Kolom Bersama

Keyakinan Itu Berjenjang

Oleh: Ade Asep Syarifuddin

SEORANG sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi swasta mengikuti sebuah training. Entah apa yang diberikan di dalam training tersebut sampai-sampai ketika selesai dia memiliki keyakinan yang sangat tinggi. Dia bilang, sekarang dirinya bisa melakukan apapun yang dia mau. Terlihat tatapan matanya antusias, penuh semangat dan sangat enerjik.

Sebulan kemudian saya bertemu lagi dengan sarjana tadi. Penampilannya jauh berbeda dengan satu bulan yang lalu. Dulu dia sangat semangat, percaya diri dan memiliki keyakinan yang kuat. Tetapi sekarang malah terlihat mengenaskan. Saya coba tanya dia dengan bahasa sederhana, “Apa yang telah terjadi?” Dengan pelan dia mengatakan, semua keyakinannya tidak terwujud karena dia memasang targat terlalu tinggi daripada kemampuan yang dimilikinya.

Ya betul sekali…. keyakinan itu tidak bisa datang dalam waktu sekejap. Butuh waktu dan proses yang cukup lama. Jika keyakinan itu datang dengan cepat, maka hilangnya juga dalam waktu yang cepat pula. Kita tidak bisa memaksakan diri kita meyakini sesuatu secara instant. Pikiran bekerja sangat lembut, tidak bisa dipaksa. Demikian halnya dengan keyakinan yang kita miliki, sangat berjenjang, tidak bisa datang begitu saja.

Mengapa berjenjang? Keyakinan itu ibarat sebuah bangunan. Ada fondasi, ada dinding, ada besi bertulang, baru atapnya bisa berdiri kokoh. Tidak mungkin sebuah gedung langsung bisa dipasang atap tanpa fondasi-fondasi tadi. Demikian halnya dengan keyakinan. Keyakinan tidak bisa datang begitu saja hanya dengan bisikan seseorang.

Bagaimana keyakinan bisa dibangun? Banyak hal yang bisa menumbuhkan keyakinan. Mulai dari sugesti dari teman-teman, melihat kesuksesan orang lain yang menurut kacamata umum dia tidak bisa tapi ternyata bisa. Contoh dari kalimat terakhir adalah Hellen Keller. Hellen adalah penderita tuna rungu dan tuna netra, tapi dia sanggup menggondol gelarPhD (Philosophy of Doctor), gelar akademik tertinggi yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang, termasuk orang yang normal secara panca indera.

Bisa juga dari dengan cara menulis kisah-kisah sukses kecil yang pernah kita raih. Anda pernah menjadi ketua kelas? Ya tulislah dalam daftar kisah sukses kepemimpinan Anda; pernah menjadi ketua kelas, ketua OSIS, ketu remaja masjid, ketua BEM di perguruan tinggi dll. Jangan lupa, catat pula torehan prestasi ketika memimpin lembaga-lembaga tadi dari level sederhana sampai level yang paling tinggi.

Dalam prestasi lain apakah Anda pernah meraih juara? Waktu kecil di TK dulu pernah juara mewarnai, di SD juara atletik, lomba menyanyi, lomba baca puisi, di SMP juara lomba pidato, di SMA juara lomba karya tulis, di perguruan tinggi juara debat, dan juara juara yang lainnya. Apakah ini penting? Ya sangat penting, sangat penting untuk menunjukkan bahwa kita memang berprestasi dalam berbagai bidang. Itulah fondasi-fondasi kesuksesan yang bisa mendukung kesuksesan di masa mendatang.

Apakah itu berlaku sebaliknya? Pengalaman buruk masa lalu bisa mengganggu prestasi di masa depan? Ya…. betul. Seseorang yang mengalami pengalaman buruk di masa kecil sangat berpengaruh kelak ketika dewasa. Ada di antara Anda yang benci Matematika? Benci melukis? Dalam sebuah cerita ada seseorang yang sudah cukup dewasa sangat membenci melukis. Setelah ditelusuri ternyata waktu SD dia dimarahi gurunya yang menyuruh melukis seekor gajah, tapi setelah dilukis malah lukisan tersebut sama sekali tidak seperti gajah. Gurunya dengan lantang mengatakan, “Kamu bodoh, tidak bisa melukis, masa gambar gajah seperti ini.”

Tidak berhenti sampai di situ, teman-temannya juga meledek. “Masa gambar gajah seperti itu, itu kan kambing bengkak.” Di rumahnya juga sama, dia ngadu ke ibunya. Ibunya tidak memperhatikan psikologis anak berkata, “Iya lah nak. Ini bukan gambar gajah. Kamu kok kalau melukis goblok amat sih.” Kakak dan ayahnya yang diharapkan bisa mendukung mengatakan hal yang sama sinisnya. Hancurlah sudah keyakinan dirinya dalam kemampuan melukis dan setelah dewasa ia sangat membenci melukis.

Milikilah buku harian kecil yang mencatat prestasi-prestasi kecil tadi. Setiap goresan prestasi merupakan susunan keyakinan. Suatu saat sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri. Orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi biasanya berpengaruh pada citra diri yang positif dan harga dirinya pun tinggi. Sebaliknya yang memiliki kepercayaan diri yang rendah, citra dirinya pun negatif.

Dalam kasus yang lain, kita bisa menguji keyakinan kita dalam berbagai macam hal mulai dari persoalan sederhana sampai pada persoalan yang rumit. Contohnya dalam keuangan, seseorang yang memiliki pendapatan Rp 1 juta per bulan ingin meningkatkan pendapatan. Berapakah keyakinan logis yang bisa diterima oleh akal sehat dan perasaannya? Menurut pengamatan sederhana, kenaikan pendapatan seseorang yang masih dalam kisaran keyakinannya adalah sekitar 20%. Jadi, orang yang berpenghasilan Rp 1 juta, kalau ingin menambahkan pendapatan, cobalah di level Rp 200.000 penambahannya.

Setelah tercapai angka tadi, cobalah naikkan kembali di level 20% dari pendapatan terakhir. Demikian halnya secara berturut-turut. Cara ini jauh lebih aman ketimbang dilakukan dengan cara yang ekstrem. Misalnya saja, dari pendapatan Rp 1 juta, dia ingin menambah Rp 2 juta atau Rp 3 juta. Sah-sah saja keinginan seperti itu, tapi apakah logika pikiran bisa mengijinkan. Apakah perasaan kita nyaman dengan angka tersebut? Andalah sebenarnya yang bisa menjawab secara pasti tentang bisa dan tidak bisanya sesuatu bisa terjadi.

Di sisi lain keyakinan seseorang yang sudah mengalami proses jelas berbeda dengan seseorang yang baru memulai belajar tentang keyakinan akan dirinya. Contoh, seseorang yang sudah memiliki pendapatan Rp 10 juta per bulan akan sangat mudah menaikkan angka Rp 2 juta di bulan berikutnya. Tapi kalau seseorang yang memiliki pendapatan Rp 1 juta, sangat kecil keyakinan bisa memiliki pendapatan Rp 2 juta di bulan berikutnya.

Akhirnya, lebih baik kita memiliki keyakinan yang bertahap tapi pasti setiap waktu meningkat. Ketimbang kita memiliki keyakinan yang tinggi atau istilah lainnya over confidence tapi ternyata tidak bertahan lama. Manusia itu makhluk yang taat pada hukum proses. Jangan dilampaui hukum proses tadi, kalau kita coba-coba mengambil jalan pintas, akibatnya bakal ditanggung sendiri. Sukses selalu buat Anda. (*)

*) Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bia dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.bllgospot.com

Telah di baca sebanyak: 1060
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *