Artikel Terbaru

Menangis bersama Adik

Seorang kakak dan adiknya berjalan pulang bersama. SD dan TK. Hari itu mereka terlambat pulang, sampai ibunya bingung. Jam 11 belum pulang, biasanya jam 10 sudah sampai rumah.

Ketika kedua anak itu sampai di rumah, ibunya memarahi si kakak.

“Kalian, kemana aja?! Kan ibu sudah bilang, kalau pulang sekolah langsung pulang! Ganti seragam. Minta ijin dulu pada ibu, baru kalian pergi main. Kemana aja? Kenapa terlambat sampai 1 jam.”

Si kakak pun menjawab omelan ibunya dengan lirih.

“Ibu, tadi boneka adik yang diberi nenek jatuh, kepalanya lepas, tangannya lepas.”

“O… jadi kamu terlambat karena membetulkan boneka adikmu, gitu? Emang kamu bisa?”Tanya ibunya.

“Enggak, bu. Aku kan juga nggak bisa membetulkan boneka adik. Aku cuma nemani adik menangis tadi di pinggir jalan…”

Ibunya terharu.

Kalau kakak yang masih SD ini sudah bisa menemani adiknya menangis di pinggir jalan, bagaimana dengan kita?

Adik dan kakak kita,… dimanakah mereka berada sekarang?

Dulu waktu kecil, mungkin kita disuapin satu piring berdua dengan mereka. Mungkin kita tidur satu ranjang. Berdua dengan kakak atau adik kita.

Sekarang dimanakah mereka berada? Apakah mereka sedang tersenyum saat ini? Atau mereka sedang menangis? Pedulikah kita pada mereka? Ataukah setiap hari yang kita pikirkan hanya diri kita sendiri?

Mungkin 1 kata, 1 telepon, 1 sms, akan memberikan penguatan, penghiburan, senyuman pada kakak dan adik kita. Mungkin mereka akan menjadi ebih kuat dalam menghadapi badai kehidupan ini karena kita menemani mereka.

Apakah anda peduli?

 *(Story of the heart – PEP)

Telah di baca sebanyak: 904
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *