Artikel Terbaru

Ketika Trainer Kehabisan Kamus


julia-napitupuluYa Pembaca, sebagai trainer saya pernah mengalaminya. ‘Habis Kamus’ adalah istilah saya pribadi, ketika saya mengalami situasi stuck. Semua teknik yang saya pelajari dari referensi dan lapanganselama ini seperti hilang kesaktiannya. Rasanya frustrasi sekali dan tidak berdaya. Saya tidak mampu memfasilitasi perubahan di kelas pelatihan saya. Anda pernah mengalami situasi ‘habis kamus’ seperti itu?

Waktu itu saya sedang mengajar teknik presentasi untuk kelas Pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah). Tanggung jawab saya adalah membimbing 30 partisipan agar setelah keluar dari kelas saya, mereka menguasai teknik presentasi yang baik dan sebagai hasilnya mampu menjual dengan lebih efektif. Meskipun rata-rata mereka tidak biasa bicara di depan orang, tapi karena semangat belajarnya luar biasa, pertumbuhan skills mereka mengalami progres dari jam ke jam. Kecuali seorang peserta yang bernama Ratna. Skillsnya mandek saja di atas kertas.

Ratna adalah seorang ibu muda, single parent. Sejak suaminya berpulang karena kecelakaan mobil beberapa tahun lalu, ia menggiatkan usahanya menjual camilan berbahan dasar umbi ke sekolah anaknya, warung, tetangga kompleks, ke mana saja yang mungkin ia jangkau.

Buah pikirannya tajam. Ia mampu menganalisa motif target audiensnya dengan spesifik. Ratna sangat lincah saat menghubungkan kekuatan produknya dengan apa yang terpenting bagi target audiensnya. Semua key pointsnya tajam. Ia bahkan bisa menyumbangkan ide ice breaking, opening dan closing yang unik kepada kelompok presentan lain. Di atas kertas, kerangka presentasi Ratna sempurna bagai sebuah jalinan cerita. Tak ada celah. Begitu saya tantang dengan mengubah komposisi audiensnya, dia langsung bisa menyesuaikan kerangka presentasinya menjadi puzzle yang utuh kembali. Tapi sekali lagi, ini adalah konsep di atas kertas. Hingga titik ini, saya happy dengan progresnya.

Problem utama Ratna mulai terasa ketika sesi menginjak teknik mengelola demam panggung. Saya berkeyakinan jika seorang presentan telah menguasai materi presentasi dan karakter audiensnya, maka 85% demam panggungnya telah teratasi. Yang penting kerangka presentasinya kuat dan jelas. Sisanya hanya tinggal melatih otot percaya diri kita dengan teknik-teknik relaksasi, warming up, latihan di depan kaca berkali-kali khususnya bagian opening. Begitu 15 detik dari sesi opening berhasil membuat audiens terpaku di tempat duduknya, proses berikutnya akan jauh lebih mudah.

Tapi Ratna memang merupakan ujian tersendiri bagi saya. Saya mengerahkan semua energi untuk mendorong keberaniannya, tapi begitu mulutnya membuka satu kata, dia langsung permisi ke belakang. Partisipan lain sampai merasa iba dan terus-menerus memberikan support. Akhirnya dia berani menyelesaikan hingga dua kalimat, setelah itu menangis di depan kelas. Menginjak kesempatan simulasi ke-3, lututnya belum apa-apa sudah lemas disertai serangan mau muntah. Saya coba gali ada pengalaman buruk apa. Ratna bercerita waktu masih bekerja full timer di kantor, ia pernah dikritik habis-habisan oleh atasannya sendiri di depan klien saat ia tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan klien. Kredibilitas yang selama ini dibangun langsung runtuh dan sejak saat itu ia dilepaskan tanggung jawabnya dari klien-klien kunci. Ratna merasa diperlakukan dengan tidak fair dan kepercayaan dirinya sebagai presentan terganggu sejak saat itu. Saya sungguh memahami traumanya yang berat, tapi saya tetap penasaran. Masak sih kita tidak bisa bangkit lagi?

Waktu saya dan Ratna hanya tinggal 1 sesi. Hanya Ratna yang belum berhasil menyelesaikan simulasi presentasinya. Ratna sudah keringat dingin. Apalagi saya. Saya sungguh tidak bisa happy meskipun 29 partisipan yang lain sudah bisa saya ‘lepas’. Bagaimana saya bisa menyebut diri saya seorang trainer kalau ada partisipan yang justru makin trauma setelah keluar dari kelas saya?

Akhirnya saya ajak Ratna ngobrol lagi, saya ingin berbagi perasaan saja. Lalu tiba-tiba saya menyadari bahwa ini semua bukan mengenai saya, tapi mengenai Ratna. Ratna belum menemukan esensi dirinya.
Saya tanya dia: “Ratna, mari kita lupakan saja mengenai presentasi. Saya ingin tahu, sebenarnya untuk siapa kamu berjuang gotong-gotong daganganmu ke mana-mana dari pagi sampai malam?”
Dia langsung menjawab: “Untuk anak-anakku, Bu. Mereka hanya punya saya.”
Jawaban ini mengosongkan kepala saya yang keruh. Motif apalagi yang lebih kuat daripada cinta seorang ibu kepada anak-anaknya?
Lalu saya katakan: “Kalau begitu, lakukan presentasi itu demi anak-anakmu. Meskipun mereka tidak ada di ruangan itu, bayangkan kehadiran mereka di hati dan pikiranmu.”

Lalu, Anda tahu, Pembaca? Magic happens.

15 menit kemudian, Ratna, tanpa cue cards, tanpa slide, tanpa apapun, hanya dia dan spirit barunya, melakukan presentasi dengan begitu indahnya. Ratna seperti sudah berkali-kali melatih sesi presentasinya. Menakjubkan! Ratnatampil sangat rileks, bersinar dan penuh cinta kepada profesinya. Ia berhasil menyentuh semua hati audiens dengan alami.

Hari itu adalah hari pelajaran berharga tidak saja bagi Ratna, tapi juga bagi saya. Situasi stuck yang saya namakan ‘habis kamus’ sesungguhnya bukan situasi yang mandek. Tapi sebuah proses menemukan esensi diri. Proses ini mungkin terasa sangat lambat karena berupa perjalanan yang masuk ke lorong-lorong diri. Namun begitu jawaban atas proses ini sudah kita temukan, perjalanan kita akan melejit kembali dengan cepat.

Dalam ilmu presentasi, adalah benar untuk membimbing seorang presentan mendalami apa yang berharga bagi target audiensnya, sebab bila tidak, bagaimana ia mampu membangun hubungan yang klik dengan mereka? Bagaimana ia bisa meniti jembatan untuk mempersuasi mereka? Bagaimana ia mampu memilah pesan yang benar-benar menyentuh motif mereka? Mustahil.

Tapi terkadang kegagalan kita sebagai Pembawa Pesan dalam lapangan kehidupan yang luas, bukan bersumber dari kegagalan dalam mengenali target pesan kita, namun karena kita sendiri mungkin belum menemukan esensi diri dengan utuh. Dalam pribadi Ratna, bahan dasar terbesar dari esensinya adalah motifnya, yaitu alasan-alasan terpenting yang mendorong/memotivasinya melakukan sesuatu. Bagi Anda dan saya mungkin juga sama atau berbeda. Intinya, begitu kita menemukan esensi diri, kita akan menjadi daya penggerak berkekuatan besar bagi pesan yang kita sampaikan.

Di akhir sesi, Ratna berhasil tampil sebagai esensi yang utuh, setelah menemukan sumber motivasinya yang paling kuat. Motivasi yang lebih besar daripada presentasi itu sendiri, yaitu kecintaannya kepada anak-anaknya. Dengan segera, tiba-tiba presentasi itu menjadi sebuah urusan yang ‘kecil’ bagi Ratna.

Always find your essence, first.

Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih, Ratna.

November, 2013

Julia Napitupulu,
(Trainer, Psikolog & MC).


* Ikuti workshop “Presenting and WIN” bersama Julia Napitupulu tanggal 20-21 November 2013.
Info lengkap Klik  www.trainer-school.com


Telah di baca sebanyak: 2539
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *