Kolomnis

LOGIKA DAN KEBAHAGIAAN

Sambil bercengkerama di atas rumput di lapangan di depan mesjid, beberapa orang jamaah memperhatikan layang-layang yang berwarna-warni terbang ke angkasa berlatar belakang langit biru lazuardi. Dari jauh terlihat Mat Kacong mendekati mereka. Mereka menyambut Mat Kacong dengan gembira.

Setelah semua duduk beralaskan rumput hijau, mereka berbicara tentang perbaikan taman di depan mesjid Agung yang besar itu. Mat Kacong hanya mendengarkan percakapan mereka, maklumlah, ia hanya jamaah tamu yang beberapa minggu sekali datang berjamaah di mesjid itu.

Setelah bahan pembicaraan mereka habis, tiba-tiba seorang anak muda mengalihkan perhatian kepada rumput yang ada di lapangan itu, katanya, “Rumput-rumput di lapangan ini sejak dulu hanya begini-begini saja.”

“Maksudmu?” tanya seseorang.

“Tampaknya selalu biasa-biasa saja, tidak memperlihatkan sesuatu yang baru.”

“Huh, kamu ini sering membicarakan hal-hal yang kurang ada artinya,” sergah yang lain lagi. “Masak soal rumput masih sempat menarik perhatian dan diperhatikan. Itu mubazir.”

“Bagaimana perdebatan ini pak Mat?” tanya seseorang kepada Mat Kacong. Yang ditanya hanya tersenyum penuh arti.

“Bagaimana pak Mat Kacong menengahi persoalan ini?”

Mat Kacong masih tersenyum. Lalu memejamkan mata. Kemudian baru bicara, “Kalau kita mengakrabi rumput-rumput yang kita injak ini dengan kacamata “cinta” kita akan merasakan rumput-rumput ini atau rumput dimanapun sebagai sesuatu yang baru dan menyegarkan.”

“Apa manfaatnya kalau kita melihatnya dengan kacamata cinta?”

“Silahkan kalian memperhatikan rumput-rumput ini sekarang juga. Kemudian kita tinggalkan untuk shalat maghrib. Besok setelah shalat shubuh kita perhatikan kembali rumput-rumput ini.”

“Paling-paling tetap seperti sekarang,” komentar seseorang.

“Tidak!” ujar Mat Kacong.

“Lho, kok tidak?” tanya seseorang yang lain.

“Rumput-rumput ini setelah kita tinggalkan satu malam pasti akan bertambah panjang walau sepersejuta millimeter. Perpanjangan itu diikuti oleh semesta rumput yang tumbuh di atas seluruh permukaan bumi ini. Dan yang lebih hakiki dari itu ialah, pada yang demikian itu ada “kerja” Allah.”

“Allahu Akbar!” seru hampir semua yang ada di situ.

Dan benar, dari pengeras suara di atas mesjid Agung itu kemudian terdengar mu’adzin meneriakkan kalimat “Allahu Akbar”.

Saya mengambil kisah di atas dari buku yang berjudul “Sate Rohani dari Madura” karya dari seorang mubalig, D. Zawawi Imron. Jalaluddin Rakhmat dalam kata pengantarnya di buku tersebut memberikan julukan sebagai PENYAIR DESA bagi Zawawi Imron. Kisah di atas merupakan salah satu kisah religius orang jelata. Sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Saya bahkan teringat sebuah acara di salah satu stasiun TV, yang menayangkan kisah “minta tolong” kepada orang-orang. Dan sungguh ajaib, kebanyakan orang-orang yang bersedia menolong dalam tayangan tersebut, hanyalah orang-orang jelata (mereka bahkan sangat miskin, berkahilah mereka yaa Allah).

Begitu sederhananya hidup ini, sampai-sampai kita jarang melihat suatu makna di baliknya. Perhatikan saja, kisah mengenai rumput di atas. Kebanyakan dari kita suka memperhatikan hal-hal besar. Apakah itu demi sebuah gengsi intelektual atau hanya sekedar terlihat lebih hebat. Kebanyakan dari kita sangat jarang memperhatikan hal-hal kecil dan bermakna. Maunya selalu yang “besar-besar”.

Dalam wacana intelektual pun, kita bahkan mempergunakan segala macam logika “canggih”, hanya agar tidak terlihat bodoh. Namun, apakah logika itu hanya untuk perdebatan intelektual saja? Apakah kita bahagia setelah berdebat? Bagaimana pula pelajaran logika dapat mengantarkan kita ke arah yang lebih baik, bahkan meraih kebahagiaan?

Para pakar psikolog menunjukkan kepada kita, bagaimana mengukur kebahagiaan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa kebahagiaan itu terdiri dari dua komponen: pertama, perasaan. Kebahagiaan itu adalah perasaan yang menyenangkan. Bahagia adalah emosi positif, dan sedih adalah emosi negatif. Perasaan ini disebut sebagai unsur afektif. Namun kebahagiaan tidak hanya terdiri dari perasaan; dan ini komponen yang kedua, penilaian. Penilaian sering juga disebut sebagai unsur kognitif. Kebahagiaan ini meliputi penilaian seseorang atas keseluruhan hidupnya.

“Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dipelajari,” tutur Harrison Ford. Oleh karena itu,telah banyak orang-orang sukses yang telah meraih kekayan material, mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk mempelajari arti dari kebahagiaan. Seperti yang telah dikemukakan, kebahagiaan itu merupakan perasaan senang dan penilaian diri. Maka, sudah seharusnya seseorang yang berlogika pun meraih kebahagiaan. Mengapa? Karena logika merupakan pijakan awal terhadap metode berpikir yang benar. Dan penilaian yang benar terhadap diri, tentunya akan melahirkan perasaan senang.

Bagaimana sebuah logika (ilmu) akan membawa kita ke arah kebahagiaan? Dr. Dan Baker, Direktur Program Peningkatan Kehidupan, telah meneliti dan menulis hubungan antara kebahagiaan dan perbuatan baik kepada orang lain (altruisme). Dan ternyata, penelitian menunjukkan bahwa orang bahagia bersikap altruistik. Dan orang altruistik berbahagia. Jika Anda memberikan sesuatu kepada orang lain, maka Andalah yang akan merasa bahagia. Karena memberi adalah menerima.

Saya teringat teman adik saya. Suatu ketika dia dan kawan-kawannya datang ke rumah. Pada satu kesempatan saya mengobrol dengan salah seorang di antaranya. Dia adalah tipe perempuan yang agak kurang bicara. Dari pengalamannya, saya mengetahui bahwa dia adalah tempat curhat bagi teman-temannya. Saya kemudian berkata kepadanya, “Kamu merasa berharga, kan? Kamu merasa senang ketika dapat membantu kawan-kawanmu dalam mengatasi masalahnya.” Ia mengiyakan yang saya katakan tersebut. Hal ini pun ternyata membuktikan bahwa memberi (walau hanya sekedar saran/nasehat) adalah sesuatu hal yang sangat berharga. Dan dalam setiap pemberian, kita akan selalu menerima (diharapkan ataupun tidak diharapkan), walaupun penerimaan itu hanya rasa bahagia.

Walhasil, logika itu bukan hanya “sarana perdebatan”, namun lebih dari itu, mengantarkan kita pada perubahan persepsi yang benar. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ali, “Kemenangan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar.” Dan bagilah kepada orang lain atas apa yang telah Anda ketahui! Tentunya dengan gairah “cinta”, seperti kisah Mat Kacong di atas.

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 2097
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *