Wandi S Brata

Kunci Sukses Theodore Roosevelt


Pernah menjadi wakil presiden ketika presidennya William McKinley, Theodore Roosevelt meraih karier tertinggi dan menjadi presiden Amerika ke-26. Presiden yang dua kali menduduki jabatan puncak di negeri adidaya itu pernah berkata, “The most important single ingredient in the formula of success is knowing how to get along with people.”

Itu ucapan luar biasa, dari orang yang luar biasa, yang membuat saya tercengang. Mencengangkan bahwa kemampuan bergaul dengan orang lain dia sebut sebagai “unsur tunggal yang paling penting bagi kesuksesan kita”.

Mencengangkan, karena tadinya saya mengira bahwa yang menentukan kesuksesan kita adalah hal-hal seperti penguasaan keahlian teknis spesialisasi, tekad sekeras baja, dan lain-lain yang di antaranya adalah kemampuan bergaul dengan orang, plus integritas. Tapi, setelah saya renungkan, benar juga. Keahlian teknis spesialisasi dan tekad pun tak terlalu berguna kalau tidak disertai oleh kemampuan tinggi dalam pergaulan dengan sesama.

Kalau benar bahwa tingkat kesuksesan kita berbanding lurus dengan nilai, atau manfaat, atau kebaikan, yang kita sajikan kepada sesama, jelaslah bahwa faktor sesama itu menjadi amat penting posisinya. Keahlian teknis spesialisasi hanya akan bermakna sebesar-besarnya kalau itu memberi manfaat kepada semakin besar jumlah orang yang menerimanya. Semakin besar jumlah sesama itu, berarti semakin besar kesuksesan kita. Dan semakin besarnya jumlah orang lain itu dengan sendirinya dimungkinkan hanya kalau kita memang pandai bergaul dengan mereka.

Lebih jauh merenungkan, kemampuan bergaul dengan orang lain itu ujung-ujungnya juga berarti kepemimpinan pribadi dalam pergaulan, keahlian berkomunikasi, dan tingkat keandalan dalam hal kepercayaan. Artinya, kalau pergaulannya memang mendalam dan langgeng – yang berarti bakal menjamin kelanggengan kesuksesan – dalam “kemampuan bergaul dengan orang itu” diandaikan adanya integritas personal. Integritas personal ini bisa menciptakan faktor kali yang akan memperbesar reputasi – dan dengan demikian juga kesuksesan kita – karena orang-orang yang kena dampak dari integritas kita yang baik akan menjadi corong yang mewartakan nama baik kita kepada teman-teman mereka, yang barangkali tidak kita kenal, dan tidak akan terhubung dengan kita seandainya tidak ada mereka.

Roosevelt memang menyebut “knowing how to get along”, tahu cara bergaul. Tapi, “tahu” di situ rupanya dia maksudkan tidak terbatas pada pengetahuan teoretis, melainkan pengetahuan yang diamalkan, yang dipraktikkan menjadi pengalaman. Jadi “tahu” dalam ucapan itu menyentuh dimensi eksperiensial, bahkan eksistensial. Bukan sekadar olah otak, tapi praktik hidup yang didasarkan di atas etika. Jadi, ilmu menyatu dalam laku.

Adanya etika yang diandaikan ini memberi kedalaman pada kemampuan bergaul yang sering diungkapkan sebagai people skill, atau keahlian berurusan dengan orang lain. Sikap, pola laku dan pola pikir etis yang membuat pribadi penyandangnya punya integritas tinggi menjadikan people skill benar-benar merupakan ekspresi kecanggihan penguasaan teknik pergaulan sekaligus ketulusan dan kemuliaan watak. Dengan ini, jelas bahwa pergaulan itu akan menyenangkan kedua belah pihak dan karenanya langgeng, dan itulah yang menyebabkan kesuksesan.

Sebaliknya, tanpa dasar etik itu, people skill hanya menjadi sebentuk kepura-puraan. Menyenangkan untuk pergaulan sesaat, tetapi dalam jangka panjang akan mengecewakan, karena orang akan segera tahu betapa penerapan keahlian bergaul itu tak lebih daripada topeng palsu yang bersifat manipulatif, atau jangan-jangan bahkan bersifat eksploitatif.

Jadi, tanpa etika, people skill jatuh menjadi sekadar etiket yang tak memiliki dasar kuat di kedalaman, dan sukses yang dibangun oleh etiket tanpa etika akan hancur berantakan.

Merenungkan perkara ini, saya menjadi yakin bahwa akhirnya people skill hanya akan benar-benar menjamin kesuksesan kita kalau diandaikan di dalamnya ada self skill, kepiawaian berurusan dengan diri sendiri. Kepiawaian ini tak lain adalah kemampuan kita untuk mengelola sikap, emosi, pikiran dan perilaku pribadi kita, yang tolok ukur prestasinya tidak kita gantungkan pada pendapat orang, tetapi pada nilai-nilai objektif kemanfaatan, kemuliaan, kejujuran [bahkan terhadap diri sendiri], kebenaran, kebaikan, cinta dan keadilan.

Self skill inilah yang ada di balik efektivitas “kepandaian bergaul dengan orang” dalam memunculkan kesuksesan kita. Self skill inilah yang menciptakan integritas dan kehormatan kita, yang tidak sekadar menjadi pelicin pergaulan kita dengan sesama, tetapi memberi dasar-dasar kelanggengannya.

Tanpa ini, pergaulan akan berantakan, karena tanpa itu sesungguhnya kita telah kehilangan dasar-dasar kokoh eksistensi kita, yaitu integritas dan kehormatan kita.

Merenungkan itu, saya teringat akan William Shakespeare. Pujangga Inggris yang lahir pada tanggal 26 April 1564 dan peninggal pada tanggal 23 April 1616 ini menulis sekitar 38 drama, 154 sonata, dan banyak puisi yang telah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa besar dunia. Banyak ucapannya yang sampai kini mengilhami orang. Salah satunya, “If I lose mine honor, I lose myself.” Bila aku kehilangan kehormatanku, aku kehilangan diriku. Dan kalau situasi ini sudah terjadi, kecanggihan people skill kita akan tumpul efektivitasnya. Orang akan tahu bahwa kita cuma badut yang sedang acting, tanpa ketulusan. Jauh kenyataan dari penampilan.

*) Wandi S Brata, Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama, wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 1640
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *