapa kuat, dia menang, siapa pintar, dia maju.” Maka tak heran melihat metromini kebut-kebutan mengejar setoran. Atau motor ber-zig-zag diantara mobil dan bus. Atau mobil saling serobot ingin cepat sampai. Paradigma semacam ini semakin menjustifikasi sifat serakah manusia, seperti yang digambarkan oleh Plautus 22 abad yang lalu sebagai homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Sesamanya menjadi teman sejauh itu menguntungkan dirinya, tetapi menjadi musuh yang harus dimangsa jika menjadi halangan untuk meraih keuntungan. Tidak jauh berbeda dengan kehidupan politik, di mana tidak ada perkawanan sejati, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Oase Menyegarkan
“Selamat pagi bos, terima kasih”, sapa Pak Sardjono, penjaga loket tol di pintu tol Gedong, dengan senyum riangnya sambil memberikan tiket dan uang kembalian. Pertama kali mendengar sapaan itu, kaget dan senang bercampur jadi satu. Kaget, ternyata ada secuil keramahan di Jakarta ini. Senang, karena sekalipun hanya secuil, keramahan itu membawa warna tersendiri di pagi hari yang selalu macet itu. Di balik loket yang kecil itu, Pak Sardjono, lelaki berusia sekitar 45 tahun itu, senantiasa menyapa pengguna jalan tol dengan senyum riangnya, entah ada sapaan balik dari pengendara mobil atau tidak.

Selain Pak Sardjono, ada juga Pak Sarip yang senantiasa menyapa dan tersenyum ketika menerima uang tol dan memberikan tiket. Kata terima kasih terucap dengan diiringi senyuman. Berbaju warna biru muda, keramahan Pak Sarip memberi sedikit warna positif bagi Jasa Marga yang banyak dinilai mencari untung besar tanpa memberikan layanan perbaikan jalan yang bermutu. Lihat saja, jalan tol yang mestinya halus mulus, apalagi dengan tarif tol yang selalu naik, di musim hujan ini banyak yang terkelupas dan berlubang, baik di jalan tol Cikampek atau tol Wiyoto Wiyono. Kehangatan sapaan Pak Sarip sedikit melupakan kejengkelan pada Jasa Marga yang kurang berorientasi pelayanan, padahal tarif tol senantiasa merangkak naik.

Karena senang dengan keramahannya, dan sebagai apresiasi, kalau dari jauh sudah kelihatan bahwa yang bertugas adalah Pak Sardjono, saya berusaha mendahului memberi salam, “Pagi Pak Sardjono, terima kasih.” Atau, “Terima kasih Pak Sarip”, ketika yang bertugas adalah Pak Sarip. “Dengan penjaga loket lain biasanya saya hanya mengangguk atau mengucapkan terima kasih seadanya. Karena toh kadang juga tidak ada ekspresi apapun dari para penjaga tol.

Padahal, dari dua sosok tersebut, mestinya saya bisa belajar bersikap ramah tanpa harus memperhatikan reaksi orang lain. Pak Sardjono dan Pak Sarip tidak peduli apakah orang lain membalas keramahan mereka atau acuh diam saja. Baginya, berbuat kebajikan tidak perlu menuntut balasan. Mungkin mereka meyakini, dengan senyuman dan sapaan hangat, hati yang tersapa pun menjadi hangat.

Seandainya sosok macam Pak Sardjono dan Pak Sarip ada banyak, Jakarta akan lebih terasa adem. Panasnya terik matahari dan sumpeknya polusi bisa tersegarkan oleh senyum dan sapaan ramah. Emosi yang tiba-tiba naik gara-gara kaca spion tersenggol motor, bisa teredam oleh sapaan maaf sambil diiringi senyum. Rasa jengkel yang membuncah karena diserobot mobil lain, akan tercairkan oleh keramahan yang diterima dari sekelilingnya.

Senyum, salah satu bentuk keramahan, menjadi suatu oase yang sangat menyegarkan di tengah panasnya Jakarta. Senyum, murah dan mudah dilakukan dimanapun. Senyum, bahasa universal yang bisa menyalurkan energi positif bagi sesama. Mari kita tersenyum ramah pada sesama.

*) YB Riyanto, alumnus Writer Schoolen “Menulis Artikel Menarik batch 14″ ini dapat dihubungi langsung di y.briyanto@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1941
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *