Kolom Bersama

Menanam Bambu

Oleh: Radinal Muchtar

Anak-anak kelas XI tertawa melihat adik-adiknya disuruh menanam bambu di area taman sekolah. Ada dua hal yang membuat mereka tertawa. Pertama, mereka teringat ketika harus menanam bambu setahun yang lalu saat mereka masih duduk di kelas X. Kedua, mereka merasa bahwa adik-adiknya akan mengalami apa yang mereka alami sekarang yaitu kebingungan. Sudah setahun yang lalu mereka disuruh merawat bambu, namun bambu tak kunjung tumbuh. Ini sudah tahun kedua, dan mereka belum juga melihat pertanda bahwa bambu yang mereka tanam akan tumbuh menjulang tinggi. Mereka merasa dibodohi dan kelak, adik-adik mereka juga akan merasa demikian.

Tahun berganti, dan lagi-lagi pihak sekolah menyuruh seluruh anak-anak kelas X untuk menanam bambu. Siswa akhir, yang telah menanam dua tahun yang lalu, kembali tertawa. Menjelang kelulusan mereka beberapa bulan lagi, mereka belum juga mendapatkan hasil tanaman mereka. Hanya bambu kecil yang tak tampak dari jauh. Hanya itu. Itukah yang mereka hasilkan selama dua tahun?

Di hari terakhir mereka menjadi murid sekolah tersebut, mereka dikumpulkan disebuah ruangan. Kepala sekolah masuk dan berdiri di depan mereka dengan sebuah senyuman. Ia berbicara sebentar dan ditutup dengan sebuah permintaan.

“Bapak minta kalian untuk berkumpul lagi di sekolah ini setahun yang akan datang. Bapak ingin memberi sesuatu untuk kalian!” Ujar bapak tersebut.

Dan, benar, setahun kemudian sebagian besar dari alumni sekolah menengah atas tersebut telah berkumpul. Dengan beragam corak budaya dan gaya. Ada yang telah bekerja diluar kota sehingga gaya ala perkotaan tempat ia bekerja terbawa-bawa saat berkumpul. Ada pula yang kuliah di luar negeri sehingga budaya luar negeri pun tampak jelas didirinya. Namun yang tetap juga banyak. Salah satunya adalah gaya bapak kepala sekolah yang meminta mereka untuk berkumpul setahun yang lalu.

Setelah menunggu lama di ruang perkumpulan, bapak kepala sekolah yang di tunggu-tunggu akhirnya datang menghampiri mereka. Setelah menyalami mereka semua satu per satu, bapak kepala sekolah itu pun mengajak mereka untuk berkumpul di taman sekolah.

“Ayo, ikut bapak ke taman sekolah. Bapak ingin menunjukkan sesuatu!”

Para alumni tersebut akhirnya membubarkan diri dan pergi ke taman sekolah tempat mereka menanam bambu ketika masih duduk di kelas X. Ada yang berbeda. Ada banyak bambu disana. Tidak seperti ketika mereka meninggalkan sekolah ini, hanya bambu-bambu kecil yang ada. Itu pun hanya tampak ketika di dekati. Seseorang tidak akan tahu bahwa taman sekolah memiliki banyak bambu jika melihat dari jauh. Namun sekarang, bambu-bambu yang menjulang tinggi telah mereka lihat.

“Anak-anak ga’ disuruh menanam lagi, Pak! Ko’ yang ini sudah besar? Langsung di beli?” tanya seorang alumnus kepada bapak kepala sekolah.

“Tidak anak-anakku. Ini adalah bambu yang kalian tanam tiga tahun yang lalu. Bapak hanya ingin menunjukkan bahwa inilah hasil jerih payah kalian. Bapak mengharapkan kalian tumbuh seperti bambu. Tiga tahun memperkuat akar, dan tumbuh pada tahun keempat dengan cepat dan menjulang tinggi. Tiga tahun pula kalian belajar disini untuk memperkuat akar dan menjulanglah setinggi-tingginya dengan tetap berpegang pada akar!”

Para alumni itu pun terdiam. Tidak ada yang berkomentar apa-apa!”

****

Cerita di atas saya dapatkan dari seorang teman. Begitu sederhana, namun banyak hal yang bisa diambil. Betapa kehidupan itu butuh proses penguatan akar, pondasi dan juga pegangan. Jika akar tersebut telah kuat dan tertancap didalam tanah dengan kokoh, ibarat bambu, sekuat apapun angin yang bertiup, bambu akan tetap berdiri.

Lebih dalam lagi kita dapat mengambil pelajaran berharga bahwa ketika akar, dalam arti sebuah prinsip, cita-cita dan juga visi, telah benar-benar dirancang dengan spesifik, terukur dan jelas, segala hal akan mudah dicapai.

Seorang penulis misalnya, akan dengan mudah mengalirkan ide-idenya ke dalam sebuah tulisan jika prinsip yang ia pegang benar. Ia menulis untuk apa. Apa-apa saja yang ia tulis. Kapan ia menulis. Kapan ia harus mencari ide untuk ditulis. Jika semuanya itu telah di tanamkan dalam diri secara benar, cita-cita untuk menjadi seorang penulis handal akan datang dengan cepat sebagaimana cepatnya bambu tumbuh ketika akarnya telah kuat.

Ya, bambu membutuhkan waktu tiga tahun untuk memperkuat akar, namun hanya beberapa bulan saja untuk tumbuh menjulang tinggi mengalahkan ketinggian tumbuhan yang lain.

Prinsip, cita-cita, dan juga visi, itulah yang menjadi akar bagi manusia. Itulah yang harus diperkuat. Bahkan harus tertulis jelas dan nyata dalam sebuah kertas, jika kita mengikuti cara yang di pakai oleh Jamil Azzaini dengan Tuhan Inilah Proposal Hidupku. Jika ketiga hal itu telah kita canangkan dengan kokoh, tunggulah, kesuksesan dan kebahagiaan itu akan datang menghampiri! Semoga.

* Radinal Mukhtar Harahap. Alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah ini dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1988 di kota Pekan Baru, Riau. Setelah menempuh pendidikan dasar, pindah ke Kota Medan untuk menyelesaikan pendidikan menengah pertama dan atas. Kini, sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) di IAIN Sunan Ampel Surabaya sambil “nyantri di Pesantren kampus tersebut. Dapat dihubungi di email radinal88@gmail.com atau di blog pribadi http://kumpulan-q.blogspot.com. Dapat juga di hubungi di nomor 081331185527

Telah di baca sebanyak: 2196
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *