Her Suharyanto

MENANGGUK UNTUNG DARI BERITA BURUK

19 Agustus 2007 – 04:43 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 5.00 / 1 votes)
Seri Artikel News for Wealth

“Her, mau ditraktir apa? Aku baru menang besar.” Itu suara teman lama saya melalui saluran telepon sekitar minggu kedua Agustus. Suaranya cerah dan bening, berbeda sekali dengan suaranya sekitar awal tahun ini.

Awal tahun ini dia sering berbagi cerita mengenai pahit getirnya mencari uang. Waktu itu dia sedang bersusah payah mencari pelanggan briket batubara. Sharing-sharingnya terdengar berat waktu itu, tetapi keteguhan hatinya juga bisa saya rasakan. Setelah absen bertelepon sekitar dua bulan, dia kembali menelepon bahwa dia mulai aktif belajar investasi pada instrumen opsi saham (stock option). “Saya didampingi seorang mentor yang sangat berpengalaman,” dia berkata.

Telepon berikutnya ya itu tadi. Dia berkabar bahwa dia menikmati untung besar dalam satu transaksi long put. Dia mengaku itu bukan keuntungan pertama, tetapi keuntungan terbesar yang diperolehnya.

Saya mencoba mengorek mengapa dia bisa mendapatkan untung besar dalam “sekali pukul”. Dia memang tidak menjelaskan segala-galanya dengan mengatakan, “nanti kalau aku sudah ahli aku bisa dampingi kamu.”

Tetapi di tengah cerita ringkasnya saya langsung berteriak, “Gotcha. That is really news for wealth.” Apa yang dilakukan oleh teman ini adalah membaca berita dan berusaha mendapatkan manfaat ekonomi dari berita tersebut.

Dia adalah satu dari ratusan atau bahkan mungkin ribuan orang Indonesia yang saban malam nongkrong di warnet. Mereka bukan sedang sekadar chatting atau browsing tak tentu arah. Mereka adalah grup-grup investor lokal yang bermain saham atau opsi di bursa Amerika. Mereka harus melakukannya malam hari karena pada jam-jam seperti itulah bursa di Amerika sedang aktif. Dengan teknologi internet mereka bisa mengakses data pasar, kegiatan di bursa, memonitor pergerakan harga, dan memantau berita yang berkembang.

Mereka melakukan transaksi di warnet-warnet untuk dua tujuan. Pertama biayanya murah, dan kedua mereka bisa masuk dalam grup-grup sehingga bisa saling berdiskusi mengenai aneka macam hal terkait dengan investasi mereka. Karena itu jangan kaget kalau Anda datang ke warnet-warnet “pinggiran” yang buka 24 jam, tetapi Anda ditolak masuk. Sebab, seluruh komputer sudah habis dipesan pelanggan tetap.

Dalam kelompok seperti ini para investor bisa langsung saling berbagi informasi mengenai pergerakan harga-harga saham yang menarik perhatian. Mereka juga langsung bisa berbagi berita apa yang mereka dapatkan dari berbagai situs berita. “Tetapi keputusan investasi ada di masing-masing orang,” teman saya berkata.

Teman ini bercerita, dia mendapatkan keuntungan dari krisis subrime mortgage di Amerika yang baru meledak akhir-akhir ini. [Subprime mortgage adalah kredit perumahan “kelas dua”. Yang disebut kredit “kelas pertama” adalah kredit yang “normal”, yakni kredit yang diberikan kepada mereka yang secara ekonomi layak mendapat kredit karena memiliki kemampuan membayar. Kredit “kelas dua” diberikan kepada mereka yang menurut perhitungan sebenarnya tidak cukup mampu membayar kembali kreditnya. Lembaga keuangan rela memberikan kredit kepada mereka dengan konpensasi suku bunga yang lebih tinggi. Saat ini total subprime mortgage di Amerika mencapai sekitar US$600 miliar.]

Karena mendapatkan satu dua berita mengenai memburuknya subprime mortgage di Amerika, teman ini kemudian melakukan riset cepat tentang perusahaan-perusahaan publik yang bergerak di bidang subprime mortgage. Lho, mengapa dia berburu saham yang nilainya justru berpeluang untuk turun? “Inilah investasi option, kawan… kita tetap bisa untung ketika harga saham sedang mengarah turun.”

[Kemungkinan itu muncul karena investor, dengan membayar sejumlah premi, bisa membeli “hak untuk menjual saham pada harga tertentu selama masa kontrak.” Misalnya saat ini harga saham NovaStar Financial Inc., salah satu pemain subprime mortgage, adalah US$20. Dengan membayar premi US$0.75, misalnya, Anda berhak menjual saham perusahaan tersebut pada harga US$20 sampai dengan akhir minggu depan. Belum sampai akhir minggu depan harga saham perusahaan tersebut jeblok sampai dengan US$15. Berarti, dikurangi premi US$0.75, Anda untung bersih US$4.25 per saham.]

Inilah kejelian teman saya ini. Dia sudah membaca cukup banyak berita mengenai subprime mortgage dan kemungkinan terjadi krisis di sektor itu. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia mulai melakukan riset atas perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang subprime mortgage. Dan begitu masalah subprime mortgage meledak, teman ini sudah memiliki “amunisi yang cukup” untuk melakukan langkah selanjutnya. Dia bisa dengan cepat memilih perusahaan yang bergerak di sektor itu.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini? Menurut saya ada beberapa hal. Yang pertama adalah bahwa memonitor berita adalah satu keharusan yang tidak bisa ditawar. Kedua, diperlukan pengetahuan latar belakang yang cukup untuk bisa mengambil manfaat lebih atas satu berita yang “punya makna ekonomi”. Ketiga, informasi latar seperti itu memang bisa kita “buru” dalam waktu dekat menggunakan teknologi informasi yang tersedia. Tetapi mereka yang memiliki informasi latar lebih dulu, lebih cepat, dan lebih luas akan mendapatkan peluang yang lebih besar.[her]

* Her Suharyanto adalah seorang editor ekonomi, ko0nsultan, dan trainer penulisan SPP. Ia dapat dihubungi di: her_suharyanto@hotmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *