Agoeng Widyatmoko

Lupakan Semua Teori Manajemen!

Belakangan ini, banyak orang berbondong-bondong mengikuti berbagai jenis seminar di bidang manajemen. Ada seminar bisnis, seminar motivasi, hingga seminar tips serta trik—bahkan rahasia—yang konon akan menyelesaikan semua masalah dengan mudah. Cara menjual, cara manajemen diri dan karyawan, cara memotivasi bawahan, rahasia berbisnis, dan aneka judul lain—yang seolah selalu jadi solusi ampuh untuk bisa sukses di segala bidang—laris manis di pasaran.

Begitu juga dengan literatur yang beredar di pasaran. Berbagai buku berbau manajemen dan motivasi menghiasi rak-rak buku di berbagai toko buku ternama. Tak jarang, satu dua judul mencuat menjadi buku paling laris. Bahkan, konon royaltinya ada yang bisa beranak pinak untuk anak cucu. Wow!

Cek juga mailing list di alamat email. Banyak sekali pembahasan materi sejenis yang bertebaran. Mulai dari cuplikan yang diambil dari para “dewa” dari luar negeri yang dipercayai bisa mengubah batu jadi emas, hingga ke teori para praktisi tanah air dari yang kelas gedung bertingkat hingga kelas warung tegal. Pokoknya, nyaris tak ada habisnya rumusan sukses manajemen dibahas.

Tapi, yang jadi pertanyaan, mengapa tak banyak yang lantas sukses dengan usaha yang dijalaninya? Tak banyak orang yang hapal teori sukses atau teori menjadi kaya yang akhirnya berakhir dengan kesejahteraan seperti yang diidamkannya? Parahnya, justru banyak orang yang tenggelam dalam (sekadar) teori tanpa pernah menjadi sukses karenanya. Apa penyebabnya?

Bukan kapasitas saya untuk menjawab karena saya sendiri merasa belum sukses sepenuhnya. Meski, ada juga standar-standar sukses—versi saya—yang sudah saya lewati. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saat ini—termasuk saya barangkali—masih banyak yang terjebak dalam ranah teori dan teori belaka. Padahal, untuk menjadi sebuah teori, semua itu butuh proses yang panjang dan bahkan bisa memakan waktu sangat lama.

Bahkan, sebuah teori sukses sebenarnya tak bisa sekadar hadir begitu saja. Seperti juga definisi sukses yang juga tak bisa dipahami sama oleh setiap orang. Jatuhnya saya, gagalnya saya, sakitnya saya, mungkin belum—bahkan tak akan sebanding—dengan jatuh, sakit, dan gagalnya Bill Gates, sang taipan pendiri Microsoft. Atau, jika kita ambil skala yang lebih kecil, gagal dan sakitnya Purdi E Chandra sang pemilik jaringan pendidikan Primagama pastilah juga tak sama dengan rasa sakit ketika saya harus kehilangan beberapa juta dari rekening karena gagal berbisnis.

Tapi, ada satu hal yang sama dari saya, Purdi, dan bahkan Bill Gates. Dan, Anda pun bisa memilikinya. Yakni, semuanya berbasis pada pengalaman alias praktik dalam kehidupan nyata. Bagi saya, semua teori sukses itu hanyalah bumbu penyedap yang tak kan jadi masakan jika tak disatukan dalam rebusan masakan yang dijerang dalam air mendidih di dalam panci yang dipanaskan oleh api ratusan derajat.

Bingung dengan analogi dan penjelasan saya? Izinkan saya untuk menyederhanakannya. Sederhana saja, mulai saat ini, lupakan semua teori! Loh kok? Iya, sebab inilah saatnya untuk langsung praktik. Sebab, tanpa ada praktik, teori secanggih apapun hanya akan jadi tumpukan memori yang hanya akan bagus jika diceritakan, diomongkan, didiskusikan, atau dituliskan dalam berbagai media.

Tentunya, praktik pun tak sekadar praktik. Ada pula proses dimana kita perlu mencari celah dan pegangan agar praktik yang dilakukan berjalan tidak tanpa arah. Nah, untuk satu hal ini, barulah teori dibutuhkan. Namun, bukan sebagai batu pijakan, melainkan hanya sebagai pengetahuan dasar untuk mengarahkan praktik yang dilakukan. Sebab, batu pijakan sebenarnya adalah kemauan, keyakinan, ketekunan, keuletan, dan tentunya semangat untuk maju terus dalam berwirausaha.

Segampang itukah? Tentu tidak! Jika memang ingin berwirausaha di bidang makanan, tentunya paling tidak Anda sudah paham sedikit soal urusan makanan. Seperti halnya saya berbisnis di bidang jasa penulisan, ide, dan event. Sebelumnya saya pernah pula mengalami atau setidaknya mengetahui soal berbagai hal tersebut. Dan, karena saya merasa mampu, jadilah usaha tersebut saya rintis bersama istri sehingga mampu menghidupi beberapa orang.

Ingin tahu catatan kegagalan (baca: pembelajaran) saya? Saya pernah membuat event acara musik dan diskusi (edutainment). Sampai hari H tiketnya hanya dibeli 20-an orang dan bahkan saat digratiskan pun tetap tak banyak juga yang masuk ke acara. Pernah pula saya membuat sebuah buku yang hingga kini penjualannya saat diobral pun kurang laku. Saya pernah pula membuat sebuah acara televisi yang gagal oleh karena sebuah sebab. Itulah catatan-catatan yang belum seberapa. Masih banyak lagi yang lain.

Jerakah saya? Jujur dan tegas saya katakan, tidak! Saya justru mengumpulkan banyak teori baru ala saya yang kini jadi pegangan untuk membesarkan bisnis yang kini saya tekuni. Mungkin, dalam posisi mirip, sang taipan Bill Gates dengan kegagalannya menyaingi iPod—yakni dengan layanan musik Zune—telah belajar banyak dan segera sukses untuk bisnis lainnya. Zune yang gagal mengalahkan iPod kini terus dikembangkan agar bisa mencapai taraf sukses seperti yang diharapkan.

Intinya, lupakan semua teori! Bergeraklah, dan rasakan sensasi menemukan teori-teori baru yang orisinil milik Anda! Berani?

* Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku-buku wirausaha laris, konsultan UKM, dan trainer SPP. Ia dapat dihubungi di email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.

Telah di baca sebanyak: 1260
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *