Agung Praptapa

Junjung yang Tinggi, Tanam yang Dalam (Local Wisdom 3)

Oleh: Agung Praptapa

Para marketer memiliki seribu satu cara untuk memasarkan produknya, namun word of mouth (WOM) diyakini sebagai cara pemasaran yang paling efektif. WOM merupakan strategi pemasaran melalui referensi orang lain. Jadi, dari mulut ke mulut. Nampaknya ini sangat tradisional, namun sulit untuk disangkal bahwa cara ini sangat efektif.

Tidak terbatas pada pemasaran produk, memasarkan nama baik perusahaan (corporate value) maupun nama baik seseorang (personal value) juga sangat tepat melalui pendekatan dari mulut ke mulut. Disinilah kekuatan omongan seseorang. Lihat saja bagaimana acara infotainment di hampir semua stasiun televisi selalu mendapatkan rating pemirsa yang tinggi. Itu karena orang lebih percaya dengan omongan orang dari pada informasi bentuk lain. Sayangnya, orang sering lupa, bahwa hal-hal yang negatif dari perusahaan maupun seseorang juga akan mudah dipercaya melalui mulut ke mulut.

Mari kita amati dilingkungan kerja kita. Sering kita dapati orang yang berkicau saat memiliki informasi negatif tentang seseorang. Tanpa diteliti ulang benar tidaknya informasi tersebut, yang penting tebar isu dulu. Jadilah orang tersebut sebagai orang penting sesaat, orang yang dibutuhkan informasinya. Dia merasa menjadi sumber referensi, ada kebanggaan tersendiri. Apa akibatnya terhadap orang yang diberitakan tersebut bahkan tidak ada dalam pemikiran sama sekali. Apalagi akibat lanjutannya bagi perusahaan.

Jadi bagaimana sebaiknya kita bersikap saat ada hal penting yang harus kita sampaikan pada orang lain? Lebih baik diam? Atau sampaikan saja kepada siapapun toh mereka semua orang dewasa, mereka tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik? Untuk menjawab ini saya akan mencoba menggunakan kearifan lokal dari jawa, yang berbunyi “mikul dhuwur, mendhem jero”.

Falsafah versi original
Mikul dhuwur, mendhem jero dapat diterjemahkan sebagai “junjung yang tinggi, tanam yang dalam.” Ini adalah petuah para leluhur jawa tentang bagaimana seorang anggota keluarga harus bersikap kepada anggota keluarga yang lain. Seorang anak harus berusaha menjunjung tinggi nama keluarga. Ini bisa dilakukan dengan beberapa cara.

Yang pertama adalah dengan cara menjunjung derajat diri sendiri. Gampangnya, jadilah kamu orang yang sukses karena keluarga juga akan terjunjung dari kesuksesanmu itu! Ini adalah cara yang sangat diharapkan oleh keluarga. Ada pepatah jawa yang mengatakan bahwa “anak polah bapa kepradah.” Maksudnya adalah kalau anak bertingkah, akibatnya tidak hanya kepada anak itu sendiri tetapi orang tua juga akan menanggung akibatnya. Anak bertingkah buruk, orang tua akan menerima akibatnya. Namun bila anak bertingkah baik, orang tua juga akan menerima buahnya. Maka, sebagai anak, jadilah orang sukses, karena orang tua dan keluarga akan turut merasakannya. Ini bukan berarti kalau anak sukses harus memberikan setoran kepada keluarga, bukan seperti itu! Tapi kalau anak sukses, setidak-tidaknya tidak merepotkan keluarga. Keluarga kemudian bisa berkonsentrasi untuk mensukseskan anggota keluarga yang lain lagi. Keluarga dapat terus menjaga martabatnya.

Cara yang kedua adalah dengan mendorong anggota keluarga lain untuk sukses, karena sukses mereka akan pula menjunjung derajat keluarga. Jadi, kalau kita belum bisa sukses, biarkan anggota keluarga lain sukses terlebih dahulu. Kita dorong, kita fasilitasi, kita semangati! Bukan kita menjadi iri dengan kesuksesan anggota keluarga lain, apa lagi sampai ada niat untuk menghancurkan kesuksesan mereka.

Yang ketiga adalah dengan cara menyampaikan kepada orang lain hal-hal baik atas keluarga maupun anggota keluarga yang lain. Kita harus pandai-pandai memilah mana yang pantas untuk disampaikan kepada orang lain dan mana yang tidak pantas. Ini tidak terlepas dari konsep words of mouth, yaitu apa yang kita sampaikan kepada orang lain akan menjadi referensi bagi orang lain untuk menyampaikan kepada orang lain lagi. Jadi, menyampaikan hal yang baik akan menjunjung derajat keluarga.

Tiga cara yang dijabarkan di atas adalah cara-cara untuk mikul dhuwur, atau menjunjung tinggi. Lantas apa artinya mendhem jero atau tanam yang dalam? Apa yang harus ditanam dalam-dalam tersebut?

Tanam yang dalam adalah suatu falsafah dimana kita harus pandai pandai menyimpan aib keluarga. Jangan sampai orang lain mengetahui keburukan kita. Ini bukan masalah tidak adanya keterbukaan ataupun transparansi, namun ini berkenaan dengan akibat yang akan terus bergulir apabila kita menyampaikan aib atau keburukan keluarga ke orang lain. Berikan saja yang baik-baik kepada orang lain dan hal-hal yang tidak baik biarlah untuk konsumsi kita sendiri saja. Ingat kekuatan words of mouth!

Aplikasi di Dunia Kerja
Falsafah mikul dhuwur mendhem jero pada mulanya memang diperuntukkan bagi kehidupan keluarga, namun dalam perkembangannya dapat diterapkan pula didunia kerja. Keluarga disini untuk merepresentasikan organisasi atau perusahaan, sedangkan anggota keluarga ataupun anak adalah untuk merepresentasikan karyawan atau anggota organisasi.

Dunia kerja memang penuh dengan kompetisi. Antara satu karyawan dengan karyawan lain sama-sama ingin menuju posisi yang lebih tinggi. Namun posisi tersebut hanya untuk satu atau beberapa orang saja, sehingga persaingan antar karyawan tidak dapat dihindari. Sering terjadi karyawan yang satu justru menyebar luaskan keburukan karyawan lain, sedangkan kebaikan orang lain justru ditanam dalam-dalam. Wah, ini jadi terbalik dari mikul dhuwur mendhem jero. Tapi ini kompetisi, harus bagaimana kita?

Iya benar, ini kompetisi. Tapi bukan berarti kita harus saling membunuh! Kalau dalam satu keluarga perusahaan atau organisasi, anggota atau karyawannya saling membunuh, siapa yang untung? Tentu saja kompetitor! Perusahaan lain! Organisasi pesaing yang untung! Ini harus kita ingat! Ini pula yang menjadikan saya tambah yakin dan hormat dengan falsafah mikul dhuwur mendhem jero. Meskipun persaingan antar karyawan dalam suatu perusahaan sangat tinggi, kita harus tetap menjaga kekokohan perusahaan, agar perusahaan kompetitor tatap memandang kita kokoh dan akan berfikir seribu kali untuk menghancurkan kita. Namun kalau kita menggerogoti perusahaan dari dalam, kita saling membunuh, maka perusahaan menjadi rapuh, kemudian bersiap-siaplah dihancurkan oleh perusahaan pesaing!

Jadi, junjung yang tinggi, tanam yang dalam!

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni Universitas Diponegoro, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang menikmati profesi baru sebagai penulis manajemen populer. Alumni Writer Schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1699
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *