Kolom Bersama

Melihat Keluarbiasaan

Oleh: Andrias Harefa

Saya memilih menyebut diri (antara lain) sebagai “guru biasa untuk orang-orang luar biasa” sejak beberapa tahun silam. Saya tidak sedang bergurau. Frasa itu saya pilih dengan hati-hati dan penuh pemikiran yang mendalam.

Frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa” mencerminkan pandangan pribadi saya tentang apa yang diperlukan untuk menjadi seorang trainer andalan (superb trainer). Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer andalan bukanlah atribut akademis atau gelar kesarjanaan yang panjang berderet-deret. Juga bukan sertifikasi yang berlapis-lapis dari berbagai lembaga tingkat nasional dan internasional. Kualifikasi yang terpenting untuk menjadi trainer andalan bukan soal berapa berat dan tinggi badan; bukan tata busana yang memesona orang lain; bukan pula suara yang mikrofonik seperti penyiar radio yang jadi idola pendengarnya. Semua itu –gelar, sertifikasi, berat/tinggi badan, tata busana, suara, dan sebagainya– bisa jadi penting atau sekurang-kurangnya pastilah berguna, tetapi bukan yang terpenting.

Lalu apa kualifikasi terpenting untuk menjadi seorang trainer andalan?

Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer andalan adalah kemampuan untuk melihat keluarbiasaan dalam diri setiap peserta pelatihan (trainee) yang merasa dirinya biasa-biasa saja; yang merasa dirinya bukan siapa-siapa; bahkan yang merasa dirinya memiliki banyak kekurangan di sana sini. Dan untuk mampu melihat hal itu, seorang trainer andalan harus bisa menempatkan dirinya sebagai orang biasa. Itulah alasan mengapa saya memilih frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa”. Dengan cara itu saya dibantu mengingatkan diri sendiri agar selalu berusaha untuk melihat dan menyimak keluarbiasaan dalam diri setiap peserta yang hadir dalam pelatihan yang saya fasilitasi. Tugas terpenting saya adalah membantu mereka menemukan sendiri keluarbiasaannya itu dengan latihan-latihan tertentu di kelas. Hanya bila mereka keluar dari kelas dengan keyakinan diri yang lebih besar atas kemampuan mereka sendiri, maka saya boleh menganggap diri saya berhasil sebagai trainer.

Saya teringat suatu pengalaman memberikan pelatihan Effective Speaking and Human Relations di sekitar akhir tahun 1992 sampai awal 1993. Waktu itu seorang peserta bernama Jody menarik perhatian saya. Ia sarjana baru lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya di PT Toyota Astra Motor. Lulus dengan predikat cum laude jelas menunjukkan betapa cerdasnya lelaki kelahiran Jambi itu.

Namun bekerja di sebuah perusahaan terkemuka kelas dunia sebagai pegawai baru, tentu merupakan tantangan khusus baginya. Ia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia kerja yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan di ruang-ruang kuliah. Posisi yang diperolehnya adalah hasil dari persaingan ketat dengan puluhan sampai ratusan pelamar lain. Dan dalam pekerjaannya ia juga masih harus berhadapan dengan rekan-rekan kerja yang tidak semua menyukai kehadirannya. Intrik dan politik perkantoran adalah hal yang tak terhindarkan bagi siapa saja yang bekerja di perusahaan kelas dunia. Tambahan lagi ia perlu menyesuaikan diri dengan ritme kota megapolitan Jakarta yang amat sangat berbeda dengan kota kelahirannya Jambi maupun kota pelajar Yogyakarta.

Ketika pertama kali diberi kesempatan berbicara di depan kelas, ia tidak menunjukkan keyakinan diri yang kuat. Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang cukup tinggi memudahkan audiens untuk menyukainya. Namun, nada bicaranya yang cenderung datar dan keyakinan diri yang belum kuat membuat kata-kata yang diucapkannya tak bertenaga. Pelatihan itu sendiri berlangsung mulai jam 5 sore hingga jam 9 malam, satu sesi per minggu, selama 12 minggu berturut-turut. Ia masih nampak gugup kalau berbicara di depan kelas bahkan sampai 5-6 sesi berlangsung.

Meski demikian, sejak awal saya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa Jody kelak akan menjadi salah seorang tokoh penting di jajaran manajemen puncak perusahaan. Ia memiliki segala hal yang diperlukan untuk bergerak maju dalam kariernya sampai ke posisi puncak. Dalam sejumlah hal ia memiliki potensi yang jauh lebih besar dari saya sendiri. Dan itulah yang berulang kali saya katakan kepadanya, setiap ada kesempatan mengomentari penampilannya di kelas. Sehingga dalam waktu 12 minggu pertumbuhan kepercayaan dirinya sangatlah mengagumkan. Ia mendapatkan sejumlah penghargaan di kelas dan menjadi salah satu alumni terbaik dari angkatannya. Ia meninggalkan kelas saya sebagai Jody yang lain; Jody yang optimis melihat kariernya di masa depan; Jody yang mulai menyadari keluarbiasaan dalam dirinya sendiri.

Selang beberapa bulan kemudian, ia ikut lagi di kelas Professional Selling and Negotiation Techniques yang saya fasilitasi. Dan kali ini ia belajar dengan sangat cepat sehingga membuat kagum banyak teman di angkatannya. Saya sama sekali tidak terkejut sebab sejak awal saya melihat keluarbiasaan di dalam dirinya.

Singkat cerita ia kemudian menjadi klien sekaligus sahabat saya selama 3-4 tahun. Ia telah mengikuti hampir semua program pelatihan yang saya fasilitasi di paruh pertama tahun 1990-an. Lalu Jody berhasil mendapatkan beasiswa untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Queenland, Australia. Ia pulang dengan dua gelar master dan berkarier di Citibank untuk beberapa tahun. Belakangan, ia ditarik kembali di lingkungan Toyota Astra Motor dan sekarang menduduki jabatan sebagai CEO di salah satu anak perusahaan Astra. Saya percaya ia berpotensi untuk menduduki posisi lebih tinggi di Astra Group dalam beberapa tahun ke depan.

Kemampuan melihat keluarbiasaan dalam diri peserta pelatihan sebelum yang bersangkutan itu sendiri menyadari potensinya adalah kualifikasi terpenting yang diperlukan untuk menjadi trainer andalan. Sebab sesungguhnya trainer andalan haruslah berhati guru, orang yang kebahagiaan tertingginya adalah melihat keberhasilan murid-muridnya di masa-masa mendatang; bukan orang yang mengelu-elukan kehebatan dirinya sendiri di muka kelas. Itulah semangat dari frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa.”

Bukankah seharusnya demikian? [*]

*) Andrias Harefa
Penulis 40 Buku Best-Seller
Pembicara Publik dan Trainer Berpengalaman 22 Tahun

Telah di baca sebanyak: 1526
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *