Eni Kusuma

Ketika Putus Asa Dalam Menulis

Mungkin bagi pemula rasa putus asa muncul ketika menemui hambatan dalam memulai menulis. Hambatan yang muncul yaitu kurang percaya diri, takut salah, memvonis diri tidak bisa menulis dan lain-lain. Apa yang akan kita lakukan saat kita putus asa? Teruslah menulis. Kita boleh putus asa tetapi kita tidak boleh berhenti. Seperti halnya nasehat yang mengatakan:”Teruslah berjalan meski kamu dalam keputusasaan.” Tulislah apa yang ada dalam imajinasi, perasaan dan pengetahuan Anda. Meskipun Anda dalam menuliskan itu semua penuh dengan ketakutan akan pendapat orang mengenai ide-ide Anda, takut ditertawakan, takut salah, tidak percaya diri dan sebagainya. Yang penting Anda tulis dulu.Ini hal yang sangat berharga. Sehingga Anda akan lebih mudah dalam melakukan perbaikan-perbaikan seiring dengan bertambahnya pengetahuan Anda. Maka banyak membaca, diskusi dan merenung atau melakukan refleksi diri akan sangat membantu.

Putus asa biasanya bermakna negatif. Putus asa biasanya berhenti dan menyerah dari aktivitas yang membuat kita putus asa. Tetapi bagi saya “putus asa” bermakna positif bahkan sangat dibutuhkan disaat kita tak berdaya mengalahkan hambatan-hambatan di depan kita asalkan dibarengi dengan terus melakukan tindakan. Ada satu lagi nasehat bijak yang mengatakan:”Ketika engkau putus asa, pertolongan akan segera menghampirimu.” Bahkan tak disangka kita akan menemukan jalan keluar atau solusi bagi kesulitan kita dalam menulis disaat kita putus asa, asalkan kita tidak berhenti menulis. Jika putus asa diartikan berhenti, maka berhentilah sampai disini. Jika kita berhenti, kita tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya menulis, bagaimana sulitnya mengalahkan berbagai hambatan menulis, dan kita tidak pernah pula merasakan bagaimana bahagianya ketika kita menemukan jalan keluar atau solusi untuk memperbaiki tuklisan-tulisan kita, bagaimana senangnya tulisan kita dibaca dan dikomentari positif oleh orang lain dan merasakan betapa senangnya keberadaan kita diakui oleh masyarakat luas dengan menulis.

Salah pada saat menulis adalah hak kita. Hak kita untuk berbuat salah. Jika tidak, kita tidak akan pernah tahu apakah itu salah atau benar. Salah dalam hal ini adalah salah dalam memaknai sesuatu sehingga kita dalam mengembangkan ide-ide tersebut dengan pandangan yang keliru. Tetapi ini “keliru” menurut siapa? Menurut kita sendiri, menurut orang lain atau menurut kebanyakan orang? Di sinilah kita dituntut untuk terus belajar agar kita bisa peka dalam memahami sesuatu karena belum tentu sesuatu itu benar atau salah menurut kita sendiri , menurut orang lain atau menurut kebanyakan orang. Sebagai contoh, berpikir positif itu menurut tren atau menurut orang lain dan kebanyakan orang adalah sangat menunjang kesuksesan kita. Sedangkan berpikir negatif sangat merugikan dan menghambat. Tetapi benarkah demikian? Justru berpikir negatif yaitu berpikir hal yang terburuk, akan sangat menguntungkan kita sebagai bentuk pertahanan diri dan antisipasi dari rasa sakit karena kegagalan, agar kita tidak depresi. Jadi, jika salah adalah hak kita, ini berarti juga belajar adalah hak kita. Belajar untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan.

Ada satu contoh lagi agar kita tidak pernah takut melakukan kesalahan dalam menulis. Di sini Anda akan tahu, betapa buku laris pun bisa direvisi yaitu diperbaiki, disempurnakan bahkan dirombak total. Seorang pensiunan Mayor Jendral Angkatan Udara AS, William A. Cohen, Ph.D., menulis buku “The Art of the Leader” yang edisi pertamanya muncul pada tahun 1990. Buku ini banyak mendapat apresiasi. Tetapi ketika ada masukan dari Senator Barry Goldwater, “Kepemimpinan yang hebat selalu didasarkan pada basic honesty”, katanya. “Tanpa itu, Anda tak akan pernah jadi pemimpin.” Terhenyak oleh kata “kejujuran” itu, ia mengubah arah pemikirannya dan merevisi bukunya. Buku direvisi total dan diberi judul baru “The New Art of the Leader”, yang terbit pada September 2000. Di sana, selain berbagai teknik dan strategi luar biasa kepemimpinan, dia kemukakan juga “8 hukum umum bagi kepemimpinan”, di mana integritas (jujur, berwatak baik) menduduki rangking pertama dan utama. Yang lain boleh dibolak-balik urutannya, tetapi integritas ini tidak.

Jika buku yang sudah terlanjur terbit dan terlanjur laris pun masih bisa direvisi ulang maupun direvisi total, apalagi masih berupa tulisan atau naskah? Jadi, sangat disayangkan jika kita berhenti hanya karena takut salah.

So, teruslah menulis!

*) Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 1738
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *