Kolom Bersama

Membebaskan Diri


Oleh: Radinal Mukhtar

Sore hari sambil menunggu waktu berbuka puasa, saya berbincang-bincang santai dengan seorang teman. Dari perbincangan santrai tersebut, saya mendapatkan sebuah cerita yang berbalut humor tapi inspiratif bagi kehidupan kita. Beginilah cerita teman saya tersebut.

Di sebuah zaman, hiduplah seorang lelaki yang mempunyai karakter diri yang berlawanan. Jika orang melihat selintas saja, orang tersebut tidak akan yakin bahwa ia mempunyai keterbelakangan mental dan penalaran. Di sekolahnya dahulu, ia selalu tinggal kelas dan akan naik bila ada ‘subsidi’ nilai dari guru-guru dan para pengajar.

Singkat cerita, karena dijebak oleh teman-temannya, lelaki tersebut dijebloskan ke penjara dengan tuduhan mencuri. Di penjara ia akhirnya bertemu dengan sebuah komplotan perampok yang telah lama mendiami ruangan penjara tersebut.

Beberapa hari berlalu, ia akhirnya berteman dekat dengan komplotan perampok tersebut. Dari cerita-cerita santai, mereka akhirnya sepakat untuk melarikan diri dari penjara. Dan karena itulah, pimpinan kelompok perampok tersebut akhirnya membagikan tugas pada dua sahabatnya dan juga lelaki tersebut.

Kepada mereka ia berkata, “Tugas A adalah mempersiapkan alat-alat yang akan kita gunakan untuk kabur seperti menyiapkan tangga, tali ataupun mencuri pistol salah satu penjaga penjara tersebut. Tugas B adalah menghubungi teman-teman yang berada diluar untuk mempersiapkan tempat persembunyian kita setelah melarikan diri.”

“Namun demikian,” ia kembali melanjutkan pembagian tugasnya. Kali ini kepada lelaki tadi, “Tugas-tugas tersebut tidak akan berhasil bila C, anggota baru kita, gagal menyelesaikan tugasnya. Tugasnya sederhana saja yaitu mengamati pintu-pintu yang mengelilingi penjara ini. Dari mana kita sebaiknya kabur, kita akan menunggu kabar dari C yang akan melihat dari pintu yang bisa di buka atau dari tembok mana yang bisa dipanjat.”

Sekian hari mereka menunggu kabar dari lelaki tersebut yang mereka panggil C namun belum ada jawaban. Hingga suatu hari, ia datang dengan wajah yang tidak seceria biasanya. Ia tampak sedih.
“Bagaimana pekerjaanmu C? Pintu mana yang bisa kita tembus? Atau dari tembok mana yang bisa kita panjat?”

“Sepertinya kita tidak bisa melarikan diri dari penjara ini. Mungkin kita memang sudah ditakdirkan untuk mendiami penjara ini sampai masa tahanan atau kurungan kita selesai!” jawab lelaki tersebut.
“Apa? Jadi semua pintu dijaga? Tembok-tembok juga?” tanya tiga kawanan perampok tersebut.
“Bukan itu masalahnya!” lelaki itu masih tampak murung.
“Lalu apa masalahnya?” Pimpinan mulai tak sabar.
“Masalahnya adalah penjara ini tidak mempunyai tembok ataupun pintu! Bagaimana kita bisa kabur kalau tembok dan pintunya tidak ada?”
***
Dalam menjalani kehidupan ini, kita sering bersikap seperti lelaki diatas, yaitu memikirkan tembok-tembok dan pintu-pintu penghalang yang pada hakikatnya, sebenarnya tidak ada. Untuk memulai bisnis misalnya, kita sering memikirkan kerugian-kerugian yang akan kita alami padahal belum memulai bisnis. Begitu pula dengan penulis yang telah memikirkan ejaan, tanggapan pembaca, protes para ahli, komentar para penggemar, padahal ia belum menulis sama sekali.
Bebaskanlah diri dan kerjakanlah! (Take Action), itulah kunci untuk menggapai keberhasilan. Salah satu penyair arab pernah mengatakan, “Laa tuakkhir ‘amalaka ilal ghodi maa tastati’ an ta’malal yauma”, Janganlah kamu menunda-nunda pekerjaan hingga hari esok padahal kamu bisa mengerjakannya pada hari ini. Dalam bahasanya Jamil Azzaini dan kawan-kawan, lepaskanlah rantai-rantai gajah atau kotak-kotak korek api yang ada pada diri kita. Janganlah kita terkurung oleh pintu-pintu atau pun tembok-tembok yang sebenarnya kita sendiri yang membuatnya. Pintu-pintu atau pun tembok-tembok yang sebenarnya tidak ada.
* Radinal Mukhtar Harahap. Alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah ini dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1988 di kota Pekan Baru, Riau. Setelah menempuh pendidikan dasar, pindah ke Kota Medan untuk menyelesaikan pendidikan menengah pertama dan atas. Kini, sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) di IAIN Sunan Ampel Surabaya sambil “nyantri di Pesantren kampus tersebut. Dapat dihubungi di email radinal88@gmail.com atau di blog pribadi http://kumpulan-q.blogspot.com. Dapat juga di hubungi di nomor 081331185527

Telah di baca sebanyak: 7598
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *