Kolom Bersama

Memperbarui Tujuan Pembelajaran

Oleh: Agus Riyanto

Setelah beberapa episode artikel yang lalu kita membahas masalah “cinta” dengan aneka problematikanya, sekarang mari kita membicarakan masalah yang labih penting untuk masa depan kita, yakni pendidikan atau lebih tepatnya kegiatan pembelajaran. Dengan melakukan pembelajaranlah kita yang dulunya bodoh dan tidak tahu apa-apa, sekarang telah menjadi manusia dewasa yang memiliki wawasan, pengetahuan atau filosofi dalam menempuh kesempatan indah karunia Sang Pencipta berupa “kehidupan” ini.

Kebanyakan pelajar atau mahasiswa pergi ke sekolah atau ke kampus hanya untuk mendapatkan ijasah, kemudian setelah lulus mencari pekerjaan. Tujuan mereka belajar—selama kurang lebih 12 tahun (bagi lulusan SLTA), 17 tahun (bagi sarjana S1), dan seterusnya–hanya satu, yakni untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan. Itulah yang umum terjadi. Kebanyakan mereka mengejar pekerjaan yang aman dan terjamin. Setelah mendapatkan pekerjaan…, ya sudah! Baginya tidak ada lagi yang perlu dipelajari lebih jauh selain mendapatkan kenaikan gaji, pangkat, dan jabatan yang lebih tinggi.

Menurut pendapat saya, tujuan seperti itu kurang bonafid alias kurang tepat. Kalau hanya untuk mendapatkan pekerjaan, buat apa sekolah… Yang tidak pernah sekolah saja banyak yang bisa hidup, bahkan mereka lebih sukses dari yang lulusan S3 sekali pun. Maksudnya adalah apakah tidak sayang sekian tahun belajar dan bersusah payah bersekolah hanya untuk sebuah pekerjaan–yang kadang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari.

Ketika proses belajar berhenti di dunia kerja, berhenti pulalah proses pembelajaran itu sendiri. Kalau bekerja tujuannya hanya untuk mendapatkan sejumlah uang maka bisa diartikan belajar kita selama belasan tahun juga demi sejumlah uang. Dari sini semoga lahir sebuah pemikiran agar lebih bijak dalam memandang tujuan pendidikan itu sendiri. Jangan sampai keinginan untuk terus belajar terhenti begitu kita keluar dari dunia pendidikan formal, karena belajar yang sesungguhnya adalah belajar di “universitas kehidupan”.

Dalam banyak kasus, kita sering melihat bahwa banyak orang yang berpendidikan tinggi–bahkan sangat tinggi–namun perbuatannya tidak mencerminkan tingkat pendidikannya tersebut. Kadang mereka kalah dengan yang tidak pernah “makan” bangku sekolah sekalipun. Di depan namanya tertulis gelar professor, doktor (dan seterusnya), tapi dia harus mengakhiri kariernya di balik terali besi. Ada banyak contoh yang tidak perlu disebutkan di sini. Yang jelas, sangat disayangkan jika pendidikan yang tinggi–bahkan tinggi sekali–yang ditempuh dengan susah payah dan biaya yang tidak sedikit ternyata tidak menjamin kelakuan atau perbuatan si penyandang gelar pendidikan tersebut sesuai dengan pendidikannya. Kenapa ini bisa terjadi?

Mungkin secara intelektual pendidikan seseorang tinggi atau sangat tinggi, namun jika jiwanya kosong, nuraninya kering, imannya rapuh, dan hatinya tandus. Bukankan itu bukan sebuah kondisi yang ideal. Hal ini terjadi karena kebanyakan orang terlalu mementingkan pendidikan duniawi saja, sementara mereka lupa bahwa secara fitrah mereka adalah manusia biasa yang diciptakan Tuhan selain untuk bekerja juga untuk beribadah. Dengan alasan sibuk bekerja, ia melupakan ibadah. Lambat laun ia menjadi jauh dari agama, kalau tidak mau disebut menjauhkan diri dari agama. Karena jauh dari agama, akhirnya jauh juga dari Tuhan. Kalau sudah begini, mau apa lagi?

Coba kita renungkan, apa sih hebatnya jika kita memiliki gelar pendidikan yang tinggi dan berjejer-jejer tapi jiwa kita jauh dari Tuhan? Bukankah itu nol besar alias tak ada nilainya…? Mungkin hal itu terjadi karena di dalam sistem pendidikan itu sendiri kurang diajarkan pelajaran atau hal-hal mendasar yang benar-benar berguna di dunia nyata. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Bill Gould, seorang pakar Transformational Thinking, “School never teach us how to think, they only teach us what to think.”

Kebanyakan pelajar/mahasiswa hanya mengejar nilai dan setelah lulus berhamburan mencari pekerjaan. Kadang nilai yang tertulis di ijazah tidak mencerminkan diri si pemilik ijazah secara akurat karena banyak faktor yang belum tergali selama di sekolah/kampus. Misalnya saja seperti kecerdasan emosi (Emotional Quotient), kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient), atau kecerdasan menghadapi kesulitan/kemalangan (Adversity Quotient) yang diyakini banyak ahli lebih menentukan keberhasilan seseorang. Ketiga jenis kecerdasan tersebut tidak pernah diajarkan di sekolah atau kalaupun diajarkan hanya dalam porsi yang masih sedikit. Hal ini membuktikan bahwa kita tidak cukup hanya belajar dari pendidikan formal saja karena pada dasarnya masih sangat banyak ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis yang tidak kita dapatkan dari guru/dosen kita di sana.

Gelar pendidikan juga bisa menjadi beban dan kebanggaan, tergantung cara pandang kita dalam menyikapinya. Tapi yang jelas, gelar akademik itu adalah amanah yang menuntut kita berbuat dan beramal sesuai dengan “gelar kependidikan” tersebut. Paling tidak perbuatan kita harus lebih berkelas (lebih baik) daripada orang yang tidak memiliki gelar apa-apa. Kalau sudah demikian berarti kita adalah pemegang gelar yang bertanggung jawab, dan hanya orang yang bertanggung jawablah yang bisa meraih sukses sejati.

Jadi, alangkah baiknya bila kita memperbarui tujuan kita menempuh pendidikan—baik formal maupun nonformal—yakni untuk meningkatkan kualitas diri kita—tidak hanya di hadapan sesama manusia, namun juga di hadapan Tuhan–yang buahnya adalah terbentuknya pribadi, selain berkualitas (taqwa) juga berakhlak mulia. Apa pun profesi kita, di tingkat mana pun posisi kita, berapa pun penghasilan kita; dengan akhlak mulia kita akan dapat menjadi rahmat bagi lingkungan di mana pun kita berada. Janganlah menjadi seperti mereka—orang yang berpendidikan tinggi atau harta berlimpah, tapi justru membuat negeri tercinta ini bangkrut dan morat-marit.

Banyak orang karena pendidikannya rendah terpaksa mengadu nasib ke luar negeri menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Para TKI ini mungkin tidak pernah merasa bangga menjalani profesi tersebut. Kebanyakan karena terpaksa. Tapi jika hanya itu jalan yang terbuka untuk memperbaiki hidup; tidak apa-apa, lakukan saja. Daripada hidup menjadi beban di negeri sendiri.

Dan yang membuat kita prihatin melihat kenyataan sekarang, dengan banyaknya warga negara kita yang mengadu nasib menjadi TKI ke luar negeri sebagai pembantu, kuli, dan pekerjaan yang dianggap kurang berkelas lainnya; kesannya negara kita itu miskin, bodoh dan terbelakang. Hal tersebut juga ada hubungannya dengan kualitas pendidikan di negeri kita.

Kalau dulu pada era 60-an atau 70-an negera kita mengeksor guru ke negara tetangga, mengapa sekarang kok malah jadi mengekpor pembantu? Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Apa yang salah dengan cara belajar kita? Bila Jepang saja bisa lebih maju setelah hancur oleh Perang Dunia II, kenapa kita tidak?!

Jika keadaan bisa dibalik, semua TKI yang pergi ke luar negeri itu bekerja untuk jadi guru, dosen, manajer perusahaan, atau tenaga profesional lainnya; tentu negara kita akan harum namanya di mata dunia. Besar kemungkinan itu semua bisa saja terjadi jika kita mau memperbaiki sistem pendidikan dan proses pembelajaran formal kita. Memang tidak mudah, tetapi bukankah tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan mencobanya?

Agus Riyanto; Penulis buku “Born To Be A Champion”, bisa dihubungi melalui webblog http://agusriyanto.wordpress.com atau email: agus4ever@gmail.com.

Telah di baca sebanyak: 1256
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *