Manajemen 2.0: Tantangan Organisasi Modern

Oleh: Avanti Fontana

“Kekuasaan lebih baik mengalir dari bawah dan pemimpin muncul, alih-alih ditunjuk.”

Pada suatu sore yang cerah di bulan September, pikiran saya ngelantur ke bayang-bayang kesibukan banyak orang kantoran bersiap pulang ke rumah, sementara banyak juga yang masih menekuni pekerjaannya, sebagian dalam kantor-kantor moderen dengan furnitur minimalis. Sebagian lagi dalam kantor elegan dengan sentuhan interior bernuansa kulit lembu dan kayu jati. Sebagian lagi dalam bilik-bilik kecil bahkan usaha di garasi rumahan atau sewaan. Saya bergumam sendiri, sambil meneguk teh manis rasa jahe yang barusan dikeluarkan oleh salah satu perusahaan terkenal internasional, “betapa keseharian kita dipenuhi oleh kehidupan berorganisasi”.

Saya sering menyampaikan kalimat ini di kelas saat memulai sesi-sesi teori organisasi, “sebagian waktu kita lewatkan di dalam organisasi, bekerja di perusahaan, menjadi mahasiswa sebuah kampus, menjadi anggota organisasi lingkungan, dan seterusnya”. Jika kita menghitung jumlah organisasi di mana kita berafiliasi, kita juga bisa menghitung seberapa besar keterlibatan kita di masing-masing organisasi tersebut. Kita bisa berkata, semakin tinggi keterlibatan, semakin baik. Keterlibatan macam apa, itu yang menjadi soal kemudian. Untuk apa terlibat? Bagaimana cara melibatkan diri atau dilibatkan? Siapa-siapa saja yang terlibat?

Lagi di kelas-kelas teori organisasi, para peserta yang kebanyakan adalah manajer tingkat madya ke atas, kerap mereka terhenyak saat mereka diundang untuk mempertanyakan kembali paradigm-paradigma berpikir atau melihat yang mereka adopsi selama ini tentang organisasi. Menggeser paradigma lama ke baru bukanlah hal yang sama dengan membalik koin. Dari perbincangan saya dengan para manajer berbagai bisnis, sebagian dari mereka masih melihat organisasi semata sebagai alat pencapaian efisiensi dan efektivitas dan kinerja finansial. Mempertanyakan hegemoni kekuasaan yang terjadi dalam organisasi, marjinalisasi pihak-pihak tertentu dalam organisasi masih barang langka. Melihat organisasi sebagai hasil konstruksi orang-orang yang ada di dalamnya, yang mempengaruhi bagaimana organisasi memaknai setiap situasi, peristiwa, sebelum bertindak, juga masih menjadi sesuatu yang belum sampai ke tahap disadari.

Organisasi masih dilihat seperti mesin saja, diatur dan dikendalikan secara mekanistik, ada operator dengan pekerjaan cukup monoton, ada pemimpin dengan daya kendali imbalan atau hukuman (reward or punishment) untuk pekerjaan yang dihasilkan, kendali hasil atau output. Berbicara dan berpraktik mengorganisasi sampai pada tahap yang disadari masih juga barang langka. Sampai-sampai banyak orang, termasuk sebagian pakar bukan manajemen, mengatakan bahwa “manajemen itu rasional dan mudah”. Pakar dan pemikir manajemen, banyak praktisi baik dan sukses dalam mengelola organisasi mereka berkata bahwa “manajemen adalah “art, science, and craft”. Bayangkan, menatakelola (to manage) adalah berseni, ada seninya, ada ilmunya, dan ada tekniknya yang bersifat luwes lagi fleksibel, penuh daya penyesuaian, seperti orang membuat pottery, melukis, belajar main piano, bermusik jazz, dan seterusnya.

Saya juga mengelamunkan satu organisasi yang orang-orangnya sedang sibuk berebut kuasa dan pengaruh. Beberapa manajernya mengundurkan diri secara tiba-tiba, paling tidak bagi kebanyakan orang yang mengetahuinya kemudian. Surat-surat elektronik di mailing list penuh dengan tuntutan dan cemooh. Beberapa pekerja profesional mulai berpikir untuk mengundurkan diri, entah itu sebagai letupan emosi hati ataukah niat yang sebenarnya hasil pertimbangan jernih pikiran. Beberapa pihak mulai melihat adanya penurunan kualitas produk yang ditawarkan dan rendahnya pelayanan purna jual. Sekelompok konsumen mulai beralih mata ke produsen lain.

Pemimpinnya masa bodoh. Perang atau lomba kepentingan tiada henti. Mencari popularitas dan materi seakan menjadi lagu wajib organisasi tersebut. Persaingan antar anggota organisasi menjadi warna yang belum pudar. Orang-orang yang merasa tidak pas dengan situasi tersebut, pelan-pelan, ada juga yang cepat-cepat, meminggirkan diri dari arena “permainan kekuasaan” itu. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak saya. Mau ke manakah organisasi ini mengarah? Pemimpin tanpa visi bersama kah yang berkuasa? Bagaimana dengan para profesional dan karyawan yang ada di dalamnya? Apakah tren organisasi demikian adanya?

Terbuka mata pikiran, hendaknya, ketika membaca baris-baris tantangan manajemen moderen tulisan Gary Hamel dalam Harvard Business Review February 2009 tentang 25 tantangan dalam penatakelolaan organisasi masa kini dan masa mendatang. Organisasi yang saya gambarkan sekilas di atas jauh atau belum mampu menunjukkan kemampuan menjawab 25 tantangan tersebut. Pekerjaan Rumah luar biasa bagi organisasi tersebut jika ingin menjadi teladan.

Keduapuluhlima tantangan ini berimplikasi pada bentuk-bentuk organisasi moderen dalam menata desain organisasi; desain organisasi yang memungkinkan direalisasikannya pekerjaan manajemen untuk melayani tujuan yang lebih besar, mulia dan membawa misi sosial, melibatkan ide-ide komunitas dan warga negara dalam sistem manajemen.

Organisasi perlu merancang kembali landasan filosofis manajemen. Manajemen tidak hanya berkutat pada aspek efisiensi. Organisasi perlu mengeliminasi gejala-gejala hierarki formal. Kekuasaan lebih baik mengalir dari bawah dan pemimpin muncul, alih-alih ditunjuk.

Praktik manajemen dalam organisasi moderen ini penuh dengan kebebasan. Organisasi mengurangi ketakutan dan meningkatkan kepercayaan (trust). Ketidakpercayaan dan ketakutan merupakan racun inovasi dan mesti dihindari. Dalam kondisi ini organisasi perlu menemukan kembali cara mengontrol. Sistem pengendalian mesti mendorong pengendalian dari dalam alih-alih memberi batasan-batasan dari luar, larangan-larangan atau hukuman-hukuman.

Organisasi perlu mendefinisikan kembali kepemimpinan. Pemimpin adalah arsitek sistem sosial yang membuat inovasi dan kolaborasi terjadi. Keberagaman organisasi diperluas. Sistem manajemen menghargai perbedaan pendapat, diversitas dan divergensi, sama perlunya dengan menghargai kesatuan, konsensus, dan kohesi.

Tantangan manajemen organisasi moderen ini menuntut pula perumusan strategi secara emergent. Formasi atau pembentukan strategi mencerminkan prinsip-prinsip biologi (variety, selection, retention).
Manajemen 2.0 membawa impikasi pada perubahan desain organisasi menjadi lebih luwes; kekakuan struktur berkurang. Organisasi-organisasi besar memecah dirinya menjadi unit-unit organisasi yang lebih kecil agar organisasi dapat lebih beradaptasi dan inovatif. Kurangi kecenderungan menjaga status quo. Hal ini memfasilitasi inovasi dan perubahan. Penugasan dalam menetapkan tujuan organisasi disebarkan ke segala penjuru organisasi.

Organisasi perlu mengembangkan pengukuran kinerja yang holistik, yang mengukur dan memberi apresiasi pada kapabilitas manusia dan perekonomian kreatif. Sistem imbal jasa dan kompensasi memungkinkan para eksekutif memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai jangka panjang bagi semua pemangku kepentingan.

Ciptakan demokrasi informasi. Orang-orang dalam organisasi yang memiliki kesempatan pertama untuk berinteraksi dengan konsumen diberikan wewenang untuk mengambil keputusan berdasarkan data dan informasi yang tepat. Hal ini berkaitan dengan pengembangan sistem manajemen yang meredistribusi kekuasaan kepada mereka yang memiliki visi besar tentang organisasi dan memiliki integritas, serta tidak takut “kehilangan” bila terjadi perubahan.

Praktik-praktik di atas mengembangkan sistem manajemen yang memampukan para individu dalam organisasi dan memicu eksperimen di unit-unit yang lebih kecil atau bahkan di unit paling bawah dalam organisasi. Sumber daya dialokasikan berdasarkan ide, inisiatif, dan bakat individu dalam organisasi alih-alih berbasis hierarki. Pada situasi ini, terjadi depolitisasi proses pembuatan keputusan. Sistem manajemennya memicu kreativitas.

Organisasi moderen ini merupakan organisasi yang sistemnya memungkinkan kapabilitas bereksplorasi dan belajar berada secara harmonis dengan kapabilitas pengambilan keputusan yang berfokus pada efisiensi dan hierarki. “Manajemen masa depan bukan manajemen hitam atau putih. Ia adalah manajemen hitam dan putih.”

Sistem manajemen tersebut melahirkan dalam organisasi komunitas-komunitas yang bertujuan mulia (communities of passion). Pendekatannya memampukan individu berkontribusi lebih besar daripada sekedar untuk organisasinya. Organisasi mengangkat nilai-nilai humanis.

Pemikiran reflektif berkembang. Pembelajaran timbal balik (double-loop learning) berkembang. Berkembang pula pemikiran berbasis sistem, pemecahan masalah secara kreatif, dan pemikiran yang dipicu oleh nilai-nilai sosial.

Apa kontribusi sekolah-sekolah bisnis dan pusat-pusat pembelajaran di dalam organisasi dalam menjawab tantangan-tantangan Manajemen 2.0 ini? Sekolah-sekolah bisnis di berbagai tingkat, perusahaan dan organisasi pada umumnya perlu merancang kembali program kuliah dan pelatihan untuk membantu para peserta sekolah bisnis, pembelajar, dan eksekutif mengembangkan keterampilan dan keahlian berpikir reflektif, sistemik, kreatif dan mereorientasikan sistem manajemen moderen untuk mendorong penerapannya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana mengembangkan keterampilan dan keahlian berpikir reflektif, sistemik, dan kreatif.

*) Avanti Fontana, penulis buku Innovate We Can!, fasilitator & coach untuk Inovasi, peneliti & fasilitator pengajaran bidang inovasi, manajemen & strategi pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, berpengalaman lebih dari 9 tahun sebagai pengamat & analis praktik inovasi. Avanti dapat dihubungi melalui pos-el: avantifontana[at]gmail[dot]com. Ia menerbitkan Blog Note tentang inovasi dan coaching di alamat www.imedcoaching.com sejak tahun 2007.

Telah di baca sebanyak: 2008

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top