Membeli Kebahagiaan

Oleh: Muhammad Nur

Seperti biasa Mahmoud, Kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di jakarta, tiba di rumahnya pada pukul sembilan malam. Setiap malam, pasti istrinya dengan setia menunggui dan membukakan pintu untuknya. Namun, malam itu tidak seperti biasanya, zaskia putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga sekolah dasar membukakan pintu untuknya. Nampaknya dia sudak menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Mahmoud sambil mencium anaknya.
Biasanya Zaskia memang sudah lelap ketika dia pulang dan baru terjaga ketika dia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Zaskia menjawab, “Aku nunggu ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji ayah?”

“Lho tumben, kok nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Zaskia singkat.

”Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan bayar Rp.400.000,- Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu ayah masih lembur dan mendapat gaji tambahan. Jadi, gaji ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Zaskia berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Mahmoud beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Zaskia berlari mengikutinya.

“Kalo satu hari ayah dibayar Rp.400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp.40.000,-dong” katanya.
“Wach, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki dan tangan, lalu tidur oke!” perintah Mahmoud.

Tetapi Zaskia tidak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam unag Rp.5.000,-enggak?”

“Sudah, enggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi ayah…”

Kesabaran Mahmoud pun habis. “Ayah bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Zaskia. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Mahmoud nampak menyesali hardikannya. Dia pun menengok Zaskia di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Zaskia didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Mahmoud berkata, “Maafkan ayah, nak, ayah sayang sama Zaskia. Tapi buat apa sih munta uang malam-malam begini? Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih” bujuk Mahmoud.
“Ayah, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalu sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“Iya, iya, tapi buat apa ?” tanya Mahmoud lembut.
“Aku menunggu ayah dari jam 8. Aku mau ajak ayah main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Ibu sering bilang kalo waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu ayah. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp.40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp.20.000,- Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000,- makanya aku mau pinjam dari ayah” kata Zaskia polos.

Mahmoud pun terdiam. Dia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari ternyata limpahan harta yang dia berikan salama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagian anaknya.

* * *

Setiap orang mencari kebahagiaan. Termasuk Anda, saya dan ratusan juta umat manusia di muka bumi ini. Bila Anda bertanya pada sembarang orang ‘apa yang ingin Anda dapatkan dalam hidup ini?’ Kebanyakan orang akan menjawab ‘saya ingin bahagia’ sebagai salah satu hal yang paling mereka inginkan.

Lalu, pertanyaan berikutnya muncul, ‘apakah Anda sudah bahagia?’ Ada yang bilang, ‘ya, saya bahagia’ Begitu juga, sebagian yang lain akan berkeluh-kesah ’saya tidak bahagia’.

Namun, pertanyaan yang paling penting adalah ‘bahagia itu apa‘? Kita bisa mencapai sesuatu bila jelas definisinya. Seperti saat Anda ingin menuju ke suatu tempat, Anda tahu terlebih dahulu alamatnya kemudian mencari jalan ke sana. Kita pun akan mencapai kondisi bahagia bila tahu yang akan kita tuju.

Ada yang berpendapat mengatakan definisi bahagia adalah: memiliki rumah keren, mobil mewah, istri cantik dan anak-anak yang lucu.

Lalu, bagaimana bila tak mendapati hal yang diinginkan di atas, apakah berarti orang ini menjadi ‘tidak bahagia’?

Ada sebagian lain yang menyatakan definisi bahagia adalah:
– Hidup tenteram dan tidak punya banyak masalah;
– Mendapatkan seseorang yang mencintai dan dicintai seumur hidup.
– Menjadi diri sendiri.
– Bebas melakukan sesuatu dan tidak terikat orang lain.
– Terlepas dari hutang.

Kesimpulannya, setiap orang memiliki definisi bahagia masing-masing. Namun perlu kita ketahui bersama seringkali kita terjerembab mendefenisikan kebahagiaan dalam suatu hal yang bersifat materialistik, ataupun hanya sekedar dapat dipandang melalui kasat mata saja. Akan tetapi jauh dari pada itu semua ternyata kebhagiaan lebih luas dalam artian abstrak. Bahwa kebahagiaan batin justru lebih mendominasi keutuhan defenisi kebhagiaan, karena itu mencakup dunia dan akhirat. Seperti kisah yang saya paparkan diawal bahwa Kebahgiaan Tidak mampu dibeli, perlu adanya pengorbanan yang penuh (kaafah) terhadap sesuatu.

Boleh jadi, definisi bahagia Anda memberikan inspirasi bagi orang lain merupakan suatu yang kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

Wallahu A’lam Bishowab.

*) Muhammad Nur adalah Alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah Medan, Sumatera Utara. Kini dalam masa pengabdian di Ma’had sebagai guru Bahasa Inggris dan juga staf Pengasuhan Santri. Ia gemar dalam “menyelami” dunia kepenulisan, diskusi, dan kegiatan ekstrakulikuler di ponpes. Saat ini ia sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi melalui via pos-el: muhammad.nur609[at]yahoo[dot]co[dot]id, muhammad.nur1809[at]hotmail[dot]com atau 081396856500.tulisannya dapat dilihat di http://elahmady1809.blogspot.com.

3 comments on “Membeli KebahagiaanAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *