Mencintai Anak
July 13, 2009 by admin
Filed under Kolom Bersama
Di suatu daerah, tinggallah sebuah keluarga nan harmonis dan rukun. Sepasang suami istri, dua anak, dan seorang ibu dari suami yang juga nenek dari dua anak tersebut. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. Tidak ada perkelahian antara dua anak tersebut. Begitu pula dengan kedua pasang suami istri. Sementara sang ibu, menikmati masa tua dengan bahagia bersama cucu-cucunya.
Dan di suatu hari pula, dua anak tersebut berlari menentang tas rangsel mereka, pulang dari sekolah dengan wajah gembira. Di tangan mereka ada dua kertas yang dipegang erat-erat seakan tidak ada yang boleh mengambilnya. Setelah sampai dirumah, mereka berlari menemui ibu untuk menunjukkan isi yang ada dalam kertas tersebut.
“Ibu…! Nilai ulangan Asmira dapat 100!” anak pertama melapor.
“Nilai Dina juga 100, Bu!” anak kedua juga melapor.
Si ibu, dengan segenap kebahagiaan yang ada dalam hatinya, mengembangkan tangannya memanggil dua anaknya kepelukannya. Dan dengan berlari, sang anak memeluk ibunya yang langsung menciumi kedua anak tersebut.
Walhasil, berita suka cita tersebut terdegar oleh sang bapak di malam hari ketika baru pulang dari kantornya. Dengan perasaan senang, sang bapak menjanjikan liburan keluar kota untuk merayakan keberhasilan dua anak tercintanya. Semua anggota keluarga setuju, tidak terkecuali nenek dua anak tersebut yang semakin memasuki usia renta.
Tanggal untuk berlibur telah ditetapkan. Tujuan pun telah ditentukan. Namun, apa asa, sang nenek yang telah tua renta tiba-tiba mendadak sakit. Penyakitnya kambuh dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Si Bapak bingung. Di satu sisi, ia berposisi sebagai anak yang harus membahagiakan Ibunya dengan menjaganya ketika sakit. Dan di sisi lain, ia bertindak sebagai bapak yang harus membahagiakan anak-anaknya dengan liburan. Namun, hidup adalah pilihan. Dan dia harus memilih akibat biaya yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan keduanya.
Akhirnya di suatu malam. Dengan perasaan yang sedih. Ia mengajak kedua anaknya untuk membicarakan masalah penundaan liburan. Ada perasaan tidak enak dihatinya ketika, di awal janji liburan dahulu, ia mengetahui bahwa anak-anaknya sangat berbahagia ketika ia mengajak mereka berlibur. Tapi apa daya, perawatan ibu harus didahulukan. Dan tentunya akan berakibat pada liburan yang harus ditunda bahkan dibatalkan.
“Nak! Nenek sedang sakit dan membutuhkan biaya yang besar untuk perawatannya. Sementara, bapak tidak punya uang lebih. Liburan yang telah kita rencanakan itu dibatalkan dulu ya? Nanti ketika bapak sudah punya uang, kita akan liburan. Ok?” Ujar sang bapak dengan perasaan sedih di hatinya karena ia tahu perasaan anak-anaknya.
Tidak ada jawaban dari kedua bibir anaknya beberapa saat. Si Bapak pun tidak berani memaksakan kehendaknya hingga akhirnya kedua anak tersebut berlari kekamar mereka masing-masing. Bertambahlah kesedihan yang ada dalam diri sang Bapak terhadap apa yang dirasakan oleh dua buah hatinya yang tersayang.
Belum hilang rasa sedih yang ada dalam benak sanubari sang bapak ketika kedua buah hatinya keluar dari kamarnya. Namun yang terlihat adalah, di kedua tangan kedua anaknya tersebut, celengan tabungan berbentuk ayam. Kedua anak tersebut mendekati sang bapak seraya berkata.
“Pake aja uang Asmira untuk kesembuhan nenek, Pak!”
“Uang Dina juga!”
***
Membaca kisah di atas mungkin akan membuat kita bersedih bahkan menangis. Bagaimana tidak, seorang anak yang disangka akan menolak mentah-mentah pembatalan liburan, melakukan sesuatu yang sangat mulia dengan mengeluarkan tabungannya. Liburan, yang pada hakikatnya adalah hak anak, akhirnya dibatalkan.
Namun, kenyataan seperti diatas sangat berbanding terbalik dengan berita-berita aborsi yang menghiasi media cetak akhir-akhir ini. Begitu pula dengan pemberitaan mengenai sosok bayi yang di buang ke selokan dan tong-tong sampah. Penelantaran anak dan lain sebagainya.
Pertanyaannya, kenapa hal ini dapat terjadi? Bukankah keberadaan anak atau generasi penerus adalah harapan yang akan meneruskan perjuangan mereka? Sebagaimana pernyataan yang di lontarkan presiden pertama republik Indonesia, Soekarno, yang mampu mengubah keadaan dunia dengan hanya menggunakan sepuluh pemuda saja?
Cintailah anak atau generasi penerus, setidaknya, itu yang harus di pahami bersama. Karena merekalah yang kelak akan membacakan sejarah-sejarah perjuangan generasi masa kini ataupun generasi terdahulu. Merekalah yang melanjutkan perjuangan-perjuangan dan pekerjaan-pekerjaan yang generasi sebelumnya.
* Radinal Mukhtar Harahap. Alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah ini dilahirkan pada tanggal 25 Juli 1988 di kota Pekan Baru, Riau. Setelah menempuh pendidikan dasar, pindah ke Kota Medan untuk menyelesaikan pendidikan menengah pertama dan atas. Kini, sedang menempuh pendidikan strata-1 (S1) di IAIN Sunan Ampel Surabaya sambil “nyantri di Pesantren kampus tersebut. Dapat dihubungi di email radinal88@gmail.com atau di blog pribadi http://kumpulan-q.blogspot.com. Dapat juga di hubungi di nomor 081331185527
Telah di baca sebanyak: 8












Jika boleh saya simpulkan bahwa santunnya si anak dan baiknya si cucu sang nenek tersebut tidak lain adalah karena sang nenek sejak awal telah mengajarkan pada anaknya tentang pentingnya rasa empati, cinta kasih, tenggang rasa, tolerans,kasih sayang antar sesama, sehingga akhirnya beliau pantas mendapat ganjaran yang setimpal dengan yang pernah ia ajarkan dan lakoni,Kata-kata mutiara bertutur” apa yang kita tanam itulah yang kelak kita panen ” adalah benar adanya.Nah sekiranya sang nenek tersebut dari semula tidak pernah mengajarkan nilai-nilai luhur itu, saya yakin sejuta persen sang nenek bukan saja tidak dipedulikan oleh sang anak tapi malah “dibuang” ke panti jompo,Itu belum tragis, kini telah sering muncul berita ke permukaan banyak nenek-nenek yang akhirnya dibunuh anaknya sendiri oleh hanya karena ingin menguasai harta benda atau warisan sang nenek.Semoga hal itu jauh dari kita dan semoga kita senantiasa menjadi anak yang berbakti pada orang tua, meski pun sekiranya dahulu oleh karena sesuatu hal orang tua kita lupa atau tidak sempat mengajarkan nilai-nilai luhur itu pada kita.
Artikel yang sangat menarik. Setuju sekali Kita harus mencetak generasi generasi penerus yang unggul.
Sebagai orangtua,pengasuh,dan pembimbing sudah seharusnya kita memberikan dan mengajarkan rasa cinta terhadap keluarga , kerabat,teman bahkan dengan lingkungan kepada anak-anak sejak dini. Agar kelak bisa menjadi contoh yang baik dan menjadi generasi bangsa yang mampu membawa negara ini semakin maju dan damai. Dengan nilai etika yang sudah tertanam semenjak kecil akhirnya mereka terbiasa untuk melatih diri dalam menghadapi persoalan hidup. Semua itu berawal dari kebiasaan yang di terapkan dalam sehari-hari.
Sikap kita terhadap perkembangan anak-anak sangatlah penting karena mereka memiliki daya tangkap dan tingkat emosi yang berbeda-beda. sering-seringlah memeluk anak-anak kita dengan kasih sayang dan kelembutan. Agar mereka merasakan kedamaian di lingkungan di manapun mereka berada.
ITS A GOOD WORD FOR SUCCESS FAMILY
wah artikel yang sangat bagus,sudah seharusnya memang anak diajarkan sejak dini oleh keluarga tentang cinta kasih sayang terhadap sesama.agar anak tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan bisa menghadapi hidup.