Kolom Alumni

Memanfaatkan Rasa Jenuh


Oleh: Aria Siregar

Dikisahkan Agus, seorang manager pemasaran berusia 35 tahun bekerja di suatu perusahaan berskala internasional, yang tengah merasa gundah gulana. Sebagai eksekutif muda yang tengah menapaki karir, Agus merasakan pekerjaan-pekerjaan yang ia hadapi semakin hari semakin membebani dirinya. Pada awal bekerja, ia sangat bersemangat dalam menjawab setiap tantangan pekerjaannya. Apabila dahulu, menghadapi calon pelanggan yang sulit atau mengejar target pemasaran yang tinggi adalah sesuatu yang membangkitkan gairahnya bekerja, namun pada saat ini, Agus justru memilih untuk menghindarinya. Masuk kantor menjadi kegiatan untuk menghabiskan waktu demi menunggu gaji akhir bulan. Rasa heran muncul di benaknya, “Sampai kapan aku akan menghabiskan waktu begini?”

Di tempat lain, Herman, seorang pegawai swasta juga bapak dua putra yang bertempat tinggal di kawasan elit Ibukota juga tengah merasa gundah gulana. Apabila hampir semua kenalannya memuji semua prestasi telah berhasil ia capai, Herman justru merasa ia semakin kehilangan tujuan hidupnya. Herman selalu berusaha profesional dalam bekerja. Meskipun demikian, dari hari ke hari, ia menyadari bahwa gairah terhadap pekerjaannya semakin menurun. Semangat kerja berkurang. Apabila ada tantangan baru di pekerjaannya, Herman memilih menghindar dan memusatkan dirinya pada hal-hal yang bersifat rutin. Seringkali ia bertanya pada dirinya, “apakah yang tengah terjadi pada diri saya?”
Kondisi-kondisi yang tengah dialami oleh Agus dan Herman adalah gejala dari perasaan jenuh terhadap pekerjaannya yang semakin lama terasa semakin membosankan. Perasaan tersebut sebenarnya wajar terjadi. Merasa jenuh terhadap pekerjaan merupakan hal yang lumrah terjadi bilamana seseorang sudah bekerja sekian waktu. Bahkan bila ada survey untuk melihat apakah seorang pernah merasa jenuh dalam pekerjaannya, maka hampir dapat dipastikan 99% berkata pernah. Merasa jenuh bukanlah suatu hal yang keliru. Bila dipandang secara positif, masa-masa jenuh justru merupakan peluang terbaik bagi seseorang untuk melakukan restropeksi terhadap tujuan hidupnya.

Mengapa tujuan hidup? Bukankah masalah yang tengah dialami oleh sahabat Agus dan Herman adalah bosan terhadap pekerjaannya dan bukan pada kehidupan mereka?

Sebuah pertanyaan yang tepat bila kita memandang hidup sama dengan bekerja, meskipun dapat dipastikan semua orang (atau setidaknya hampir semua orang) tidak setuju dengan pandangan tersebut.

Apabila kita memandang hidup hanya untuk pekerjaan kita, maka segenap tindakan kita akan terbatas pada uraian tugas dan tanggung jawab pada pekerjaan tersebut. Potensi diri seperti kecerdasan dan semangat kerja hanya untuk menjawab tuntutan-tuntutan kerja. Alhasil ketika usia bertambah, kemampuan semakin menurun namun tuntutan kerja tidak berkesudahan akan menumpuk beban di pemikiran dan hati. Bila beruntung memperoleh tawaran pekerjaan lain, maka beban dapat terbebaskan setidaknya sebelum kemudian muncul kembali di masa mendatang. Bila tidak beruntung, akan terperangkap dalam rutinitas dan meratapi hari-harinya yang terasa semakin membosankan.

Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan, adalah memandang bekerja sebagai bagian dari hidup, yang kemudian diikuti oleh sebuah pertanyaan “Apakah tujuan hidup kita?”, atau “Apakah yang benar-benar kita inginkan dalam hidup kita?” Bila berhasil menjawab pertanyaan tersebut, maka bekerja tidak menjadi sebuah rutinitas, melainkan sebuah bagian dari rencana besar pada skenario kisah kehidupan yang kita ciptakan. Keberhasilan bekerja merupakan keberhasilan menapaki tangga kehidupan yang luas yang tidak terbatas pada sekadar menapaki tangga di karir perusahaan. Naik turunnya situasi kerja akan dipandang menjadi naik turunnya roda kehidupan, bukan beban kehidupan yang semakin bertambah dari waktu ke waktu sehingga memudahkan kita memalingkan muka kepada pekerjaan lain. Rasa jenuh yang pasti selalu ada akan dipandang sebagai momentum untuk pengembangan diri, dan tidak membiarkan diri menjadi berlarut-larut dalam lautan gundah gulana dan putus asa yang tak berkesudahan.

Meskipun demikian, menjawab pertanyaan “apakah yang benar-benar kita inginkan dalam hidup kita?” bukanlah suatu hal yang sederhana. Salah-salah menjawab pada akhirnya terpancing pada mimpi-mimpi ideal yang tidak akan pernah tercapai atau terbentur pada tuntutan-tuntutan material kehidupan yang menuntut pemenuhan dengan segera. Seringkali jawaban-jawaban terhadap pertanyaan tentang hidup tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses berpikir dan berupaya yang berkelanjutan. Menjawab pertanyaan “apakah tujuan hidup kita?” membutuhkan perenungan, kejelian dalam melihat peluang dan kreativitas dalam mengelola situasi. Peta kehidupan seseorang tidak pernah terbentang lebar namun terbuka perlahan seiring dengan bergulirnya waktu dan pengalaman hidup.

Artinya, meluangkan waktu sejenak dan memanfaatkan potensi-potensi diri untuk lebih menghayati makna hidup merupakan langkah bijak bagi mereka yang ingin hidupnya menjadi lebih berharga bagi dirinya dan orang-orang yang ia cintai.

Pertanyaannya adalah “sudah seberapa seringkah kita memanfaatkan rasa jenuh kita?”

* Aria Siregar, Programme Director of Consulting Division in Bina Potensia Indonesia. Alumnus Workshop Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik ini dapat dihubungi di ariasiregar@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1438
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *