Agung Praptapa

Managing Performance: Becik Ketitik, Ala Ketara (Local Wisdom 7)

Oleh: Agung Praptapa

Dalam dunia kerja kita sering menemui orang yang nampaknya biasa-biasa saja tetapi miliki karir yang bagus. Dilain pihak, ada orang yang cerdas justru tidak terlampau cemerlang karirnya. Mengenai hal tersebut orang beranggapan bahwa itu semua bergantung pada sebagaimana hebat seseorang “me-market-kan” diri sendiri. Seperti halnya suatu produk, sehabat-hebatnya produk kalau kita tidak dapat memarketkan dengan baik akhirnya produk tersebut tidak laku juga. Sedangkan produk yang biasa-biasa saja tetapi marketingnya bagus dapat laku dipasar. So, it is about marketing! Dengan demikian, apabila kita memiliki produk yang bagus yang disertai dengan marketing yang bagus tentunya produk kita akan laris di pasar. Demikian pulakah bagaimana sesorang berkarir? Kapasitas diri dan marketing menjadi kunci? Dalam konteks bagaimana seseorang “laku” di pasar karir, hal tersebut boleh dikatakan benar.

Namun hal tersebut kemudian menimbulkan beberapa pertanyaan. Yang pertama, kalau benar bahwa prestasi kerja bergantung kepada bagaimana seseorang memarketkan dirinya, maka orang dengan kapasitas dan kinerja yang terbaik tidak ada jaminan akan mendapatkan prestasi kerja terbaik pula. Yang ke dua, kalau benar kunci prestasi kerja adalah bagaimana seseorang dapat memarketkan dirinya dengan baik, maka orang lebih baik berkonsentrasi pada memarketkan diri dari pada memberikan kinerja terbaiknya. Yang ke tiga, bagaimana sistem penilaian kinerja yang mampu menilai secara tepat agar prestasi kerja berbanding lurus dengan kinerja seseorang?

Kemampuan seseorang untuk memarketkan dirinya boleh dikatakan sebagai suatu hal yang akan mempengaruhi bagaimana orang lain, terutama atasan dan orang-orang kunci diperusahaan, akan cepat dan nyaman menandai prestasi dan kemudian mendorong mereka untuk mendukung promosi orang yang pandai memarketkan dirinya tersebut. Namun harus diingat, bahwa apabila struktur organisasi sudah mulai membesar maka kesempatan untuk menilai langsung kinerja karyawan tidaklah bisa secepat seperti saat struktur masih sederhana. Pada organisasi yang besar penilaian prestasi karyawan harus melalui suatu mekanisme tertentu dalam suatu sistem penilaian kinerja (performance evaluation system/PES). Dengan PES yang baik, karyawan dengan kinerja terbaik akan tercatat sebagai yang terbaik pula.

Usaha mamarketkan diri memang tidak keliru, namun jangan sampai kita lupa bahwa tugas utama kita adalah berkinerja yang baik terlebih dahulu baru kemudian melakukan kegiatan marketing agar kinerja kita terekam dengan baik di benak para pengambil keputusan. Jangan sampai kita keliru mengaplikasikan memarketkan diri sendiri dengan cara-cara yang tidak terpuji seperti menjilat dan mengambil hati dengan cara yang tidak beretika. Untuk itulah maka sekali lagi performance evaluation system sangatlah penting dalam organisasi modern dewasa ini. Dengan adanya sistem penilaian kinerja yang sudah tertata rapi dan pasti, karyawan akan lebih memfokuskan diri untuk bekerja sebaik-baiknya dari pada usaha memarketkan diri.

Lantas bagaimanakah performance evaluation system yang baik? Disini kita bisa menggunakan ajaran para leluhur bahwa dalam hidup ini “apa yang baik akan tercatat dan apa yang jelek akan nampak”. Istilah aslinya dalam bahasa jawa adalah “becik ketitik, ala ketara”. Bagaimana aplikasi ajaran tersebut bagi seseorang untuk meraih prestasi dalam karirnya dan bagaimana pula hal tersebut dapat dijadikan landasan dalam performance evaluation systems? Mari kita bahas disini.

Becik ketitik mengandung makna bahwa dalam hidup ini kita tidak perlu merisaukan apakah hal-hal baik yang telah kita lakukan akan diketahui orang lain apa tidak. Tuhan itu adil, dan dunia telah memiliki mekanisme yang entah siapa yang mengatur sehingga kebaikan akan tercatat sebagai kebaikan. Tapi dalam dunia kerja mungkin sering terjadi orang yang berkinerja baik justru tidak tercatat, tetapi orang yang bekerja tidak baik justru tercatat sebagai berkinerja baik karena unsur kedekatan dan mungkin sudah menyangkut pada urusan jilat-menjilat. Tentang hal tersebut para leluhur memberikan kepastian bahwa penilaian yang tidak benar tersebut tidak akan bisa seterusnya sepanjang masa. Orang akhirnya akan tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Aslinya akan segera nampak. Kita bersabar saja karena becik ketitik, ala ketara, yang baik akan tercatat, yang jelek akan nampak.

Ala ketara mengandung arti bahwa percuma saja kita berbuat hal-hal yang tidak baik karena walaupun dibungkus dengan apa saja akhirnya orang akan tahu juga. Jadi kita tidak perlu bersibuk-sibuk menjilat atasan, karena akhirnya atasan juga tidak akan tahan kalau dijilat terus tetapi kinerja bawahannya tidak baik. Apalagi dijilat tetapi dibelakangnya sebenarnya dikhianati. Jadi dari pada menghabiskan energi untuk memarketkan produk buruk sebagai produk yang baik, lebih baik kita berkonsentrasi untuk membuat produk yang baik, dan kemudian memarketkan sebagai produk yang baik pula, karena kenyataannya produknya memang baik. Jadi, lebih baik kita selalu berbuat yang terbaik dan melakukan pekerjaan kita dengan kualitas yang prima.

Bagi perusahaan atau organisasi yang menyusun performance evaluation system juga harus memperhatikan bahwa dalam sistem yang ada harus mengakomodir hal tersebut, yaitu harus mampu mencatat dengan baik kinerja karyawan, dan harus mampu pula mencatat karyawan yang berkinerja tidak baik. Sistem harus disusun agar becik ketitik, ala ketara.

Sebagai kesimpulan, marilah kita tidak ragu-ragu dalam berbuat baik. Kita tidak perlu berbuat baik secara palsu, yaitu berbuat baik apabila ada orang yang tahu saja. Melakukan yang terbaik untuk perusahaan atau organisasi ditempat kita kerja adalah suatu penghormatan pada diri sendiri. Sangat memalukan bila kita bekerja dengan performa terbaik hanya bila kita yakin sedang dilihat oleh atasan, dan bila atasan tidak melihat kemudian kita bekerja serampangan. Itu mental babu, mental budak! Para budak hanya bekerja baik apabila dilihat oleh tuannya. Mari kita bekerja sebagai profesional, yaitu bekerja yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Dilihat orang maupun tidak kita harus memberikan yang terbaik. Selalu memberi yang terbaik, di manapun, kapanpun. Yakinlah bahwa becik ketitik, ala ketara.

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1712
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *