Wandi S Brata

Matahati

Saya terperangah oleh data kebutaan, di dunia maupun di negeri kita. Setiap tiga menit, ada tambahan satu orang buta di Indonesia. Tiap tiga menit, satu saudara kita tiba-tiba tak lagi dapat melihat indahnya dunia.

Anda ingin tahu rasanya jadi buta? Anda bisa mengalaminya untuk sementara di mana saja. Kalau mau sambil makan minum di cafe, pergilah ke Jalan Pasirkaliki 16 C-D, tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Bandung. Di sana ada Blind Cafe. Di sana ada sensasi ” menjadi buta sementara”.

Konsep cafe dan restoran itu memang lain dari yang lain. Karena itu sensasional dan bikin kita pingin tahu, mencoba dan merasakannya. Setelah pesan makan minum, sebelum memasuki ruangan yang serba gelap pekat, Anda akan diminta meninggalkan barang apa pun yang bisa menghasilkan cahaya. Rokok dimatikan. Korek api dan hp tak akan boleh masuk. Sensasi mulai, ketika Anda dan teman-teman atau keluarga Anda berjalan satu per satu dengan berpegangan pundak orang di depannya, menuju tempat duduk. Anda dan teman-teman Anda pasti cekikikan.

Tawa dan segala komentar lucu mulai menjadi-jadi ketika hidangan tiba dan Anda bingung bagaimana menyantapnya. Karena Anda harus menyentuh untuk mengidentifikasi makanan pesanan Anda, jari belepotan atau gelas tumpah itu biasa.

Beraktivitas di ruang serba gelap itu tentu membawa pengalaman yang tak biasa. Tapi jangan aneh-aneh seperti saat di gedung bioskop bersama pacar, sebab pelayan menggunakan kacamata night vision yang mampu menembus kegelapan.

Mengalami sensasi di situ bisa menyegarkan bahkan mencerahkan, kalau kita mengalaminya hanya untuk sementara. Coba bayangkan, apa yang akan Anda lakukan, atau bagaimana sikap Anda terhadap kehidupan, andaikata realitas kebutaan itu menjadi tetap? Hebat Anda kalau Anda masih bisa mudah cekikikan.

Karena itu, bagi saya, sungguh hebat, saudara-saudara kita yang buta, yang masih memiliki rasa humor yang tinggi. Sungguh hebat mereka, yang walau menyandang kerugian tak terkira karena tak bisa memandang dunia, masih bisa menjalani kehidupan dengan ceria.

Saya tidak punya data berapa persen orang buta yang menjalani hidup mereka dengan bahagia. Saya tak heran kalau sebagian besar memang tersaruk-saruk dalam derita, karena kita tahu betapa besarnya kerugian akibat kehilangan cacat mata itu.

Sayangnya, jumlah saudara kita yang seperti itu banyak sekali. Menurut World Health Organization (WHO) saat ini 161 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan. Di antara jumlah itu, 37 juta buta total, dan 124 juta rabun atau mengalami gangguan penglihatan.

Kebutaan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia, yaitu 1,5% dari penduduk, sementara negara Asia lain kurang dari 1%. Berarti di negeri kita ada hampir 3,5 juta jiwa, meliputi orang dewasa dan anak-anak. Di dalamnya belum termasuk penderita dengan kelainan refraksi yang memerlukan kacamata, tetapi tidak mampu beli.

Penyebab kebutaan tersebut adalah: katarak (gangguan pada lensa mata – 50%), trakoma (infeksi mata luar – 15%), kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, glaukoma (gangguan tekanan mata), kelainan mata pada anak-anak, retinopati diabetik (gangguan mata akibat penyakit diabetes), dan degenerasi makula (age-related macular degeneration – gangguan lain akibat penuaan).

Sebenarnya, 80% dari kebutaan itu bisa dicegah atau disembuhkan. Tragisnya, mayoritas dari mereka tergolong tidak mampu.

Karena itu, WHO mempropagandakan visi global VISION 2020: The Right to Sight dan bekerjasama dengan International Agency for the Prevention of Blindness untuk menghapus ”kebutaan yang bisa dihindari”, secara global, pada tahun 2020.

Pemerintah Indonesia ikut menandatangani prakarsa global tersebut, namun keberhasilan program ini tentu amat mengandaikan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, Yayasan Lions Indonesia, Kompas-Gramedia Group, Guo Ji Ri Bao, dan Persatuan Dokter Spesialis Ahli Mata Indonesia, berkerjasama meluncurkan Gerakan Sosial MATAHATI, Peduli Kesehatan Mata, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mata dan menggalang dana untuk membantu operasi katarak penderita yang tidak mampu.

Rangkaian kegiatannya meliputi penyebaran informasi kesehatan mata, seminar dan pameran kesehatan mata, penggalangan dana, pemeriksaan mata gratis dan operasi katarak gratis bagi penderita yang tak bisa membiayai sendiri operasinya.

MATAHATI bergerak dengan resmi di bawah perlindungan Menteri Kesehatan RI: DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP. Dewan penasihat terdiri dari Jakob Oetama (Presiden Komisaris Kompas – Gramedia), Prof. Ted Sioeng, PH.D (Presiden Direktur Guo Ji Ri Bao, koran berbahasa Mandarin terbesar di Indonesia), Pandji Wisaksana (Ketua Pembina Yayasan Lions Indonesia), Dr. dr. Tjahjono Gondhowiardjo, Sp.M, Ph.D. (Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia, Direktur Pengembangan dan Pemasaran RS Cipto Mangunkusumo). Ketua Umum: St. Sularto, Ketua Pelaksana: Nugroho, Wakil Ketua Pelaksana I: Tony Djumadi, Wakil Ketua Pelaksana II: Untung K Wijaya, Sekjen: Wandi S Brata; Bendahara: Devina Dewi Mariana.

MATAHATI Peduli Kesehatan Mata telah mendapatkan komitmen dari para dokter spesialis mata dan banyak rumah sakit yang mampu menyelenggarakan operasi katarak, di seluruh Indonesia, untuk menyelenggarakan operasi katarak bagi para penderita tidak mampu, dengan biaya minimal. Sejak diluncurkan di Mangga Dua Square, Jakarta Utara, awal Agustus 2008, sampai akhir Juli 2009 program telah berhasil melakukan operasi bagi 3.590 orang. Program masih terus akan dilakukan dan untuk sementara ini masih tersisa dana untuk 2.000 operasi.

Dalam rangka itu, sebagai Sekjen gerakan sosial ini saya mengundang partisipasi Anda. Entah mewakili institusi maupun secara pribadi, saya undang Anda untuk bersyukur atas penglihatan prima yang dianugerahkan kepada kita. Caranya dengan menyisihkan dana, untuk membantu penderita yang tidak mampu. Bayangkan, berapa pun dana yang Anda sumbangkan itu akan memungkinkan saudara kita yang selama ini hidup dalam kegelapan tiba-tiba bisa melihat lagi indahnya dunia. Betapa bahagia Anda tahu hal itu!

Dana Anda dapat ditransfer ke MATAHATI 2020, Nomor Rekening: 012.301.915.3 BCA Cabang Gajah Mada, Jakarta.

Anda dapat mendaftarkan kenalan atau kerabat yang tidak mampu (yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu dari RT, RW, Lurah) ke Sekretariat Matahati, Gedung Kompas-Gramedia, Jl. Palmerah Barat 33 – 37, SLIPI, Jakarta 10270, Telp. (021) 536 50 110, 536 50 111 pesawat 3511 (Kunny, Yudith), 3515 (Yati), Fax (021) 530 0545. Email: matahati@gramediapublishers.com

MATAHATI akan menjadwalkan dan merefer penderita ke rumah sakit terdekat di daerah atau kotanya.

*) Wandi S Brata; Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 2413
admin
Admin Pembelajar.

One thought on “Matahati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *