Malu Ah Sama Monyet!

Oleh: Erika Untung

Ada hal menarik yang saya lihat ketika sedang menghabiskan akhir minggu bersama dengan papa, mama, oma, dan 2 adik saya. Dalam sebuah perjalanan di daerah Kelapa Gading, saya melihat hal yang cukup menggelikan ketika sedang terjebak kondisi jalanan yang macet. Di pinggir jalan ada 1 ekor monyet beserta dengan sang majikannya. Ketika mobil yang saya tumpangi secara perlahan maju ke depan menjauhi monyet tersebut, perhatian saya secara tidak sengaja tetap tertuju pada si monyet tersebut. Sang pengendara mobil di belakang saya menjulurkan tangannya untuk memberikan selembar uang seribuan kepada monyet tersebut.



Apa yang terjadi?

Monyet tersebut menerima uang lembaran tersebut. Kemudian melipatnya … dan menciumnya, serta menunduk berterimakasih kepada sang pemberi uang tersebut.. Whew! Sungguh hampir sama dengan manusia bermental pengemis yang semakin banyak saja di negeri ini! Kemudian sang monyet tersebut memberikan uang tersebut kepada majikannya yang hanya cengar cengir tersenyum senang.

Tidak berapa jauh dari tempat tersebut, ada seekor monyet dan seorang majikannya lagi.. Duduk di tepi jalan dan melakukan hal yang sama. Kemudian saya meminta papa saya untuk mencoba memberikan uang kepada monyet tersebut. Papa saya pun melemparkan uang logam 500-an.. Dan apa yang terjadi? Monyet tersebut tiba-tiba berlari menjauh karena kaget..Sementara sang majikannya yang tersenyum senang dan memasukkan uang tersebut ke dalam kalengnya, tanpa bereaksi apapun kepada pemberi uang tersebut.

Memang negeri ini sedang susah, sehingga banyak yang terpaksa semakin terpuruk ke dalam kemiskinan. Namun parahnya lagi, mengemis telah menjadi sebuah ‘pekerjaan’ bagi sebagian orang. Karena dengan mengemis, mereka hanya perlu untuk menadahkan tangan. Dan atau berpura-pura sakit untuk mengharapkan iba dari orang lain. Tidak jarang pula yang menghabiskan uang hasil mengemis tersebut untuk bersenang-senang.

Bukannya saya menuduh bahwa semua orang yang mengemis mempunyai niat negatif seperti itu.. Tidak. Namun kenyataan ini saya ketahui karena ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah aktif dalam ekstrakurikuler sosial. Yang salah satu agendanya adalah kunjungan dan belajar kehidupan orang-orang yang kurang beruntung, termasuk pernah mewawancarai anak jalanan. Rata-rata, mereka merasa nyaman untuk hidup dari mengemis dan sejenisnya. Karena itu cara yang mudah dan cepat untuk menghasilkan uang … daripada harus belajar dan atau usaha lainnya.

Sungguh kasihan ya menjadi sang monyet. Di jaman sekarang ini, muka tebal dan mengharap belas kasihan dari orang lain menjadi hal yang kurang ampuh lagi untuk mendapatkan uang tanpa bekerja keras. Maka, para monyet pun akhirnya harus turut menjadi budak manusia untuk mencari uang (sementara sang majikannya duduk menanti saja). Para monyet tersebut dipakaikan topeng ,serta dipecut rantainya untuk bertingkah laku lucu, sehingga menarik perhatian para pengendara kendaraan yang suntuk karena jalanan yang macet.

Namun, hal yang saya salut dari monyet-monyet ini adalah … mereka tahu untuk tidak lupa BERTERIMAKASIH. Dan monyet tersebut masih mengerti arti BEKERJA!

Demi mendapatkan makanan dari sang majikan, monyet tersebut harus mau untuk beratraksi di depan pengendara sehingga ia diberikan uang oleh pengendara tersebut. Saya yakin sebenarnya sang monyet pun tidak terlalu mengerti ,apa artinya selembar atau sekeping uang tersebut. Yang dia tahu hanyalah bahwa dengan mendapatkan sesuatu itu (seperti yang telah dilatih oleh sang majikan), ia akan mendapatkan makanan.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sama seperti dengan sang majikan tersebut?

Hanya duduk, menanti, dan mengharapkan rejeki tanpa bekerja. Menanti rejeki dari sang monyet. Tanpa disadari, makin lama manusia semakin memalukan ya. Masa mulai minta-minta sama monyet! Malu ah sama monyet! Monyet aja mengerti apa artinya bekerja. Masa kita menjadi sama seperti sang majikan yang menanti rejeki dari monyet.

Kemudian … Berdasarkan pengalaman saya di atas, monyet saja tidak lupa untuk berterimakasih setelah ia diberi sesuatu. Bagaimana dengan kita? Apakah setelah mendapatkan sesuatu, kita masih ingat untuk berterimakasih? Kalau iya, bagus … Kalau tidak? Malu ah sama monyet!

Yah, semoga kita semua masih ingat untuk menjadi manusia yang berakal budi ya.. Masih menyadari bahwa kita masih mempunyai harga diri untuk tidak pantang menyerah dalam bekerja.. Serta ingat untuk berterimakasih atas segala sesuatu yang telah kita dapatkan.. Terutama berterimakasih kepada Sang Pencipta kita.

Malu ah sama monyet!

Leonarda Katarina Erika Untung lahir di Jakarta, 24 Maret 1987. Sejak 2005 – sekarang sedang menempuh pendidikan S1 sebagai mahasiswi Universitas Bina Nusantara jurusan Teknik Informatika, semester akhir. Pada tahun 2005-awal 2007 pernah aktif dan berprestasi sebagai story teller, scrabble player, dan tutor di Bina Nusantara English Club. Di samping itu juga aktif menduduki struktur kepengurusan utama dan berbagai acara terutama berfokus pada bidang multimedia serta publikasi-dokumentasi. Kegiatannya sekarang selain kuliah adalah sebagai pengajar lepas komputer, tenaga lepas proyek desain dan web (freelancer), moderator di Jawaban.Com, serta aktif menghadiri berbagai macam seminar dan pelatihan. Saat ini pun, ia dan rekannya tengah merintis sebuah social networking Indonesia untuk berkumpulnya komunitas secara online di Indonesia dengan mendirikan www.otofriends.com yang anggotanya telah mencapai ratusan anggota.

Telah di baca sebanyak: 503

Comments

4 Responses to “Malu Ah Sama Monyet!”
  1. Puspita w says:

    Yang pasti saya iri pada keberhasilan ibu. selamat berjuang.

  2. Rudy Haryanto says:

    Salam Mbak Erika…

    Waktu kecil, ada seekor monyet (monyet beneran), yang menjadi teman kecil saya. Namanya Si Boy. Saya lebih nyaman bermain dengan Si Boy dibanding anak seumuran. Hal ini karena Si Boy lebih setia, lebih nurut dan hanya mau bersikap ramah kepada saya saja. Dan yang lebih penting lagi, yang jelas Si Boy tidak mempunyai hal seperti apa yang akan saya ceritakan….

    Suatu hari, saya asik ngobrol dengan beberapa kawan satu angkatan di kantin kampus. Kebetulan, saat istilah “tanggal tua” memporak-porandakan dompet, saya masih bisa mentraktir dan menawarkan rokok kepada kawan-kawan saya pada waktu itu. Tanpa ba bi bu tiap orang ambil satu-satu. Sambil membahas topik mengenai keiklhasan, masing-masing dari kami mulai memberikan pendapat beragam sambil menghisap rokok dalam-dalam. Pendapat kami rata-rata positif dan “jauh dari sifat buruk”.
    Nah, hingga tiba waktunya kopi saya disuguhkan oleh pelayan kantin. Ada kawan saya yang bertanya.
    “masih tanpa gula Rud??”
    “Ya”
    “kenapa”
    “lebih enak tanpa gula, lebih alami dan….”
    belum selesai saya ngomong, tiba-tiba ada teman saya nyeletuk.
    “bilang aja kalo kopinya ga boleh diminum sama yang lain…”

    satu komentar saja sudah menimbulkan banyak sindiran terhadap saya dari kawan-kawan saya yang lain….

    Yang mungkin kita ambil dari cerita di atas adalah, kenapa ya… sudah di traktir, masih nyindir. Aneh bukan, padahal semenit sebelumnya kalimat mutiara selalu terdengar dari pembicaraan. Mungkin, jika Si Boy ada pada waktu itu, dialah yang paling iklhas menunjukan rasa terima kasih.

  3. Abu Jundi says:

    memang,manusia yang tidak beriman lebih rendah dari binatang ternak atau juga lebih rendah dari monyet, tidak punya harga diri dan malu lagi,harusnya malu sama monyet yang mau bekerja untuk mendapatkan makan,tapi manusia kokh gitu yach..enggak mau kerja maunya makannya aja, harusnya yang seperti itu baca artikael -artikel motivasi di pembelajar.com biar termotivasi jangan malas.Bangsa kita jelek itu karena manusia seperti itu coba kalau yang dilihat mbak Erika pasti bangga,apalagi kalau posting fotonya agak cakep sedikit gitu walaupun judul artikelnya tentang “monyet”.afwan.

  4. hardini says:

    “malu dong sama monyet “, giman mmbuat mreka malu dan mau memperbaiki diri ? Nah ! itu yang penting :)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top