Kolom Alumni

Kiat Cerdas Buat Calon Koruptor


Banyak orang pada akhirnya berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahkan hingga masuk bui. Seorang wanita cantik dituntun ke meja hijau, sementara di punggung baju seragamnya tertulis ‘Tahanan’. Wibawanya turun. Harga dirinya tercabik-cabik. Dan banyak lagi peristiwa memilukan dan memalukan. Semua itu merupakan imbas dari perbuatannya. Mengapa hal tersebut sampai menimpa dirinya? Hal ini dikarenakan kurang rapinya trik yang mereka ambil dalam melakukan skenario kejahatannya. Ada juga yang disebabkan karena jumlah yang dikorupsi sangat sigfikan, sehingga ada pihak tertentu yang usil lalu membeberkan ke pihak terkait, sehingga mempermudah aparat untuk menangkapnya.

Ada juga koruptor yang melenggang tanpa tercium oleh KPK. Kelompok koruptor yang berhasil lolos dari jerat hukum kemungkinan besar karena pengalaman yang mereka miliki dan kerapihan dalam bertindak. Mereka bisa ber-kong kalikong dengan pihak tertentu, atau melakukan praktek “tutup mulut” kepada oknum yang dianggap mengancam kelenggangannya. Mereka bisa menikmati kemewahan walau dengan jalan pintas. Tidak heran jika kesenangan dunia secara silih berganti akan mereka dapatkan sesuai dengan yang diinginkannya. Mereka bisa dengan mudah menjalani hidup bergaya hedonisme; pakaian bagus, perhiasan bergelantungan di bagian-bagian tubuh yang bisa dilihat orang. Hidup terasa sangat indah, dihormati oleh orang lain karena kemewahannya, walaupun hati nuraninya meronta-ronta.
Gaya hidup hedonisme sangat didambakan oleh sebagian besar orang, apalagi jika fasilitasnya diperoleh dengan cara-cara yang praktis. Dibutuhkan kecerdasan khusus untuk memeroleh tamsil (tambahan penghasilan) dengan cara korupsi. Seorang koruptor yang belum professional barangkali perlu memelajari cara-cara yang lebih cerdas. Mereka bisa mengintip dari para koruptor ahli; cara dan strateginya, sehingga bisa terbebas dari jerat hukum, bisa menikmati kemewahan dengan aman.

Diatas langit masih ada langit. Kalimat bijak tersebut bisa dijadikan pijakan untuk menentukan langkah cerdas. Seorang calon koruptor sebelum melakukan tindakannya hendaknya berkaca kepada koruptor yang lebih cerdas. Maaf, saya menyebutnya ‘calon koruptor’ karena pada dasarnya setiap orang berpotensi untuk itu, baik dalam skala yang besar ataupun kecil, yakni berupa potensi yang terkubur. Hal ini didasarkan pada unsur nafsu yang kita miliki.
Seorang koruptor yang lepas dari jerat hukum setidaknya memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada mereka yang tertangkap oleh KPK. Mereka licin seperti belut. Namun perlu diakui bahwa kita sesungguhnya bisa bersikap yang lebih cerdas dari para koruptor yang cerdas. Diatas langit masih ada langit. Diatas seorang koruptor yang cerdas masih ada diri kita. Kita harus lebih cerdas daripada mereka.

Ada sebuah konsep yang bisa kita pedomani untuk menuju pada level the most intelligent (yang paling cerdas). Konsep tersebut disebut konsep rasionalistik. Konsep rasionalistik dalam hal korupsi lebih menitikberatkan pada aspek the ending life. Konsep rasionalistik meyakini betul bahwa sesungguhnya tidak ada satupun koruptor yang selamat. Hal ini didasarkan pada bukti kongkrit bahwa tidak ada satupun koruptor yang menjalani sisa hidupnya dengan happy ending.
KPK hanyalah sarana untuk mempercepat tagihan sehingga kerugian negara dapat diminimalisir. Namun tidak berarti bahwa lolos dari KPK seorang koruptor bebas melenggang. Sebaliknya, mereka akan menjalani sisa hidupnya dengan unhappy ending; kehilangan harta benda, terserang penyakit ganas, dan lain-lain. Orang yang menempatkan dirinya pada level the most intelligent tidak mau menghancurkan kehidupannya tetapi akan senantiasa berupaya keras meraih kehidupan terbaik.
Seorang ‘the most intelligent’ akan memiliki sikap yang lebih cerdas. Mereka berprinsip “hidup hanya sekali, maka jangan dihancurkan. Hidup hanya sekali, namun yang sekali itu sudah cukup, tidak membutuhkan dispensasi berupa pengulangan hidup atau tambahan umur. Bersikap paling cerdas tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga menguntungkan keluarga, anak, cucu, masyarakat, dan dalam skala yang lebih besar akan menyelamatkan keuangan negara. Kita harus memiliki internal control yang handal. Disamping itu kita juga harus mempunyai landasan ilmiah untuk menjadi ‘the most intelligent’.
Landasan ilmiah yang melatarbelakangi pemahaman tentang pentingnya menahan diri dari tindak korupsi antara lain :
1. Prinsip orang Jawa “Sapa nandur bakal ngundhuh”, artinya, barangsiapa yang berbuat pasti akan menanggung akibatnya.
2. Hukum Kekekalan Energi dalam kehidupan. Berdasarkan prinsip alam, jumlah energi di dunia ini tidak akan bertambah maupun berkurang. Seseorang yang melakukan korupsi berarti ia terlibat dalam proses pengumpulan energi negatif. Jumlah energi yang ia kumpulkan tidak akan hilang, melainkan akan berubah bentuk. Dengan demikian, tagihan atau pencairan dari energi yang telah ia tabung akan terjadi sebelum ia mati. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa hukuman bagi para koruptor akan mereka terima kontan di dunia.
3. Sabda nabi Muhammad Saw yang berbunyi “Ada dua dosa yang Allah Swt tidak akan menangguhkan azabnya di dunia, yaitu durhaka kepada kedua orang tua dan berbuat dzalim kepada sesama. (HR. Bukhori – Muslim). Berdasarkan hadist tersebut jelas bahwa seseorang yang dzalim (dzalim kepada masyarakat/Negara), maka ada dua hukuman yang ia terima; yakni langsung di dunia dan kelak di akhirat.

Menjadi orang yang paling cerdas dalam kontek ini berarti menjalani hidup diatas alur nurani yang mengarah pada kebahagiaan. Setiap manusia mempunyai nurani. Nurani manusia selalu berpihak kepada kebenaran sehingga ketika seseorang melakukan perbuatan yang menyimpang dari nurani maka akan muncul kegelisahan. Nurani akan merasa nyaman ketika segala laku manusia berada pada jalur yang benar.

* Supandi, S.Pd. MM di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.


Telah di baca sebanyak: 2782
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *