Kolom Alumni

Kutemukan Jurang yang Menjerumuskan

Oleh: Endra Handiyana

Lima tahun sudah ku berusaha mencari jati diriku untuk hanya sekedar mempunyai sebuah buku. Semua itu hanya mimpi yang hampir selalu ku utarakan kepada setiap orang yang ku temui. “Aku akan menulis buku”, begitu ungkapku dengan penuh percaya diri. Namun juga tak satupun orang yang aku beritahu tersebut memberikan tanggapan. Dengan cueknya mereka memalingkan muka karena melihat aku yang kerempeng dan tak punya apa-apa. Akupun cuek saja menanggapi itu semua dengan ekspresi seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Namun yang pasti orang lain sudah tahu kalau aku akan menulis buku, masalah kapan akan terealisasi biarkan sang waktu yang menjawabnya.

Aku tuliskan dalam dinding kamar kos-kosanku bahwa aku akan menjadi seorang penulis buku dan mempunyai buku sendiri, mungkin dinding itupun juga akan menertawakanku jika dia mempunyai fikiran jernih. Dinding putih yang penuh dengan coret-coretan mimpiku, tak pernah ku gubris setiap lontaran protes dari teman-temanku yang berkunjung ke kos-kosanku.

Aku tak pernah menyerah, dinding lusuh kos-kosanku lima tahun silam adalah saksi bisu sebagai ungkapan kata hati mimpiku. Sesaat sebelum ku pejamkan mata selalu ku amati tulisan tersebut. Sesaat setelah ku membuka mata menyapa dunia kembali ku lihati tulisan tersebut. Tulisan itu hanyalah tulisan yang memang tak bisa berbuat banyak. Namun dibalik kata-kata yang tertulis tersimpan makna yang sangat mendalam dan semuanya menghunjam ke dalam keinginanku yang paling dalam. Dengan buku aku berharap bisa berbagi informasi dengan orang lain. Dengan buku kelak aku berharap bisa mengubah pandangan orang untuk mau menjadi lebih baik dari yang terbaik. Dengan buku aku berharap bisa memberikan sesuatu buat bangsa ini.

Bertahun-tahun aku selalu bertanya kemana aku harus mencari, namun selalu saja aku tidak menemukan jawabannya karena aku bertanya kepada orang yang tidak tahu menahu mengenai dunia penulisan. Ku bertanya kepada penjual bakso di pinggir jalan, ku bertanya kepada penjual kaki lima di trotor, ku bertanya kepada tukang parkir dan bahkan ku juga bertanya kepada kasir di supermarket saat aku selesai belanja. Aku seolah-olah seperti orang paling bodoh di dunia yang ingin menemukan sebuah kebenaran akan arti sebuah mimpi. Maklum saat itu aku masih terlalu lugu meskipun internet sudah begitu canggih namun aku masih buta akan itu semua.

Sesaat hatiku tersentak ketika aku membaca buku “Anda Luar Biasa”, ku temukan begitu banyak pencerahan. Kesibukan bukanlah alasan untuk membuat aku menjadi patah semangat. Ketidaktahuan bukanlah penjegal untuk aku tidak bisa menjadi seorang yang memang mempunyai potensi yang sangat luar biasa di balik tatapan mata keluguanku. Sebuah buku yang memberikan informasi yang luar biasa dan ditulis oleh seorang yang luar biasa. Lima tahun sudah penantianku seakan terjawab sudah, seperti rasa kangen yang terobati karena telah bertemu dengan kekasih hati yang telah lama pergi.

Pembelajar.com adalah salah satu website yang ditulis dalam buku tersebut. Tanpa banyak berfikir aku langsung saja buka website tersebut meskipun waktu sudah lewat tengah malam. Aku tak peduli walaupun esoknya jam 4.00 pagi ku harus sudah bangun untuk berangkat kerja. Rasanya seperti menemukan harta karun yang sekian lama terpendam dalam kubangan lumpur emas. Sunggingan senyum kecil tersimpul dari sudut bibirku tanpa bisa ku kendalikan. Aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa karena telah diberikan pencerahan akan kegelapan langkah hidupku.

Dengan sebuah kenekatan dan biaya yang pas-pasan aku memberanikan diri untuk mengikuti Writer Schoolen yang juga direkomendasikan oleh buku tersebut. Perbedaan jarak dan waktu bukanlah alasan untuk aku bisa berjuang. Meskipun acara dimulai jam 8 pagi, namun jam 3 pagi aku sudah berangkat untuk mengikuti acara tersebut. Aku merasa sangat menyesal telah mengikuti program ini. Mengapa tidak dari dulu aku menemukan sebuah agenda yang sangat lengkap seperti ini? Tapi aku sangat bersyukur karena aku menemukannya disaat yang sangat tepat. Meskipun aku adalah peserta termuda, namun aku tak pernah gentar menghadapi para seniorku, sekarang memang sudah waktunya generasi muda bisa berjalan seiring dengan para seniornya.

”Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller” adalah teman setiaku saat aku mulai menarikan jari-jemariku di atas keybord komputer usang kesayanganku. Semua mengalir seolah tak dapat ku kendalikan. Bahkan sampai dalam mimpipun masih terbayang mimpi yang sesungguhnya untuk memiliki buku sendiri. Buku tersebut adalah pengobar semangat di saat aku mulai lelah untuk menulis. Ku buka lembar demi lembar yang malah justru membuat semangatku semakin berkobar-kobar. Entah dapat energi dari mana tanpa ku sadari dalam satu bulan penuh aku sudah bisa menyelesaikan sebuah naskah buku. Sebuah ide yang dulu sempat ku fikirkan dalam setiap sepiku. Sebuah naskah yang sangat memberikan inspirasi buat tatapan masa depanku untuk dapat memberikan semangat kepada orang lain.

Sekarang aku yakin, ketika mimpi menjadi kenyataan betapa berharganya sebuah proses yang sudah terjadi. Akan tetapi terkadang kita tak pernah sadar sudah melakukan proses tersebut dengan energi ekstra yang hadir dengan kekuatan semangat dibaliknya. Itulah keajaiban dari sebuah mimpi. Oleh karena itu buatlah mimpi dalam hidup Anda selagi Anda masih bisa tidur dengan nyenyak. Karena pada dasarnya mimpi tersebut akan terwujud pada saat kita membuka mata, melipat selimut dan bergegas untuk menatap cahaya terang di hari ini. Seperti saya sendiri, saya mempunyai mimpi untuk bisa menulis sebanyak 100 buah buku. Kapan akan tercapai? Biarlah kekuatan mimpi yang akan mewujudkannya. Namun saya yakin bisa melakukannya dengan beberapa pertimbangan, antara lain:

* Sekarang usia saya 26 tahun.
* Rencana buku minimal 150 halaman.
* Kemungkinan pada usia 50 tahun saya akan menyelesaikan semua mimpi itu.
* Berarti setiap hari saya harus menulis sebanyak ((150 halaman/buku) x 99 buku) / ((365 hari/tahun) x 24 tahun) = 1,69 halaman.

Ternyata saya hanya harus menulis sebanyak 1,69 halaman setiap hari untuk dapat mewujudkan mimpi bahwa saya bisa menulis seratus buku.

Sempatkanlah untuk membuat mimpi agar hidup menjadi lebih berarti. Dalam sejarah dunia sudah banyak tercatat nama-nama hebat, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Charles Darwin dll. Namun apakah nama Anda sudah tercetak di sana? Tidak inginkah Anda menorehkan sejarah dalam perkembangan dunia ini untuk mengharumkan nama bangsa?

Ada beberapa tips untuk Anda bisa membuat mimpi dan Anda akan bisa mendapatkannya:
* Beranilah bermimpi
* Tulis mimpi Anda dalam kertas, minimal 100 mimpi
* Ceritakanlah mimpi Anda kepada orang lain yang Anda temui
* Beranilah untuk gagal, berarti Anda tidak takut untuk sukses
* Tandai setiap mimpi yang sudah tercapai
* Ejekan dan cemoohan jadikanlah sebagai tambahan semangat
* Evaluasi sejauh mana cara yang sudah Anda lakukan yang menyebabkan kegagalan
* Yakinlah Anda adalah pemenang
* Jangan pernah menyesal terhadap semua hal yang sudah terjadi
* Syukuri segala hal yang sudah di dapatkan

Dengan berbagai cara tersebut, sebesar apapun mimpi Anda, niscaya energi alam akan menyertai Anda.

Sudahkah Anda Bera-AKSI?

* Endra Handiyana, Alumni Pembelajar Writer School ”Cara Gampang Menulis Artikel dan Buku Best-Seller batch V”, Site Technical Development PT PAMAPERSADA NUSANTARA

Telah di baca sebanyak: 1655
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *