Kolom Alumni

Maksimalkan Potensi Anak

Oleh: Putri Mayang Sari

Pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini terbukti dengan hasil-hasil didikannya. Ya, saya, salah satu contohnya. Saya telah menghabiskan banyaknya tahun-tahun pertama hidup saya di bangku sekolah namun saya sendiri tidak puas dengan pencapaian saya. Saya kurang percaya diri, kemahiran berpikir saya terbatas, apalagi minat berkarya saya. Syukur alhamdulillah, ayah saya mantan diplomat. Maka pengalaman multikultural saya sudah banyak, walaupun sebagian besar waktu untuk bersekolah dihabiskan di sekolah-sekolah Indonesia milik kedutaan.

Standar yang dipakai sekolah-sekolah Indonesia di luar negeripun sangat tidak jelas. Sistemnya tersentral, yakni menunggu bahan ajar dan bahan ujian dari Diknas, Jakarta. Wong sudah di luar negeri, kok ya nunggu didikte orang Jakarta. Apalagi saya pernah tinggal di Inggris. Atuh kenapa tidak berguru pada ahli-ahli pendidikan macam Cambridge dan Oxford?

Tapi pengalaman juga mengajarkan bangku sekolah bukan satu-satunya sarana pendidikan. Walaupun saya sudah kuliah di UI, Unpad dan University of Wollongong, Australia, saya baru mantap, percaya diri dan lebih ingin berkarya lagi untuk kemajuan Indonesia setelah saya bekerja, setelah saya banyak berinteraksi dengan orang berbagai rupa dan setelah saya berkata saya mau. Mau menjadikan diri saya lebih pintar dari kemarin, lebih kaya dan lebih bisa berbagi. Tapi alangkah baiknya, orang-orang sudah berpikir untuk maju sedini mungkin.

Salah satu pilihan hidup saya adalah menjadi dosen dan juga konsultan pendidikan untuk SMA-SMA yang hendak membuka program berstandar internasional. Saat mengajar, saya berusaha mengajarkan dengan cara-cara yang tidak satu arah, tapi sangat student-centered, dimana setiap mahasiswa bebas memilih cara dia mengiterpretasikan mata kuliah dengan kemampuan yang dia miliki. Kita hanya pandai-pandai mencari kelebihan mereka kemudian memfasilitasi dan mengarahkan. Alangkah terkejutnya kita apabila dari satu bahan topik saja, mahasiswa bisa menghasilkan karya tulisan, poster, hasil penelitian, misalnya, dari berbagai sudut pandang, minat dan latar belakang yang mereka miliki. Sayapun merasa semakin kaya dan bertambah pengetahuan.

Saya juga berusaha membantu merombak sistem pendidikan sedikit demi sedikit dengan melakukan training guru-guru dan mengubah paradigma cara mengajar. Di kantor saya, pernah dilakukan penelitian di berbagai SMA unggulan di sebuah kota besar. Peserta yang diuji adalah guru. Materinya adalah mata pelajaran yang dikuasainya. Ujian sudah didesain agar selain mengukur kedalaman pengetahuan, juga tingkatan mereka perpikir menggunakan Bloom’s Taxonomy. Taksonomi ini membagi tingkat berpikir menjadi 6, dari paling bawah; knowledge (punya pengetahuan), comprehension (bisa mengerti), application (bisa mengaplikasikan), analysis (bisa menganalisa), synthesis (bisa mengsintesa), evaluation (bisa mengevaluasi).

Ciri-ciri yang mampu mengukur kemapuan ini adalah dengan jenis pertanyaan yang kita tanyakan. Kalau knowledge misalnya, kita bertanya menggunakan “Sebutkan..”, “Apa definisi dari..”. Untuk mengetahui kemampuan application, kita dapat menggunakan kata tanya “Tunjukkan..”, “Hubungkan..”, “Buatlah diagram yang menggambarkan..”. Dan untuk evaluation, kita bisa bertanya dengan memulai dari “Kritiklah..”, “Nilailah..”, dan seterusnya.

Setelah melakukan beberapa tes, tingkat kemampuan guru sebagian besar hanya berada di knowledge dan comprehension. Dengan kata lain kemampuan berpikirnya masih di tingkat terendah. Ini berarti mereka sendiri belum mampu mengetahui kegunaan mempelajari ilmu tersebut ataupun membawa pengetahuan tersebut ke arah yang lebih produktif, misalnya menciptakan karya baru, menyelesaikan berbagai masalah yang melanda kita, ataupun minimal menghubungkan ilmu yang mereka miliki dengan kehidupan sehari-hari. Kalau gurunya saja demikian, bagaimana siswa ajarnya?
Ini mungkin bisa dijadikan tolak ukur salah satu penyebab rendahnya kreatifitas bangsa kita.

Sedih? Kaget? Takut? Apalagi saya. Saya punya 2 anak balita. Mau disekolahkan dimana mereka?

Ada baiknya semua orang tua ikut berperan mencerdaskan anak-anaknya. Orang-tualah yang sebaiknya menjadi pendidik utama anak-anaknya dan jangan serahkan anak-anak kita sepenuhnya pada sekolah ataupun orang lain. Sudah saatnya kita semua bertindak sebelum semuanya terlambat, sebelum masa-masa keemasan seorang anak berpikir tidak dimaksimalkan sehingga banyak dari potensi mereka terkubur.

Salah satunya dengan cara merangsang mereka dari kecil dengan pertanyaan-pertanyaan open-ended. Misalnya “Menurut kamu, kenapa ini bisa terjadi?”. “Alat yang seperti ini bisa digunakan untuk apa saja? Kenapa?” Hargai semua pendapat mereka dan jangan salahkan. Beri masukan yang selalu positif dan membangun. Fokus pada semua kelebihan dan minat mereka, dan jangan ributkan hal-hal yang mereka tidak sukai. Lebih sering terjadi adalah, orang tua memberi les pelajaran-pelajaran yang hasil ujian didapat anak jelek atau merah.

Kita juga bisa memaksimalkan multiple intelligence setiap anak. Jenisnya adalah kemahiran; verbal/linguistik, logis/matematika, visual, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan kedekatan dengan alam/lingkungan. Setiap anak paling tidak punya kelebihan 3 sampai 4 diantaranya. Tapi bukan berarti kemahiran yang lain tidak dimiliki, tapi tidak terlalu peka saja. Semua ini bisa diasah dengan mendesain pertanyaan dari satu topik atau pelajaran dimana semua intelegensia mereka dipakai. Ini akan juga memudahkan kita melihat bakat-bakat mereka.

Selain itu, kita juga bisa menggunakan cara bepikir Dr. Edward de Bono, yang dia namakan thinking hats. Kita diminta seolah-olah memakai hat atau topi; perasaan, positif, negatif, kreatif, peneliti, dan berencana. Kita mungkin lebih sering menggunakan cara berpikir 5 W 1 H. Siapa? Kapan? Dimana? Apa? Kenapa? Bagaimana? Tapi dengan thingking hats, kita diminta berpikir lebih dalam. Topi perasaan misalnya berfokus pada, ‘Bagaimana perasaan kita mengenai hal ini?’, ‘Mana yang lebih saya sukai?’. Topi kreatif bertanya ‘Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini?’ ‘Ide apa saja yang bisa kembangkan?’.

Cara berpikir seperti ini sudah ditiru perusahaan-perusahaan besar seperti IBM, DuPont, Exxon, Shell, Nokia, Motorola dan masih banyak lagi. Sebuah perusahaan besar di Finland tadinya perlu menghabiskan 30 hari untuk mendiskusikan sebuah proyek multi-nasional. Dengan metode berpikir secara paralel 6 thinking hats, prosesnya berkurang menjadi 2 hari saja. Perusahaan MDS di Kanada telah menghemat US$20 juta di tahun pertama mereka beralih ke cara ini.

Bagaimana cara mempraktikkannya dalam membimbing anak? Kita bisa meminta mereka melihat satu topik dari 6 segi. Karena biasanya kalau kita berpikir, segala ide dari segala arah bisa masuk. Daripada memperberat kerja otak dengan berpikir bersamaan, anak jadi belajar menangani setiap masalah satu per satu. Dengan mengkombinasikan beberapa aspek, akan terbentuk cara berpikir yang sangat luas cakupannya. Kita bisa memicu sambil bermain;”Mari kita pakai topi negatif.” Segala ide bisa dituangkan. Kemudian kita minta mereka mencopot topi negatif dan memakai topi kreatif, dan seterusnya.

Pendek kata, kita jangan berhenti memaksimalkan potensi anak. Jangan berpikir jangka pendek saja, misalnya harus lulus UN dengan nilai tinggi, atau masuk sekolah/perguruan tinggi favorit. Kita tidak tahu 10-15 tahun kedepan tantangan apa yang akan mereka hadapi, bukan sebagai warga Indonesia saja tapi sebagai warga dunia yang mampu bersaing dengan siapapun, memimpin bahkan menciptakan. Kita juga sebaiknya mencari tahu dengan terus belajar dari buku, seminar, majalah, internet atau ikut kelompok-kelompok, club dan mailist. Apapun sudah mudah kita dapatkan di era ini.

Saya percaya bahwa orang tua yang suka nonton tv akan menularkan kebiasaan nonton tv pada anak, orang tua yang suka membaca akan menghasilkan anak pembaca dan orang tua yang suka belajar, tentunya akan menjadikan anak yang gemar belajar pula.

*) Putri Mayang Sari; alumnus Writer Schoolen “Menulis Artikel Menarik” ini dapat dihubungi langsung di sarimoezdan@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1654
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *