Kolom Alumni

Kok Tak Jadi Menteri?


Oleh: Risfan Munir

Proses penunjukan dan pelantikan menteri-menteri Kabinet baru berlalu. Pembicaraan dan komentar yang bernada tanya, pro, kontra terjadi. Umumnya yang menarik perhatian seperti biasa adalah suara yang kurang setuju atau mempertanyakan.

Ada yang berkomentar, “Lho, kok dia? Kan di bidang itu ada si A yang lebih senior dan kompeten?” Atau, “Kan ada si B yang Prof.Dr, ..yang Jenderal,.. yang Direktur Jenderal?” dan seterusnya.

Umumnya orang, pakar ataupun awam, menilai berdasarkan norma, standar baku, atau pengalaman sebelumnya. Sehingga begitu calon yang muncul adalah orang tertentu, segera mereka bandingkan dengan norma, standar dan pengalaman mereka. Kalau berbeda atau ada kesenjangan (gap), maka berteriaklah mereka.

Pola pikir menilai segala sesuatu dengan standar itu benar, karena tanpa norma, standar semua menjadi tanpa patokan. Namun dalam hal penunjukkan atau pemilihan pejabat, eksekutif, pemimpin, atau juga pemilihan artis pemenang, artis pemeran, yang terjadi seringkali diluar dugaan. Dengan kata lain, sering tidak sesuai dengan ukuran norma, standar, pengalaman yang dipikirkan orang.

Pada umumnya, hasil pengambilan keputusan, apakah itu penunjukan, pemilihan, baik oleh seorang pimpinan atau oleh masyarakat pemilih, adalah hal yang sulit ditentukan hasilnya. Karena itu dalam ilmu manajemen hasil pengambilan keputusan termasuk faktor yang di”skenario”kan berbagai kemungkinan hasilnya, sebab memang tak bisa dipastikan.

Pelajaran bagi kita, sebagai “orang biasa” yang bisa dipilih atau tidak, diangkat atau tidak dalam karier dan hidup kita masing-masing, kita perlu belajar menerima bahwa ada faktor yang “belum tentu” dalam hal karier dan perjalanan hidup.

Katakanlah Anda atau saya profesional yang bekerja keras hingga meraih gelar Prof.Dr., menjabat Rektor, atau menjadi Jenderal, atau jadi ketua asosiasi profesi, atau Direktur Jenderal di departemen. Ternyata tak ada jaminan untuk terpilih/ditunjuk menempati posisi tertentu. Dan, harus menerima kenyataan bahwa ada orang lain, yang dalam penilaian umum kualifikasinya “dibawah” kita, justru nasibnya lebih beruntung. Karena mungkin “kriteria” yang digunakan pemilih beda dengan yang kita perkirakan.

“Yang jadi bukan yang diperkirakan. Yang diperkirakan bukan yang jadi” begitulah realita kehidupan.

Menghadapi kenyataan “hidup” tersebut, kita bisa bingung, hilang kepercayaan, patah semangat. Tapi sebaliknya, bisa juga kita “nekat”. Namun tidak ada cara lain, daripada ragu, tak pasti, lebih baik maju terus, pantang mundur. Dipilih atau tidak dipilih (oleh atasan, publik) tak soal betul.

Stephen Covey menyarankan agar kita bersikap “proactive”. Yaitu bekerja bukan karena orang lain atau suasana lingkungan, mendukung atau tidak, memuji atau mengkritik. Tapi bekerja berdasarkan norma, standar dan apa yang dianggap layak dilakukan. Kita bekerja karena profesi kita itu, keputusan kita berkarya dan mencari nafkah dengan itu.

Dengan begitu kerja kita menjadi mantap, pikiran bisa fokus kepada pekerjaan dan meningkatkan kinerja, daripada membuat diri “terjajah” oleh harapan disukai atau tidak disukai oleh pimpinan atau orang lain.

Insya Allah, dengan praktik dan ketekunan selama minimal 10 ribu jam, seperti kata Malcolm Gladwell dalam Outliers, akan membuahkan “bejo, hoki, chuan, luck” atau keberuntungan sejati.

* Risfan Munir adalah peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Penulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala SAMURAI SEJATI”. Ia dapat dihubungi melalui blog http://samuraisejati.blogspot.com.

Telah di baca sebanyak: 907
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *