Her Suharyanto

KITA DISENGSARAKAN SPEKULAN MINYAK?

05 Agustus 2008 – 13:26 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 8.00 / 2 votes)

INVESTASI alternatif dengan janji untung besar, siapa yang tidak tertarik?

Suatu sore, di satu kafe di sekitar Pancoran, saya bertemu dengan seorang pejabat yang minta bantuan saya terkait dengan rencananya untuk menulis buku. Namun ternyata, itu bukan pertemuan “bilateral” antara saya dengan pejabat tersebut, melainkan pertemuan “multilateral”. Setelah sekitar satu jam kami bebicara, datang dua perempuan cantik yang juga janji bertemu dengan sang pejabat.

“Sebentar lagi saya akan ada tamu lain, tolong Mas Her jangan pergi, nanti saya akan minta Mas Her memberi pertimbangan,” kata pejabat tersebut.

Tamu tersebut, ya dua perempuan cantik itu.

Setelah berbasa-basi sejenak kedua perempuan itu mulai menawarkan investasi yang menurut mereka sangat menjanjikan. “Bapak boleh pilih, mau investasi di komoditas atau forex… dijamin untung karena ditangani oleh orang yang berpengalaman di bidangnya.” Kedua perempuan itu mulai memberi kesaksian sambil berbisik “Ini rahasia, lho…” bahwa pejabat A, artis B, dan pengusaha C adalah para nasabah perusahaannya yang menangguk untung besar. Keduanya, secara bergantian namun terasa agresif, berusaha menjelaskan bagaimana mungkin investasi itu menguntungkan.

“Ada yang untung lebih dari 100 persen dalam sebulan,” kata yang satu.

Sang pejabat mulai senyum-senyum, sesekali melirik saya (tapi lebih banyak memandang kedua perempuan yang menggoda dengan matanya).

“Wah, saya nggak ngerti, Mbak… Ini Mas Her, konsultan keuangan saya. Kita dengar saja dia bilang apa… saya ikut saja.”

Saya merasa seperti disambar geledek, karena ditempatkan pada posisi yang tidak mengenakkan. Akhirnya, saya sekadar bercerita bagaimana saya juga telah sering mendapatkan tawaran serupa, dan bagaimana saya menolak. Kedua perempuan itu berbalik mencoba meyakinkan saya dengan manis. Namun, air muka keduanya berubah ketika saya mengatakan, “Saya tidak mau karena bagi saya ini investasi spekulatif.”

“Ini bukan spekulatif, Mas… bisa dihitung. Fund manager kami tidak main-main. Mereka memakai perhitungan yang matang…” dan seterusnya.

Rupanya, kata “spekulatif” yang saya maksud tidak ditangkap, dan ini menyengat mereka. Yang saya maksud dengan spekulatif adalah bahwa investasi ini tidak memiliki underlying assets. Investasi rumah berarti ada rumah yang dibeli. Begitu juga investasi tanah, emas, atau bahkan juga valas sejauh dalam arti kita benar-benar membeli lembar uang (banknote) atau menabung dalam valas. Dalam istilah ekonomi, investasi tersebut memiliki underlying asset . Investasi pada saham pun masih ber-underlying asset. Kita memang membeli kertas, tetapi di balik kertas itu ada aset perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.

Tetapi, dalam perdagangan berjangka tidak ada aset yang dipertukarkan.

“Maksudnya, tidak ada transaksi emas atau minyak yang riil?” Sang pejabat, yang bidangnya adalah kemasyarakatan, ikut bertanya.

“Tidak ada,” saya berkata. Saya melanjutkan bahwa para pemilik uang datang ke bursa yang disebut bursa berjangka bukan untuk dagang minyak, emas, atau komoditas yang lain. Mereka datang ke bursa berjangka dengan tujuan untuk mencari untung dari pergerakan harga komoditas itu. “Kedua Mbak ini juga tidak mengajak Bapak untuk dagang emas atau minyak, tapi untuk cari untung dari pergerakan harga emas, minyak, atau nilai tukar mata uang (valas).”

“Jadi, tidak spekulatif, kan? Bisa dihitung, kan?” kata seorang dari kedua perempuan cantik itu.

Saya memutuskan untuk menghentikan “penjelasan” saya di depan keduanya karena saya tidak mau menghalangi usahanya untuk bekerja. Dan, untunglah sang pejabat cukup bijak dengan mengatakan dia bisa dihubungi lagi seminggu dari waktu pertemuan itu.

Tetapi, setelah kedua orang itu pergi sang pejabat masih penasaran. Dia bertanya, bagaimana mungkin ada pasar tanpa ada aset yang ditransaksikan?

“Begini, Pak. Katakan saja saya produsen karet. Bapak punya pabrik ban. Bapak setiap minggu beli karet dari saya. Bulan ini produksi karet lagi bagus, harganya katakan saja 100 dolar AS satu ton. Misalnya, kita tahu enam bulan lagi produksi karet bakal susah. Kita sama-sama tahu harga akan naik, bukan? Nah, kita bikin kontrak. Enam bulan yang akan datang Bapak akan beli karet dari saya dengan harga 120 dolar AS per ton. Apakah ini mungkin terjadi?”

“Mungkin saja. Tapi, harga riil enam bulan mendatang bisa cuma 110 atau bisa 140, kan?”

“Itu dia,” kata saya. “Kalau enam bulan mendatang harganya 110, berarti Bapak rugi 10 saya untung 10. Sebaliknya, kalau harga pasar 140, saya untung 20 Bapak rugi 20, bukan?”

“Tetapi, untuk bisa bertransaksi seperti itu saya tidak harus menjadi petani karet dan Bapak tidak harus menjadi produsen ban. Tapi, kita tetap bisa membuat perjanjian jual beli persis seperti di atas, bukan? Gampang saja. Kalau harga pasarnya nanti 110 berarti Bapak bayar saya 10, kalau harga pasarnya 140 saya bayar Bapak 20.”

“Jadi, kalau mau modalnya bukan 120, tapi masing-masing 10 atau 20 cukup dong?” kata Pak Pejabat.

“Persis. Ini namanya bermain margin, Pak.”

“Jadi, yang bertransaksi emas dan minyak itu bisa jadi orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan produksi dan penggunaan emas atau minyak?”

“Lebih banyak yang seperti Bapak sebutkan. Di dunia ini ada ribuan atau jutaan orang seperti kedua tamu Bapak tadi. Apakah mereka semua mengajak orang-orang seperti Bapak menjadi produsen minyak atau membeli minyak? Tidak. Mereka mengajak orang-orang seperti Bapak untuk memanfaatkan pergerakan harga minyak.”

“Bertaruh, dong?”

* * *

SAYA KEMBALI teringat peristiwa di atas beberapa pekan lalu ketika melihat foto di halaman satu Harian Kontan. Foto itu menunjukkan dua orang laki-laki tertawa lepas sambil mengepalkan kedua tinjunya. Caption foto menyebutkan bahwa mereka berdua adalah para investor bursa berjangka yang tertawa puas karena harga minyak terus bergerak naik.

Dalam beberapa bulan terakhir harga minyak terus merangkak naik, dan ini menjadi sumber kesengsaraan begitu banyak orang. Sama seperti ketika krisis ekonomi melanda Indonesia dan beberapa negara Asia tahun 1997/1998, banyak pihak menuduh bahwa ini adalah ulah para spekulan. Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) mengatakan produksi minyak dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan. Jadi kalau harga naik, maka menurut mereka itu karena ulah para spekulan.

Pertanyaannya, mungkinkah para spekulan ikut menentukan harga? Bisa saja, minimal secara tidak langsung, melalui pembentukan sentimen dan ekspektasi (yang berperan besar pada harga). Saya bisa salah, tapi paling tidak India beberapa waktu lalu menutup bursa berjangkanya dengan alasan harga yang dibentuk oleh bursa berjangka tersebut sudah sangat tidak sesuai dengan keadaan pasar.[her]

Her Suharyanto, editor ekonomi, bisa dihubungi di her_suharyanto@hotmail.com

Telah di baca sebanyak: 837
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *