training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Ketika Putus Asa Dalam Menulis

April 13, 2009 by  
Filed under Eni Kusuma

Mungkin bagi pemula rasa putus asa muncul ketika menemui hambatan dalam memulai menulis. Hambatan yang muncul yaitu kurang percaya diri, takut salah, memvonis diri tidak bisa menulis dan lain-lain. Apa yang akan kita lakukan saat kita putus asa? Teruslah menulis. Kita boleh putus asa tetapi kita tidak boleh berhenti. Seperti halnya nasehat yang mengatakan:”Teruslah berjalan meski kamu dalam keputusasaan.” Tulislah apa yang ada dalam imajinasi, perasaan dan pengetahuan Anda. Meskipun Anda dalam menuliskan itu semua penuh dengan ketakutan akan pendapat orang mengenai ide-ide Anda, takut ditertawakan, takut salah, tidak percaya diri dan sebagainya. Yang penting Anda tulis dulu.Ini hal yang sangat berharga. Sehingga Anda akan lebih mudah dalam melakukan perbaikan-perbaikan seiring dengan bertambahnya pengetahuan Anda. Maka banyak membaca, diskusi dan merenung atau melakukan refleksi diri akan sangat membantu.

Putus asa biasanya bermakna negatif. Putus asa biasanya berhenti dan menyerah dari aktivitas yang membuat kita putus asa. Tetapi bagi saya “putus asa” bermakna positif bahkan sangat dibutuhkan disaat kita tak berdaya mengalahkan hambatan-hambatan di depan kita asalkan dibarengi dengan terus melakukan tindakan. Ada satu lagi nasehat bijak yang mengatakan:”Ketika engkau putus asa, pertolongan akan segera menghampirimu.” Bahkan tak disangka kita akan menemukan jalan keluar atau solusi bagi kesulitan kita dalam menulis disaat kita putus asa, asalkan kita tidak berhenti menulis. Jika putus asa diartikan berhenti, maka berhentilah sampai disini. Jika kita berhenti, kita tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya menulis, bagaimana sulitnya mengalahkan berbagai hambatan menulis, dan kita tidak pernah pula merasakan bagaimana bahagianya ketika kita menemukan jalan keluar atau solusi untuk memperbaiki tuklisan-tulisan kita, bagaimana senangnya tulisan kita dibaca dan dikomentari positif oleh orang lain dan merasakan betapa senangnya keberadaan kita diakui oleh masyarakat luas dengan menulis.

Salah pada saat menulis adalah hak kita. Hak kita untuk berbuat salah. Jika tidak, kita tidak akan pernah tahu apakah itu salah atau benar. Salah dalam hal ini adalah salah dalam memaknai sesuatu sehingga kita dalam mengembangkan ide-ide tersebut dengan pandangan yang keliru. Tetapi ini “keliru” menurut siapa? Menurut kita sendiri, menurut orang lain atau menurut kebanyakan orang? Di sinilah kita dituntut untuk terus belajar agar kita bisa peka dalam memahami sesuatu karena belum tentu sesuatu itu benar atau salah menurut kita sendiri , menurut orang lain atau menurut kebanyakan orang. Sebagai contoh, berpikir positif itu menurut tren atau menurut orang lain dan kebanyakan orang adalah sangat menunjang kesuksesan kita. Sedangkan berpikir negatif sangat merugikan dan menghambat. Tetapi benarkah demikian? Justru berpikir negatif yaitu berpikir hal yang terburuk, akan sangat menguntungkan kita sebagai bentuk pertahanan diri dan antisipasi dari rasa sakit karena kegagalan, agar kita tidak depresi. Jadi, jika salah adalah hak kita, ini berarti juga belajar adalah hak kita. Belajar untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan.

Ada satu contoh lagi agar kita tidak pernah takut melakukan kesalahan dalam menulis. Di sini Anda akan tahu, betapa buku laris pun bisa direvisi yaitu diperbaiki, disempurnakan bahkan dirombak total. Seorang pensiunan Mayor Jendral Angkatan Udara AS, William A. Cohen, Ph.D., menulis buku “The Art of the Leader” yang edisi pertamanya muncul pada tahun 1990. Buku ini banyak mendapat apresiasi. Tetapi ketika ada masukan dari Senator Barry Goldwater, “Kepemimpinan yang hebat selalu didasarkan pada basic honesty”, katanya. “Tanpa itu, Anda tak akan pernah jadi pemimpin.” Terhenyak oleh kata “kejujuran” itu, ia mengubah arah pemikirannya dan merevisi bukunya. Buku direvisi total dan diberi judul baru “The New Art of the Leader”, yang terbit pada September 2000. Di sana, selain berbagai teknik dan strategi luar biasa kepemimpinan, dia kemukakan juga “8 hukum umum bagi kepemimpinan”, di mana integritas (jujur, berwatak baik) menduduki rangking pertama dan utama. Yang lain boleh dibolak-balik urutannya, tetapi integritas ini tidak.

Jika buku yang sudah terlanjur terbit dan terlanjur laris pun masih bisa direvisi ulang maupun direvisi total, apalagi masih berupa tulisan atau naskah? Jadi, sangat disayangkan jika kita berhenti hanya karena takut salah.

So, teruslah menulis!

*) Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 13

Random Posts

Rating This Post

Comments

7 Responses to “Ketika Putus Asa Dalam Menulis”

  1. Andre Birowo on April 17th, 2009 10:47 am

    Eni…, ternyata spirit untuk menyemangati dari anda tidak pernah luntur. (ab)

  2. iis on April 19th, 2009 5:01 pm

    saya benar-benar sedang putus asa untuk menulis dan ngurusin blog karena saya merasa ini tidak memberikan apa-apa untuk saya. Saya tau harus pegang prinsip “memberi terlebih dahulu, baru menerima kemudian”. mungkin perlu waktu untuk menjalankan sebuah teori ketika kita sedang putus asa. Semangat!!

  3. nanda on April 21st, 2009 7:54 pm

    Aku gak terlalu maksud dengan kata2 mbak eni,,tapi seorang nanda harus bisa……
    ku coba untuk memahami kata2 mbak,
    ku juga belakangan ini males banget nulis….
    tapi mbak sudah menyadarkan aku untuk menulis….
    trim’s ya mbak…..

  4. Supandi on April 28th, 2009 6:31 pm

    Saya setuju dengan pendapat mba Eni bahwa kita tidak boleh putus asa dalam melakukan apapun termasuk dalam hal menulis. Orang yang putus asa bukan termasuk golonganku” kata Nabi Muhammad Saw. Sukses selalu buat Anda. (Supandi, Kroya Cilacap, Central Java. Hp. 081391274742)

  5. Abu Jundi on May 23rd, 2009 5:54 am

    Tulisan mbak betul-betul realistis dan solutif karena dari TKW ke Penulis buku Best Seller”Anda Luar Biasa”membuktikan bahwa perjuangan mbak Eni adalah bukan teori pragmatis tapi betul-betul pengalaman berharga yang dapat dipetik oleh siapapun yang membaca artikel ini,Lam sukses selalu.

  6. kun on June 2nd, 2009 10:34 pm

    Hidup menulis & berkarya!! Setuju, PD aj dong dengan karya kita sendiri. Kapan lagi kita mulai menulis klo gaksegera mencoba?

    http://hidupyangberuntung.blogspot.com/

  7. yulian pratama on December 13th, 2010 10:34 am

    kenapa ya bu kalau kit a setelah selesai seminar biasanya banyak ide yang di keluarkan untuk menulis ,,tapi kalau udah lama idenya menjadi ilang

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top