Kiat Menang Debat

Anda sering ketemu atau dipojokkan dengan data yang memporakporandakan pandangan Anda? Jangan mudah menyerah bertekuk lutut di bawah argumentasi. Ada dua hal yang sekurang-kurangnya bisa Anda lakukan: menggangsir fondasinya dari bawah, atau memenggalnya dari atas.

Ketika masih menjadi pecandu rokok, saya beralih dari Gudang Garam Merah ke beberapa rokok sampai akhirnya puas menemukan rokok yang benar-benar menjadi kesukaan saya: Ji Sam Soe Premium yang merupakan sortiran kelas wahid dan setiap batangnya dikemas dengan tabung plastik transparan [kini saya tak lihat lagi versi itu dan diganti dengan kemasan kertas grenjeng setiap batangnya]. Pada saat itu, berkali-kali orang menasihati saya untuk berhenti merokok. Mereka berusaha meyakinkan saya antara lain dengan menyebutkan hasil penelitian bahwa setiap batang rokok meningkatkan kemungkinan kena kanker paru-paru dan mengurangi hidup kita 5 menit.

Ada dua alasan kenapa argumentasi seperti itu saya abaikan. Pertama alasan emosional. Bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang, argumentasi itu tak punya sentuhan emosi. Kita biasanya baru tersentuh secara emosional dan kemudian mau berubah untuk meninggalkan rokok ketika memang sudah terkena asma atau kanker paru-paru, atau merasakan derita orang yang kita cintai kena kanker ganas itu. Inilah keajaiban manusia: sering kali sesuatu belum akan disikapi dengan semestinya ketika akibat buruk dari sesuatu itu belum begitu dekat di depan hidung, atau mengenainya.

Alasan kedua adalah alasan rasional. Pendeknya: untuk saya yang pecandu rokok, mudah sekali menemukan bahwa secara rasional pun argumentasi itu tidak meyakinkan, atau memang saya buat tidak meyakinkan [karena saya memang belum mau meninggalkan kenyamanan rokok itu].

Kalau ada orang yang menakut-nakuti saya dengan pernyataan “setiap batang rokok mengurangi umur kita 5 menit”, saya tumbangkan argumentasi itu dengan dua cara. Cara pertama, menggangsir fondasi argumen dari bawah. Dengan kata lain, menyelam di kedalaman pra-andaian argumentasi, untuk menunjukkan bahwa kalaupun benar data itu, penerapannya terbatas hanya pada kasus yang menjadi sampel penelitiannya.

Mudah sekali menempuh jalan ini. Hampir semua kesimpulan hasil penelitian dengan rumus seperti di atas memiliki keterbatasan. Misalnya, keterbatasn sampel, keterbatasan konteks di mana sampel diambil. Dalam hal penelitian mengenai rokok, sampelnya adalah orang, dan orang itu unik. Setiap orang punya konteks, kebiasaan, dan mindset tertentu yang semuanya menentukan banyak hal, termasuk kesehatan. Jadi, ada keterbatasan kebiasaan dan mindset yang kebetulan dimiliki oleh sampel. Karena itu, kesimpulan riset seperti itu selalu dikemukakan dengan mengandaikan adanya sesutu yang diterima. Apa yang diandaikan? Anda semua begitu akrab mengenai istilahnya kalau pernah belajar ekonomi. Hukum-hukum ekonomi selalu dinyatakan dengan ceteris paribus, yang secara harfiah berarti “dengan yang lain-lain [diandaikan] sama.” Misalnya, “Kalau produksi turun, harga naik, ceteris paribus.” Artinya, kalau produksi turun, berarti barangnya berkurang dari biasanya, maka harganya naik, kalau yang lain-lain sama. Sesungguhnya, pengandaian ceteris paribus ini bukan hanya berlaku dalam ilmu ekonomi, tapi dalam semua ilmu sosial dan buaanyak sekali konteks.

Karena itu, ketika Anda ditakut-takuti dengan “setiap batang rokok mengurangi umur kita 5 menit”, sesungguhnya ada potongan kalimat yang tidak diucapkan. Kalau diucapkan, bunyi lengkapnya kira-kira: “Ada penelitian terhadap sejumlah sampel, dan dari sampel itu ada kesimpulan bahwa setiap batang rokok mengurangi 5 menit dari hidup para sampel tersebut. Konsekuensinya, kalau Anda juga merokok, setiap batang rokok kemungkinan besar akan mengurangi hidup Anda sebanyak 5 menit, dengan pengandaian bahwa yang lain-lain yang menjadi konteks dan berlaku pada sampel itu juga persis menjadi konteks dan berlaku pada Anda.”

Nah, langsung kelihatan bolongnya. Pertama, seberapa besar pun “kemungkinan besar itu” bisa saja itu tidak terjadi pada Anda. Kedua, mana mungkin Anda sama persis dalam segala hal dengan semua sampel itu? Pola pikir dan keyakinan-keyakinan Anda, baik yang bersifat religius maupun yang tidak, jelas tidak sama. Konteks hidup dan kebiasaan Anda barangkali juga tidak sama persis. Banyak hal lain lagi yang jelas tidak sama. Dengan kata lain, Anda berada dalam konteks ceteris [hal-hal lain] yang jelas-jelas non paribus [tidak sama]. Karena itu, sah sekali kalau Anda bilang, “Kalaupun riset itu benar, itu tidak akan atau tidak harus berlaku persis bagi saya!”

Cara kedua menang debat adalah dengan terbang mengatasi argumentasi untuk menumbangkannya. Mari kita lihat caranya.

Kalau ada yang mengajukan argumentasi seperti di atas, saya mengiyakan.

“Entah benar, entah salah risert itu, saya setuju denganmu. Ngrokok itu buruk dan mungkin saja meningkatkan kemungkinan kena kanker dan mengurangi umur kita 5 menit setiap batangnya” kata saya.

“Lho, kalo gitu, kenapa kamu tetap klepas klepus ngebul kayak knalpot?!”

“Yang tak kamu tahu” sahut saya, “adalah adanya riset lain yang mengatakan bahwa setiap kali kamu puas dan bahagia melakukan sesuatu, kamu tambah umur 8 menit! Karena itulah aku serius jadi perokok, mengambil rokok kretek yang paling top dan paling enak, sehingga waktu ngrokok aku benar-benar puas dan bahagia. Umurku kurang 5 menit karena rokok, tapi tambah 8 menit karena puas dan bahagia… jadi aku dapet tambahan 3 menit dari setiap batang rokok!”

Nah, mati kutu lawan bicara itu!

Karena argumentasinya sudah Anda buat tidak relevan, sisakan lobang keluar untuk menyelamatkan mukanya. Segera alihkan pembicaraan ke topik lain. Atau, ketawa aja terbahak-bahak ha ha ha…

Dan… Sst.… ini di antara kita aja ya… Anda mungkin akan tanya, “Emangnya ada riset lain yang bilang begitu, Pak?”

Lho, emangnya saya mengatakan bahwa ada riset lain yang bilang begitu? Saya kan cuma bilang “Yang tak kamu tahu adalah adanya riset lain yang mengatakan bahwa setiap kali kamu puas dan bahagia melakukan sesuatu, kamu tambah umur 8 menit!” Kalau Anda mau tahu, sesungguhnya saya juga tak tahu apakah ada riset seperti itu. Tapi, kan jadi rahasia umum bahwa kepuasan dan kebahagiaan menjadikan hidup ini jauh lebih ringan, menggairahkan dan karena itu bisa tambah panjang?! Perkara tambahannya 8 atau 15 menit, ya suka-suka kita. Kalau argumentasi ilmiah saja berdiri di atas pengandaikan ceteris paribus, padahal faktanya kemungkinan besar justru ceteris non paribus, adilnya kita mesti juga boleh mengandaikan sesuatu dong… ha ha ha… * * *

*) Wandi S Brata; Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama; wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 2495

Comments

6 Responses to “Kiat Menang Debat”
  1. S. Hadi Prasojo says:

    Jujur, saya tertawa membaca artikel ini. Bagi sejumlah yang orang yang pernah bertemu atau syukur-syukur mengenal bung WSB ini, hal ini bisa menjadi hal yang biasa, karena salah satu julukan bung WSB itu memang “Mbahnya main logika”.

    Tapi boleh juga artikelnya. Menyegarkan. Tapi, maaf ni bung, ini bukan DANIEL WALUYO kan? alias Wani Ngeyel Waton Suloyo sebagaimana pernah menjadi suatu “ikon” guyonan itu, ha..ha…ha… Tentu saja, ini juga tak cukup hanya dijawab YES or NO.

  2. wandi says:

    Ha ha ha… Bung Hadi, DANIEL WALUYO juga gak pa pa kalau debatnya cuma dalam konteks guyon … makin sontoloyo kan makin ger-geran…

  3. robzlabz says:

    haha,.
    itu bagus untuk melawan perdebatan,.
    sungguh tak ku sangka ada ilmu yang seperti ini,.
    klw orang jawa bilang munkgin waton omong ya..hehe

    bagus,. menambah ilmu debat saya,. Terimakasih

  4. wandi says:

    Ha ha ha… bung Robzlabz… atau entah apa pun nama Anda… yang paling penting dari artikel saya cuma alinea pertama… itu prinsip… selebihnya cuma contoh yang kasuistik yang amat terikat konteks… kalau kita berada dalam perdebatan ilmiah dan ingin “memenggal argumen lawan dari atas” dengan menyodorkan data yang tak valid ya habis kita… jadi yang “waton omong” tadi hanya cocok dalam konteks guyon…

  5. mame says:

    hahaha..lucu juga ya orang secerdas bapak bisa diperbudak sama rokok…
    …xixixixi…..

  6. Alwin says:

    Menang debat adalah ketika anda memahami apa yang diajarkan oleh lawan debat anda dan mengetahui bahwa dia bukannya tidak memahami yang anda ajarkan namun tidak mau menerima yang anda ajarkan. Apa yang terjadi ketika lawan debat kita memahami yang kita ajarkan dan menerimanya sebagai kebenaran untuk diyakininya? Bukankah itu namanya menang debat? Bukan! Itu namanya bertemu dengan kawan sejalan. Apa itu kalah debat? Kalah debat adalah ketika anda TIDAK mampu memahami apa yang diajarkan oleh lawan anda.

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top