Andrew Ho

Melihat Kemajuan dan Kelemahan Dubai

Beberapa waktu yang lalu kami berkunjung ke Dubai, setelah sebelumnya mengunjungi Kairo dan Istambul. Setibanya di bandara jam 2 pagi, kami langsung terpukau pada kemewahan bandara di Dubai, karena fasilitasnya sama seperti pusat perbelanjaan mewah. Dari informasi yang saya peroleh, rata-rata setiap tahun tak kurang dari 6 juta turis asing berkunjung ke salah satu di antara 7 negara bagian Uni Emirat Arab itu. Padahal luas Dubai hanya berkisar 4.114 km2 dengan populasi penduduk tak lebih dari 1,5 juta jiwa. Itu pun mayoritas penduduk terdiri dari urban asal 100 negara di penjuru dunia.

Selama mengunjungi negeri tersebut, kami melihat begitu banyak bangunan megah dan hotel super mewah, misalnya hotel Burj Al-Arab yang bertarif USD 4.000 per hari. Kami juga mendengar bahwa pemerintah negara bagian Dubai juga sedang merencanakan pembangunan hotel super megah, mewah dan canggih, misalnya Burj Dubai setinggi 810 m2, pusat perbelanjaan terbesar di dunia yaitu Asia, Asia, dan sebuah kawasan revolusioner yang diberi nama Dubailand Complex.

Kami hanya dapat membayangkan betapa kaya negeri tersebut, karena dalam waktu dekat pemerintahnya juga berencana membangun sebuah bandara udara baru yang 10 kali lipat lebih luas dibandingkan bandara yang ada saat ini atau dua kali lipat dari luas kawasan pulau Hong Kong. Singkat kata, Dubai seakan memiliki semua kemewahan dan keagungan dengan segala fasilitas nomor 1 di dunia untuk menarik wisatawan asing berkunjung ke negeri tersebut.

Di balik segala kemewahan dan keagungan Dubai ternyata tak lepas dari dukungan para migran asing asal negara-negara ketiga, misalnya India, Pakistan, dan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tragisnya, terlalu banyak kisah pilu tentang para pekerja asing tersebut, misalnya tidak mampu mengirim uang ke kampung halaman karena gaji yang terlampau kecil dari yang dijanjikan, disiksa majikan lalu stres atau bunuh diri, dibunuh, dan lain sebagainya. Saya mendengar dalam kurun waktu sampai tahun 2004 saja, setidaknya 880 migran meninggal dunia dengan berbagai sebab selama masa kerja di Arab Saudi.

Tiba-tiba saya membayangkan banyaknya kisah tragis yang juga telah merenggut nyawa tenaga kerja Indonesia selama ini. Dari informasi yang saya baca, selama bulan Januari sampai April 2007 sudah 44 pembantu rumah tangga asal Indonesia meninggal dunia di Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Yordania, Taiwan, Hong Kong, dan Jepang, akibat kecelakaan kerja, sakit, disiksa, dibunuh majikan, dan lain sebagainya. Belum lagi nyawa 32 TKI yang terancam hukuman mati dan ketidakjelasan nasib dari 40 ribu TKI di Arab Saudi yang terancam dideportasi. Meskipun mereka berangkat meninggalkan kampung halaman dengan tekad dan semangat kerja memperjuangkan sebuah kehidupan yang lebih layak, tetapi pada kenyataannya perlindungan terhadap nasib mereka di negeri orang tidaklah terjamin.

Di era globalisasi, sebenarnya bangsa Indonesia dapat mengambil manfaat cukup besar dari ketersediaan potensi kerja di negara-negara lain untuk sementara waktu. Di samping mengurangi tingkat pengangguran, TKI dapat mengalirkan devisa yang sangat besar ke dalam negeri. Terbukti dari Bank Mandiri saja, sudah tercatat lebih dari Rp2 triliun devisa yang mengalir hingga akhir triwulan 4 tahun 2006. Selain menciptakan devisa, pengiriman TKI ke luar negeri dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih berkualitas setelah mendapatkan pengalaman kerja maupun ilmu pengetahuan selama berinteraksi sosial di luar negeri. Persoalannya adalah bagaimana upaya peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia, baik dari segi keahlian maupun keterampilan. Para TKI sangat membutuhkan pelatihan tentang berbagai ilmu pengetahuan seputar tanggung jawab kerja mereka. Selain itu TKI juga harus diberi pelatihan misalnya tentang asuransi, prosedur bagaimana mencari dan mendapatkan perlindungan hukum, dan lain sebagainya. Terlepas menjadi TKI atau tidak, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan modal yang sangat penting bagi siapa pun dan negara mana pun untuk mencapai kemajuan.

Kualitas sumber daya manusia yang lebih baik memungkinkan mereka mampu melakukan tindakan-tindakan yang positif dan kreatif. Menurut Henry David Thoreau, kapasitas manusia tidak terbatas. Kita juga tidak dapat mengukur apakah seseorang dapat melakukan sesuatu berdasarkan contoh-contoh, karena sedikit sekali tindakan yang sudah dilakukan. “Man’s capacities have never been measured. Nor are we to judge of what he can do by precedents, so little has been tried,” demikian kata filosof dan penulis berkebangsaan Amerika itu.

Sementara itu, saya sempat berbincang dengan seorang sopir taksi asal India sewaktu melakukan Safari Desert. Ia sudah merantau ke Dubai selama 13 tahun. Ia sangat berharap bekerja di negeri kaya raya seperti di Dubai, meskipun jauh dari kampung halaman, akan membuahkan hasil lebih besar untuk membangun kehidupan ekonomi keluarga.

Tetapi sayang, katanya biaya hidup di Dubai semakin tinggi dalam tiga tahun belakangan ini. Sehingga uang yang ia dapatkan dari bekerja sebagai sopir di Dubai saat ini tak lebih baik dari penghasilan para kerabatnya yang masih berada di India. Pasalnya, India sendiri sekarang sedang gencar melakukan pembangunan dan membutuhkan sumber daya manusia cukup besar. Oleh sebab itu, ia tak ingin lagi berlama-lama di Dubai dan berencana akan segera kembali ke India.

Setelah berbincang dengan sopir taksi asal India tadi, saya berpikir bukankah sumber daya alam Indonesia yang terdiri dari 17.500 pulau sangatlah besar? Sedangkan jumlah penduduk Indonesia juga sangat besar, bahkan menempati peringkat ke-4 di dunia dengan jumlah 230 juta jiwa. Dari 40 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes Asia September 2006, lebih dari setengah di antara mereka memperoleh kekayaan dari sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia yang berlimpah tadi. Kekayaan terkecil dari 40 orang terkaya di Indonesia itu berkisar di antara Rp700 miliar.

Kenyataan itu merupakan bukti hanya sebagian kecil bangsa Indonesia yang berhasil memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia yang berlimpah. Artinya, kemungkinan bangsa Indonesia juga bisa menjadi negara yang lebih maju dibandingkan Dubai sangatlah besar. Persoalannya adalah seberapa besar usaha dan kesungguhan bangsa ini meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sehingga dapat mengelola sumber daya alam yang sangat besar ini secara efektif dan efisien.

Pengalaman selama mengunjungi Dubai membuat saya begitu berharap ada kesungguhan dan kerja keras dari bangsa Indonesia sendiri untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sekaligus mengelola sumber daya alam secara profesional, etos kerja dan kejujuran yang tinggi. Dengan demikian, saya yakin status negara Indonesia akan segera berubah dari negara pengirim tenaga kerja menjadi negara penerima tenaga kerja. Namanya juga berharap!

Telah di baca sebanyak: 5374
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *