Kolom Alumni

Kok, Gaji Kita Nggak Naik Ya?

Oleh: Gagan Kartika

“Biasanya perusahaan yang baik suka berbagi kebahagiaan dengan karyawannya, terutama saat mendapatkan keuntungan”

Terinspirasi oleh ide Pak Urip Sedyowidodo, yang melempar judul buku, al : “Perusahaan mau maju, jangan naikan gaji” di milis writer schoolen. Saya, sebagai pekerja sekaligus punya usaha kecil-kecilan tergelitik untuk mengusulkan judul, Naikan Gaji Pegawai, Rahasia Perusahaan Mendulang Untung. Namun itu baru sebatas usulan, dan nantinya mungkin hasil poling terbanyak yang akan menjadi masukan dan kesimpulan Pak Urip dalam menentukan judul bukunya.

Sebagai pegawai, atau bagi yang sudah berpengalaman bekerja, umumnya, selain kecocokan bidang pekerjaan, pertama yang dilihat karyawan dalam memperoleh pekerjaan, sering pada besaran gajinya, berapa ya gaji yang akan kita terima. Cukup tidak buat hidup satu bulan, cukup tidak buat makan anak isteri, cukup tidak buat bayaran sekolah, apa bisa membiayai bila keluarga tertimpa sakit, okelah, buat sumbangan orang tua tak ada. Tapi minimal gaji yang akan diterima, bisa mencukupi kebutuhan standar keluarga, termasuk biaya makan saat istirahat dan ongkos bolak baik ke tempat kerja. Sebaliknya, bagi pegawai yang sulit mendapatkan pekerjaan, tanpa melihat dulu penghasilan, yang penting bisa bekerja, apalagi pengangguran di Indonesia yang semakin membludak.

Namun terkadang, apa yang diinginkan pekerja, sering tak kesampaian, misalnya ketika menginginkan gaji dengan besaran tertentu, ternyata perusahaan tak bisa memenuhinya. Dengan alasan, kemampuan perusahaan belum cukup untuk menggaji seperti itu. Tapi, perusahaan butuh tenaganya, jadi gimana ya? Satu pihak perusahaan perlu tenaga, sedangkan, anggaran tak memadai. Inilah yang sering membuat rumit dalam pengambilan keputusan bagi perusahaan.

Memang bagi orang yang sinis, gampang saja mengambil kesimpulan, “Kalau tak mampu ya jangan jadi pengusaha. Mending jadi pekerja saja”, ujarnya.

Lantas, bagaimana orang yang menyemangati wiraswasta, kasihan, kalau harus kalah oleh sindiran tersebut. Karena menurut saya, ketika makin banyak orang yang bisa buka usaha sendiri, pengangguran akan dapat berkurang. Jadi permasalahan gaji ini sebaiknya, kita atau pemerintah dapat memberikan kelonggaran buat mereka, wiraswastawan yang baru belajar berusaha. Jangan sampai baru buka usaha langsung terjerembab dalam penggajian, yang dipatok dengan standar upah minimum. Hal ini sering menjadi permasalahan di lapangan, khususnya wiraswastawan pemula.

Pak Ciputra, pengusaha terkenal dan dedengkot wiraswastawan, misalnya, sedang giat-giatnya, menyemangati dan mempromosikan usaha wiraswasta ini, dan ingin menularkan keberhasilannya dalam berusaha. Sehingga ia memberikan pelatihan usaha wiraswasta ini dengan standar pengajaran menjadi wiraswasta di dalam kurikulum perguruan tinggi. Namun sebaiknya, masalah penggajian ini masuk dalam penggajaran, sehingga wirawastawan mampu menghadapinya di lapangan.

Gaji ini sering menjadi krusial, karena bisa menyebabkan betah tidaknya karyawan bekerja pada perusahaan. Karena ini, selain menjadi tarik menarik antara pekerja dan pengusaha, juga sering menjadi pertanyaan bagi Departemen Tenaga Kerja, yang mewajibkan, pengusaha memberikan upah minimum.

Akhirnya, sebagai pengusaha bingung, ingin menggaji besar, uangnya tak ada, tetapi bila dibawah standar, bisa mendapat peringatan dari pemerintah. Inilah yang sering menjadi tantangan pengusaha dan para wiraswastawan pemula.

Untuk keberhasilannya, seorang wiraswastawan, sering tak mempedulikan itu, daripada usahanya nggak jalan, sering untuk tahap awal berusaha, menggunakan gaji pertemanan. Yaitu, gaji yang bisa dinegosiasikan sesuai anggaran perusahaan, bahkan gaji tersebut bisa dibawah upah minimum, karena anggarannya memang begitu, pas-pasan. Namun setelah usahanya naik, selanjutnya, besaran gaji disesuaikan dengan perkembangan perusahaan, atau minimal menerapkan gaji sebatas upah minimum.

Sedangkan pengalaman saya, selain jadi pekerja, saya sendiri punya usaha kecil-kecilan, dalam penggajian ini, pada saat awal, mendasarkan gaji pada pertemanan, namanya teman ia butuh kerjaan, dan saya perlu tenaga dia, jadilah kerjasama. Sebagai pekerja, ia mengerti saya, yang menggebu ingin berusaha sendiri, karena kerja pada perusahaan orang pun saat itu tak ada yang menerima. Jadilah bikin usaha sendiri, karena terpaksa. Dari pada menganggur, dan tak makan, biarlah, dengan sisa pesangon yang ada saya mamanfaatkan itu untuk terjun berbisnis sendiri.

Banyak orang yang karena terpaksa, jadi buka usaha sendiri, ada karyawan hotel, yang terkena PHK, akhirnya, untuk memanfaatkan keahlian memasak ia buka Cafe Warung Tenda, ada karyawan leasing kendaraan, yang keluar, akhirnya berdasarkan pengalamannya, ia buka sendiri dengan mengkreditkan motor kecil kecilan, sebagian lagi mantan pekerja, karena pengalamannya dan mempunyai inovasi, ada yang membuka wiraswasta laundry, ada tukang cukur, bengkel mobil, buat service AC, service komputer, dlsb. Diantara mereka banyak menggunakan gaji pertemanan, gaji yang timbul karena saling membutuhkan.

Nah, begitu perusahaan sudah berkembang, berbagai pengusaha, sering menerapkan berbagai pola penggajian. Ada yang mendasarkan, dengan pola mengikuti standar dari pemerintah, ya itu sesuai dengan standar upah minimun, atau karena takutnya dalam mengelola karyawan, sebagian pengusaha menggunakan tenaga outsourching, jadi karyawan diperoleh dari perusahaan penyedia tenaga kerja, perusahaan seperti ini tak ingin dipusingkan lagi oleh berbagai tuntutan karyawan. Dimana karyawan punya banyak kemauan, al : mereka menuntut uang jasa produksi, menuntut uang lembur, menuntut tranportasi lebih, menuntut tambahan uang kesehatan, menuntut THR, menuntut uang perumahan, bonus, dan tuntuan lainnya.

Apalagi bagi karyawan yang merasa berprestasi, mereka sering mematok gaji yang tinggi kepada perusahaan, tanpa berpikir, sejauh mana perusahaan bisa bertahan ketika harus menggaji tinggi.

Untuk mengatasi hal ini, ketika anggaran sudah memadai, saya sendiri sering menggunakan pendekatan, gaji flat dan gaji tambahan sesuai dengan keberhasilan dan prestasi dia dalam mengembangkan perusahaan. Jadi saya perhitungan berapa gaji standar yang harus dibawa ke rumah, biasanya saya mengikuti standar pemerintah, kecuali bagi mereka pekerja yang masih latihan, mereka memerlukan ilmu cara bekerja, gajinya masih sebagai pertemanan, dan ketika ia sudah bisa menyesuaikan standar dengan pekerja lain, otomatis ia mendapatkan hak yang sama.

Gaji tambahan ini, berupa bonus prestasi, dimana gaji tambahan ini sering saya masukan dalam cost biaya per proyek, sehingga ketika ada proyek, saya bisa menghitung rugi labanya, dan bonus mereka sudah termasuk didalamnya. Sehingga dengan demikian semakin banyak proyek, semakin tinggi gaji mereka. Namun ketika perusahaan lagi sepi, mereka sudah maklum mendapatkan hanya berupa gaji standar. Dengan demikian gaji karyawan bisa fleksibel sesuai dengan pemasukan perusahaan.
Keuntungan lain, kita bisa tenang berusaha, karena dilakukan secara fair, karyawan dan perusahaan sama-sama untung. Bahkan karena senangnya, saya sering mendapatkan traktiran dari bawahan. “Lumayan bonusnya, gede”, sahut karyawan penuh ceria,

Sementara karyawan yang lain, yang perusahaannya menggunakan gaji flat sering bertanya, kapan ya gaji kita naik, kok gaji kita nggak naik-naik?. Ada yang menggerutu di belakang, ada juga yang menerima apa adanya, bahkan ada yang protes secara terang-terangan.

Nah inilah susahnya mengatur karyawan, bagi perusahaan yang banyak proyek sering tak masalah, seperti perusahaan besar yang bergerak di bidang perminyakan, pertambangan, perusahaan IT, bisnis keuangan, dll. Bonus bisa berlipat-lipat, dan gaji sering tak dilirik lagi, karena bonus bisa mengalahkan gaji yang bakal diterima.

Tetapi bagi perusahaan kecil, boro-boro bisa mengggaji, untuk bayar listrik dan biaya operasional sehari-hari saja sering tak mencukupi. Kalau begitu, sistem gaji perteman sering pas buat mereka atau perusahaan yang hidup pas-pasan, sedang bagi perusahaan menengah, yang belum bisa memprediksi pendapatan bisa menggunakan cara penggajian flat dan bonus yang disesuai dengan perkembangan perusahaan. Sementara itu bagi perusahaan besar sering menerapkannya, selain gaji dan tambahan bonus berlipat, ada lagi pembagian hasil dengan prosentase keuntungan dan saham, sehingga karyawan betah bekerja dan bertahan di perusahaan. Bagi perusahaan seperti ini, sudah mempunyai prinsip, al: naikan gaji pegawai, agar karyawan bereputasi tinggi tak mau pindah dan sulit dibajak perusahaan lain. Dan dengan begitulah, cara atau rahasia perusahaan dalam mendulang untung. (gg)

*) Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta.
Email: gagan@kumaitucargo.co.id

Telah di baca sebanyak: 2017
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *