Kolom Bersama

Love and Gratitude


Oleh: Erick

Love and gratitude, kasih dan rasa syukur. Dua kata yang ketika saya coba melakukan permenungan merupakan kata-kata yang memiliki kuasa yang luar biasa. Kasih dan rasa syukur menggambarkan suatu emosi dari manusia yang ketika kita mau mencoba mengamati dalam kehidupan sehari-hari mempunyai daya yang sangat besar pada pemberdayaan kehidupan.

Mungkin banyak dari kita yang telah mengetahui suatu penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto yang ditulis dalam bukunya yang berjudul The Miracle of Water. Inti dari penelitian itu, bahwa air dapat menanggapi perlakuan yang diberikan kepadanya. Air dapat membentuk butiran kristal yang sangat indah, namun ini tergantung dari perlakuan yang diberikan padanya. Ketika ia diberi masukan kata-kata dan emosi negatif, bentuk butiran kristal yang dihasilkan menjadi buruk, namun ketika diberi masukan kata-kata dan emosi yang positif dan membangun, butiran kristal yang dihasilkan akan menjadi sangat indah. Dari sekian banyak kata positif yang dilabelkan dalam air pada penelitian tersebut, kata-kata positif membentuk butiran Kristal menjadi paling indah dari yang lain adalah kata-kata berlabel “Love and Gratitude”.

Ngomong-ngomong tubuh manusia sebagian besar terdiri atas air (walaupun saya pribadi kurang tau pasti prosentasenya, mungkin di antara Anda ada yang mengetahui angka pastinya). Jadi kalau kita sering memberi masukan berupa kata-kata atau emosi tertentu pada diri kita, agaknya akan berpengaruh juga pada kondisi maupun keberadaan kita sebagai manusia.

“Gimana mau bersyukur dan mengasihi mas, orang kita ini sekarang lagi susah, belum lagi sakit hati gara-gara abis kena tipu orang. Ga usah yang aneh-anehlah!!” begitu tanggapan seorang teman ketika mendengar argumen saya menyangkut kuasa emosi “love and gratitude”. Memang tidak bisa disalahkan, pendapat orang tersebut sangat benar adanya. Ketika menghadapi suatu masalah tentu emosi spontan kita adalah kecewa dan bukan bersyukur. Ketika kita mengalami konflik ataupun diperlakukan yang tidak layak oleh orang lain, sudah pasti kita spontan akan marah dan mungkin bahkan membenci orang tersebut, bukan mengasihinya. Hal ini sangat lumrah dan manusiawi.

Namun, bukankah pada hakekatnya setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik, apakah Anda pernah bertemu orang yang visi dan impian dari hidupnya adalah memiliki hidup yang penuh dengan kesengsaraan? Bukankah sebenarnya setiap manusia menginginkan kebahagiaan? Jadi, kalau memang benar demikian, kenapa gak kita coba untuk belajar mengelola dan memilih kata-kata dan emosi yang kita pakai untuk menanggapai situasi dan peristiwa yang terjadi? Salah satu pernyataan Anthony Robbins, bahwa makna seringkali hanya soal fokus. Apa maksudnya? Anda pernah mengamati, ada suatu peristiwa yang dialami oleh 2 orang yang berbeda, namun walaupun peristiwanya sama, respon dari 2 orang tersebut berbeda.

Contoh nyatanya begini: ada 2 anak yang masing-masing terpaksa harus tinggal di rumah sendirian karena orang tua dan saudara-saudaranya harus pergi untuk urusan yang tidak bisa mereka tinggal. Apa yang terjadi pada masing-masing anak tersebut? Anak yang satu sangat sedih, dan sepanjang hari dihabiskannya hanya dengan menunggu kepulangan dari orang tua atau saudaranya, tidak ada hal-hal yang ia lakukan, sesekali ia menangis karena merasakan kesepian yang amat sangat. Namun anak yang lain sangat berbeda. Ia justru merasa senang karena bisa aktivitas apapun yang dia mau di rumah. Justru karena tidak ada siapa-siapa dia bisa jadi “raja” di rumah itu, dia melakukan “pesta” di rumahnya yang kosong itu, persis yang dilakukan oleh anak dalam film Home Alone yang tinggal sendiri di rumah. Ia bisa menikmati hidupnya, alih-alih meratapi kondisinya. Kenapa ya bisa gitu? Kita sebenarnya punya kendali untuk memilih emosi seperti apa yang akan kita pakai untuk menanggapi suatu keadaan dan peristiwa, asal kita mau belajar untuk melatih respon kita.

Lalu gimana dengan penerapan emosi “Kasih”, padahal kita sudah banyak sakit hati pada banyak orang yang telah banyak mengecewakan kita. Benar bahwa ini tidak mudah, apalagi kalau sudah menyangkut luka batin yang sudah masuk ke alam bawah sadar kita. Rasanya hampir mustahil untuk memancarkan kasih. Tapi mungkin kita harus kembali lagi mengingat tujuan dari kehidupan kita. Kebahagiaan kan? Kalau dengan memancarkan kasih kita bisa hidup bahagia, kenapa kita tidak mengupayakan untuk selalu memancarkan kasih walaupun itu mungkin sangat banyak tantangannya.

Mungkin banyak di antara kita yang dalam kehidupan sehari-hari dapat berusaha sedemikian rupa untuk mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya pada pekerjaan, atau pada tanggung jawab kita masing-masing. Jadi bukankah sebenarnya kita sudah terbiasa mengupayakan segala sesuatu walaupun terdapat banyak tantangan pastinya? Kalau kita memang kita sudah biasa dengan yang namanya berusaha, ya kenapa kita juga tidak berusaha dan terus belajar dengan berbagai pendekatan dan cara yang kita bisa lakukan untuk mengupayakan agar kita selalu dapat memancarkan kasih dalam setiap keberadaan hidup kita? Ini kan pada akhirnya toh juga untuk tujuan inti dari kehidupan kita, yaitu kebahagiaan, iya kan?

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita akan menghadapi banyak tantangan untuk memancarkan kedua emosi ini, tapi alangkah baiknya kalau kita sama-sama membiasakan untuk selalu mengupayakan emosi-emosi ini, karena mungkin juga bukan karena banyak tantangan untuk mengupayakan emosi-emosi tersebut, mungkin karena kita lupa untuk mengelola tanggapan kita dalam menghadapi situasi, yang dengan begitu saja terbawa oleh rutinitas kita sehari-hari, kita lupa bahwa sebenarnya kita punya kendali. Kita semua menginginkan kebahagiaan, jadi mari sama-sama kita selalu belajar untuk memancarkan “ kasih dan rasa syukur” dalam setiap keberadaan hidup kita.

* Penulis memiliki obsesi dan ketertarikan yang sangat besar pada dunia pendidikan, terutama yang berkaitan dengan pembentukan karakter, sikap mental, pemberdayaan dan efektivitas pribadi. Memiliki hobi olah raga, serta kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pengembangan dan pengoptimalan pribadi. Dia menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Padjadjaran Jurusan Hubungan Internasional. Saat ini, selain sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Manajemen, Universitas Kristen Maranatha, dia bersama beberapa teman juga memberikan materi pelatihan berkaitan dengan pemberdayaan pribadi dan organisasi dengan bendera Kelompok Studi “Anima” yang bertempat di Bandung. Contact: +628996998353; climber_benedict@yahoo.co.id; erickdananjaya@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 977
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *