Local Wisdom: Membentengi Diri dari Aji Mumpung

Oleh: Agung Praptapa

Kesempatan tidak datang dua kali. Peribahasa tersebut sering dimanipulasi menjadi apa yang dalam bahasa jawa disebut aji mumpung. Selagi sedang ada kesempatan kita harus memanfaatkannya dengan baik. Ya, ini positif, baik. Namun sayangnya kemudian disalah-artikan dengan kalau sedang punya jabatan, kita harus memanfaatkan jabatan itu secara maksimal. Wewenang harus digunakan secara maksimal, hak harus kita dapatkan sempurna tanpa ada yang tertinggal. Tidak hanya terbatas pada jabatan, namun juga kekayaan, popularitas, kepandaian, dan kelebihan-kelebihan lain.

Memang benar kita harus memanfaatkan secara maksimal apa yang kita miliki. Kalau kita menjalankan hal ini dengan bijak, maka ini termasuk memanfaatkan pada jalur positif. Saat kita sedang mendapatkan rejeki yang berlimpah kita tidak melupakan yang kekurangan. Kita membantu. Kita berderma. Bagus. Kemudian selagi sedang kaya, kita menabung dan menginvestasikan kekayaan kita agar kita dapat menjaga posisi kita sebagai orang kaya. Ini juga bagus. Selagi sedang kaya kita menyekolahkan anak-anak kita ke universitas terbaik di luar negeri. Ini juga memanfaatkan kekayaan dengan benar. Memanfaatkan kekayaan dengan cara ini memang mengandung unsur mumpung, tapi positif, dan ini tidak termasuk dalam kategori aji mumpung.

Aji mumpung adalah kata-kata sindiran dalam bahasa jawa, untuk orang-orang yang memanfaatkan kelebihan yang mereka miliki pada jalur yang tidak bijak. Aji berarti berarti sesuatu yang berharga, sesuatu yang dihormati. Aji juga berarti senjata, formula, atau apa saja yang bisa membentuk kesaktian atau kehebatan. Mumpung bisa diterjemahkan sebagai ‘selagi’ atau ‘saat masih’. Dalam bausastra jawa (kamus bahasa jawa) yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, aji mumpung diartikan sebagai ‘menggunakan kewenangan yang ada untuk keuntungan diri sendiri’. Jadi aji mumpung adalah menggunakan wewenang, kekayaan, kepandaian, garis keturunan, jalur politik dan segala kelebihan yang kita miliki untuk menguntungkan diri sendiri, atau pada jalur negatif.

Mari kita amati di sekitar kita. Berapa banyak orang yang menjadi kaya luar biasa karena jabatan? Berapa banyak orang kaya yang kemudian membeli suara dalam pemilu, atau membeli pengaruh melalui jalur birokrasi? Berapa banyak orang pandai yang kemudian membodohi orang lain? Berapa banyak keluarga atau teman pejabat yang mendapatkan proyek atau pekerjaan yang mendatangkan uang mudah dan murah? Berapa banyak orang-orang partai yang menekan pejabat agar memenuhi apa yang diinginkan? Semoga saja tidak ada. Kalau ada, saya jadi lebih mudah menjelaskan apa itu aji mumpung!

Kalau aji mumpung kita anggap sebagai penyakit, mari kita cari cara-cara supaya kita tidak terjangkit penyakit tersebut. Yang pertama yang kita harus ingat, segala sesuatu yang kita miliki adalah seperti barang titipan, dimana kita memiliki batasan-batasan di dalam menggunakannya. Kalau kita menggunakan dengan cara semau kita, maka yang memiliki barang tersebut akan tidak rela, dan kemudian akan meminta kembali barang yang dititipkan tersebut.

Kedua, kita harus ingat bahwa segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik. Makan itu sehat tetapi kalau berlebihan akan menjadi sakit. Jadi gunakan sesuatu, termasuk wewenang yang kita miliki, secara proporsional. Yang wajar-wajar saja.

Ketiga, kita harus ingat bahwa orang yang diam tidak berbicara bukan berarti mereka bisu. Saat kita memiliki jabatan, mungkin orang diam saja saat kita menggunakan wewenang kita secara tidak benar atau tidak bijak. Mereka diam bukan karena mereka setuju dengan apa yang kita lakukan, tetapi mereka diam karena tidak memiliki cukup keberanian untuk berbicara. Dalam kondisi seperti ini, mereka akan mulai “bernyanyi” pada saat mereka cukup keberanian, cukup kekuatan, atau pada saat sang pejabat tersebut mulai surut atau hilang kekuatannya.

Keempat, disekitar kita banyak mata dan telinga. Orang lain, baik secara terang-terangan ataupun tidak, akan memperhatikan kita, terutama saat kita memiliki jabatan. Semakin besar kewenangan yang kita miliki semakin tajam mata memandang dan semakin peka telinga mendengar. Jadi, jangan pernah berfikir bahwa tidak ada orang yang tahu apa yang sedang kita perbuat.

Kelima, jangan pernah menganggap orang lain bodoh. Tidak sedikit orang yang menggunakan wewenangnya dengan berlindung pada aturan yang berlaku, namun sebenarnya yang ada dibalik itu adalah mereka ingin menguntungkan diri sendiri dengan cara-cara yang menurut perhitungan mereka sesuai aturan. Ingat, orang semakin pintar. Mereka tidak hanya serta merta melihat apa yang kita lakukan, yang menurut kita sesuai aturan ini. Mereka akan berfikir lebih jauh dan mencari makna sesungguhnya dari apa yang terjadi. Sekali lagi, kalaupun orang lain diam, bukan berarti dengan sepenuh hati setuju dengan apa yang kita lakukan.

Keenam, dan ini mungkin yang paling penting, lakukan sesuatu sesuai dengan agama atau ajaran yang kita yakini benar. Ini memang nampak kolot, tapi memang disini sebenarnya muara dari apapun yang kita lakukan. Bukannya sok suci atau sok agamis, namun banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa keyakinan agama sangat berpengaruh terhadap pengendalian diri seseorang.

Enam resep tadi adalah benteng kita sebagai manusia agar tidak aji mumpung. Lantas bagaimana suatu organisasi, perusahaan, atau apapun nama lembaganya, untuk dapat sukses dengan orang-orang yang tidak aji mumpung?

Dalam management control system dikenal suatu konsep yang disebut dengan pusat pertanggungjawaban (responsibility center). Konsep ini menyebutkan bahwa organisasi perlu menempatkan orang-orangnya untuk bertanggungjawab atas unit kegiatan tertentu. Ini sebetulnya langkah manajemen untuk membatasi wewenang sekaligus berbagi tanggungjawab untuk mengendalikan orang-orang atau unit yang ada di dalam organisasi tersebut. Dengan demikian, orang hanya bisa menggunakan wewenangnya sebatas yang telah ditetapkan dan orang tersebut selalu ada yang mengendalikan, yaitu pusat pertanggungjawaban yang ada diatasnya.

Disamping itu, organisasi perlu membentengi diri dengan pengendalian internal (internal control) yang baik. Dalam pengendalian internal yang baik, tidak ada seorangpun yang bisa melakukan kegiatan atau transaksi secara tuntas dari hulu ke hilir. Maksudnya adalah, tidak seorangpun yang secara lengkap bisa menjual, menerima uangnya, kemudian menyimpan uang tersebut, mencatatnya, dan bahkan bisa mengeluarkan lagi karena memiliki kewenangan untuk itu. Dalam sistem pengendalian internal perlu dipisahkan antara orang yang menyimpan uang, mencatat uang, dan yang memiliki otorisasi mengeluarkan uang. Jadi untuk menerima dan mengeluarkan uang selalu perlu orang lain. Akibatnya, orang akan saling mengendalikan.

Tulisan ini mencoba menerjemahkan kearifan lokal jawa pada manajemen modern, sehingga kita bisa selalu ingat bahwa leluhur kita juga memiliki konsep manajemen yang aplikatif sampai sekarang. Disamping itu, karena manajemen tidak akan bisa dilepaskan dengan orang-orang yang ada di dalamya, maka saya juga telah mencoba mengusulkan enam resep, agar kita terhindar dari aji mumpung.

Tulisan ini bukan untuk menggurui siapapun. Dan mohon maaf kalau sampai ada kesan seperti itu. Tulisan ini adalah untuk mengingatkan pada diri saya sendiri, dan siapa tahu bisa bermanfaat untuk orang lain. Penyakit aji mumpung sudah melanda seluruh bagian negeri ini. Dari mana lagi kita bisa memperbaiki negeri ini kalau tidak bermula dari diri sendiri?

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang merintis profesi baru sebagai penulis manajemen populer. Alumni Writer Schoolen Batch VIII. Website: www.praptapa.com Blog: www.praptapa.unsoed.net Email: praptapa@yahoo.com.

7 comments on “Local Wisdom: Membentengi Diri dari Aji MumpungAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *