Kolom Bersama

LUMUT – LUMUT EMOSI


Seorang klien datang kepada saya untuk mengikuti sesi terapi. Dalam percakapan awal, ia mengatakan bahwa ia dulunya adalah seorang wanita yang penyabar akan tetapi pernikahan dengan suami yang pemarah selama 9 tahun mempengaruhi tempramen dia, sehingga saat ini menjadi orang yang mudah untuk marah. Walupun sudah berpisah dengan suaminya, ibu ini masih terus membawa tempramen tersebut seolah-olah menyalahkan sang suami yang telah “menjangkitkan” virus pemarah di dalam dirinya.

Sayapun menceritakan sebuah metafora yang saya beri judul tembok berlumut. Pada suatu saat seorang pembantu mengeluh kepada si empunya rumah, katanya : “ tuan, saya kecewa dan sedih, melihat tembok depan rumah kita yang kusam,kotor,hitam dan penuh dengan lumut. Sayang sekali, tembok tersebut telah berubah menjadi tembok yang penuh dengan kotoran dan menjijikan.”

“ Masa sih” jawab tuannya si empunya rumah. “ tembok tersebut, tetap tembok yang putih dan bersih seperti dahulu “ kata pemilik rumah lagi.
“ Tidak tuan, tembok tersebut sudah berubah, kalau dulunya putih, sekarang sudah menjadi kehitam-hitaman karena dipenuhi oleh lumut.”
Sambil tertawa si pemilik rumah tersebut berkata : “ tembok tersebut tetaplah tembok yang putih dan bersih. Lumut dan kotoran yang menempel di tembok itu hanyalah sementara, selama kita mau untuk membersihkan dan membuang lumut tersebut, kemudian mengecet kembali tembok itu, maka ia segera akan menjadi tembok yang putih dan bersih seperti dulu lagi. “ kata sipemiliki rumah.
“ Ya, betul juga tuan”
“ Saya setuju “
“ Sebetulnya tergantung kita ya, kapan akan membuang lumut yang menempel di tembok tersebut dan mulai untuk mengecet kembali.” Sahut si pembantu sambil menganguk-ngangguk tanda mengerti.

Setelah menceritakan kisah ini saya meminta feedback dari klien saya mengenai makna yang ia peroleh, kemudian dengan tersenyum ia mengatakan : “ Benar pak, sebetulnya semua tergantung saya, kapan akan membuang kebiasaan buruk ini dan mengecet kembali tembok sehingga akan menjadi putih lagi.”
Besok hari ketika bertemu kembali, wajah klien saya ini penuh dengan kebahagiaan, ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun ia tidak dapat sholat dengan khusuk dan baru tadi pagi sholatnya begitu khosuk. Dan yang luar biasa lagi menurutnya, setelah keluar dari kamar tidur, ia terpeleset dan jatuh.

“ Terpeleset dan jatuh, kok luar biasa bu ? Tanya saya sambil bercanda.
“ Bukan terpeleset dan jatuh yang luarbiasa pak, tetapi cara saya bersikap saat jatuh tersebut yang luar biasa.”
“Saya terjatuh akibat lantai yang licin sehabis dipel oleh pembantu saya. Saat terjatuh sipembantu tersebut dengan ketakutan melihat saya, karena ia berpikir pasti akan saya omeli habis-habisan ,karena sudah tahu akan sifat saya.”
Kemudian, yang membuat dia terkejut adalah saat saya tanpa marah mengatakan : “ mbok, kalau mengepel kainnya jangan terlalu basah ya, khususnya di daerah depan kamar.” Sambil tersenyum.
“ Pembantu saya hanya melihat terheran-heran.”

*) Ongky Hojanto adalah penulis buku Best-Seller “The Secret To Be More Success”, partner Penulis buku “Financial Revolution in Action” bersama Tung Desem Waringin. Narasumber OBROLAN Pagi motivasi di Pacific TV dan narasumber di SMART FM Indonesia ini dapat dihubungi langsung di www.ongkyhojanto.com


Telah di baca sebanyak: 2472
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *