training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Melejitkan Karir

August 31, 2010 by  
Filed under Artikel Writing School


Oleh: Supandi

Di dalam lingkungan pergaulan Anda, terutama di lingkungan kerja, Anda sering dihadapkan pada sebuah perbuatan amoral yang dilakukan oleh pimpinan Anda. Kondisi tersebut biasanya akan memancing reaksi para bawahanya, termasuk diri Anda. Hasrat moral pada akhirnya akan memacu emosi Anda untuk melakukan komplain terhadap kenyataan yang ada, karena bertentangan dengan suara hati Anda.

Contoh yang paling popular adalah perilaku seorang pimpinan yang cenderung mudah mengikuti arus sistem yang bobrok, seperti tindakan korupsi berjamaah. Kekuatan sistem yang ada sering memicu sang pemimpin mengorbankan idealisme dan ketahanan keimanan yang dimilikinya. Runtuhnya idealisme seorang pimpinan mendorongnya tergelincir dalam arus tindak penyelewengan.

Sebagai sesama manusia, Anda merasa tidak tega jika tetap membiarkan perilaku pemimpin tersebut. Anda terpanggil untuk memberi peringatan kepada dia agar tidak terjerumus dalam tindakan yang tidak terpuji dan merugikan pihak lain.

Diakui atau tidak, Anda sebenarnya mengetahui dengan jelas tindak penyelewengan yang dilakukan oleh pimpinan Anda tersebut. Dengan demikian, ketika panggilan moral mengusik hati Anda untuk berbuat baik, maka Anda memberanikan diri untuk melakukan reaksi yang bersifat mengingatkan kepada pimpinn Anda. Hal ini dilakukan sebagai perwujudan bentuk kasih sayang Anda kepada dia.

Anda tidak salah dengan reaksi Anda, asalkan dilakukan dengan cara yang santun, atas dasar kasih sayang, serta ketulusan hati. Tindakan Anda didasarkan pada sebuah pemahaman bahwa seandainya Anda tidak mengigatkan, dikhawatirkan Tuhan sendiri yang akan mengingatkannya. Bila ini terjadi, maka tidak ada seorangpun yang mampu menghadapi peringatan dari Tuhan. Banyak potret yang terjadi di masyarakat, yakni bentuk-bentuk peringatan dari Tuhan yang sangat mengerikan, yang pada akhirnya berakibat pada kondisi kehidupan seseorang yang unhappy ending (berakhir dengan kehidupan yang tidak bahagia).

Namun realita yang terjadi, bentuk peringatan yang Anda berikan, sering beresiko pada terancamnya karir Anda. Anda akan ‘dikucilkan’ oleh pimpinan Anda, bahkan akan dihambat karir Anda karena Anda dianggap telah mengusik kenyamanan sang bos. Selanjutnya, Anda akan dihadapkan pada kondisi karir yang statis, tidak berkembang, dan mandul. Prinsip human ralation, bahwa diantara sesama manusia harus amar ma’ruf nahi munkar ternyata pupus oleh ambisi kotor sang pimpinan.

Potensi diri yang Anda miliki juga sulit untuk dikembangkan. Mengapa demikian? Karena celah menuju eksplorasi potensi diri menjadi sangat sempit. Bisa terjadi, di dalam diri Anda akan muncul sebuah perasaan sakit hati.

Orang adalah apa yang dia pikirkan. Jika Anda selalu berpikir positif, maka impuls-impuls positif akan selalu memacu adrenalin Anda untuk melakukan tindakan-tindakan yang positif. Kaitannya dengan perasaan sakit hati yang berkecamuk di hati Anda, saya menyarankan kepada Anda untuk bisa mensikapinya dengan cara melakukan kompensasi yang cerdas. Anda harus bisa membimbing hati Anda untuk bersikap positif dalam memperlakukan emosi dendam Anda. Caranya adalah dengan mencari peluang yang terbuka lebar. Peluang yang dimaksud adalah keadaan dan kesempatan yang bisa Anda bidik sebagai sarana untuk mengembangkan kompetensi yang Anda miliki.

Jalan hidup manusia adalah seribu jalan. Demikian bila diibaratkan. Demikian pula, celah untuk mengembangkan karir akan selalu ada. Jika Anda mampu mengambil dan memanfaatkan celah tersebut, maka sangat mungkin bahwa Anda akan menjadi manusia yang survival (tetap eksis) dengan kreatifitas Anda. Anda akan bangkit dari sisi yang lain. Andapun akan menjadi figur karismatik yang bangkit dari tabir yang sebelumnya tidak diperkirakan oleh orang lain.

Contoh berikut barangkali bisa memperkuat argumentasi di atas.

Seorang guru yang terhambat karirnya, dia bisa melakukan manuver jitu untuk melejitkan karirnya. Dia bisa mengambil peluang melalui moment yang rupanya sering dijadikan momok oleh para guru. Moment yang dimaksud adalah ‘menulis’. Sementara guru yang lain menganggap bahwa ‘menulis’ merupakan kemustahilan, justru dia mampu membuktikan bahwa menulis bagi dia adalah sebuah keniscayaan. Jika langkah ini dia ambil, maka tak hayal lagi, dia akan tampil menjadi seorang guru yang menyandang predikat the unique (berbeda dengan guru yang lain), atau the first (yang pertama), atau bahkan dia akan menjadi the best (guru terbaik). Karirnya akan berkibar, melambai-lambai laksana lambaian tangan seorang juara.

Akhirnya saya ucapkan salam sukses, dan Good luck, and never give up (selamat bekerja, dan jangan pernah menyerah).

*) Supandi. Guru SMP Negeri 2 Binangun Kabupaten Cilacap, Pengurus Agupena Kab. Cilacap, Pengurus ISPI Kab. Cilacap, Ketua MGMP Bahasa Inggris Kab. Cilacap, Alumni Writer Schoolen Angkatan 16. Phone: 081391274742, Email: supandi_mm@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 50

Random Posts

Rating This Post

Comments

8 Responses to “Melejitkan Karir”

  1. Emmy Liana Dewi on August 31st, 2010 7:48 pm

    Hidup Pak guru yang pro aktif dan suka nulis…!! Mudah-mudahan makin banyak para guru yang suka menulis. Karena untuk suka menulis dimulai dengan suka membaca dulu…

  2. Zaenal Arifin on September 3rd, 2010 10:01 am

    @Supandi; Kayaknya pengalaman pribadi apa ya…???

  3. Zaenal Arifin on September 5th, 2010 5:07 am

    “The real Karir”, sebetulnya tidak terpengaruh oleh hubungan dengan atasan, itu mutlak prestasi individu dalam menjalankan profesinya. Jadi, sebetulnya karir tidak akan terhambat oleh buruknya hubungan dengan atasan. Justru orang yang bisa ‘melejitkan karir’ meski tanpa dukungan atasannya, kelak dia akan menjadi orang besar….

  4. Fery Setyawan on September 7th, 2010 12:44 pm

    Sometimes it is true but sometimes it’s not. We just do what we have to do and we get what we deserve.

  5. Supandi Cilacap on September 14th, 2010 4:31 pm

    @Mba Emmy : Terma kasih spiritnya, mudah2an begitu mba.
    @Pak Zaenal : Tau aja. He3.
    @Mas Fery : Right, we have to do the best for our job, and we will get the result. And we can get what we want to.

  6. Yinas Suharyono on October 11th, 2010 6:41 am

    Sama seperti yang saya rasakan saat ini, tetapi alhamdulillah…, karir saya bukan untuk menduduki jabatan tertentu, tetapi untuk menduduki the top DUK… hehehe, jangan berhenti kawan, kita maju berperang melawan statisme melalui tumbak kita bernama PENA…., SELAMAT BERINOVASI….

  7. supandi Cilacap on October 28th, 2010 8:42 pm

    Pak Yonas : Trm kasih supportnya. Salam sukses selalu buat Anda.

  8. david tjhai on April 9th, 2011 9:37 am

    Pada saat di Puncak Karir, Kita harus mempunyai gaya kepemimpinan sendiri.
    Orang yang hanya mengikuti gaya kepemimpinan orang lain, tidak akan mencapai puncak karir. Jika dicapaipun, itu tidak akan lama.

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top