Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

Mencintai dan Dicintai

March 30, 2009 by  
Filed under Artikel Writing School

Oleh: Maria Saumi

Seharian libur Hari Raya Nyepi kemarin saya lalui dengan berada di rumah saja. Keinginan menjenguk ibunda yang lagi sakit dan menjalani terapi kesehatan di salah satu Holistic Center di daerah Purwakarta, Jawa Barat ada kendala. Ingin jalan-jalan ke mal juga batal dikarenakan kekasih saya yang biasanya menemani flu berat. Saya pun ketularan tidak bergairah. Akibatnya saya hanya berdiam di rumah saja, tidak melakukan aktivitas di luar rumah, seharian “tenggelam” bermalas-malasan di kamar. Selain hampir seharian ditemani hujan yang cukup lebat di Jakarta Selatan kemarin, saya juga disibukkan dengan laptop, beberapa majalah, buku, serta siaran TV. Alhasil, lenyaplah kesendirian saya. Benda-benda itu dengan setia mengiringi hari saya, mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam hari.

Acara Just Alvin yang ditayangkan di Metro TV tadi malam (Kamis malam –red) menampilkan bintang tamu, Gugun Gondrong. Selebriti yang sempat sakit parah dan sekarang telah kembali setelah berobat ke negeri tetangga, Singapura. Kanker otak yang dideritanya menyebabkan kelumpuhan saraf motorik. Walaupun belum dinyatakan 100% sembuh total, tetapi dia telah mulai mengalami pemulihan yang sangat berarti, seperti diungkapkan oleh fisioterapi dan ahli akupuntur yang menanganinya, yang kebetulan juga diundang dalam acara itu. Hal tersebut menjadi sesuatu hal yang membahagiakan, dirasakan juga oleh orang-orang disekelilingnya—yang mencintainya.

Saat acara, Gugun dengan setia ditemani sang istri. Selain itu, hadir juga sahabat-sahabatnya, seperti Rico Ceper, Vina Panduwinata, serta penyanyi favoritnya Tito Sumarsono. Melihat kondisi Gugun seperti sekarang ini, semua undangan yang hadir hampir tak kuasa menahan air mata. Kondisi Gugun saat ini sangat jauh dibandingkan sewaktu dia masih sehat. Namun demikian, Gugun sudah dapat mengenali sahabat-sahabatnya. Bahkan dia juga sudah dapat mengikuti alunan nada dari lagu-lagu favoritnya, walaupun dengan terpatah-patah, yang sengaja ditayangkan agar Gugun ikut bernyanyi.

Ada kesan dan motivasi kuat dari sahabat-sahabat Gugun. Seperti diceritakan bahwa Gugun dahulunya adalah orang yang sangat aktif, suka menolong, disiplin, rajin menggalang dana untuk acara-acara amal, dan sebagainya. Mereka juga berkata bahwa kesembuhan Gugun sekarang ini tentu tidak lepas dari doa ikhlas orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya, seikhlas Gugun waktu membantu sewaktu sehat.

Sepanjang acara, Gugun Gondrong kelihatan masih kelihatan pucat. Sangat berbeda ekspresinya sewaktu dia masih sehat. Genangan air mata secara samar-samat juga terlihat mengambang di kedua ujung matanya. Sorotan kamera dengan jelas memperlihatkan hal itu. Selain itu dia juga masih belum bisa menggerakkan tubuh secara aktif, masih memerlukan bantuan seseorang. Di sini saya melihat peran sang istri begitu menonjol dalam memberikan semangat dan motivasi. Dengan penuh kasih sayang dan cinta, sang istri mengambil inisiatif penuh.

Secara pribadi, tayangan ini menggugah hati saya. Walaupun kenyataannya saya tidak mengenal dan tidak mengidolakan Gugun (dan juga bintang tamu yang lain),tapi tak terasa air mata saya pun ikut menetes. Air mata sebagai luapan akan perasaan di hati, sebagai bentuk empati akan kondisinya. Ternyata saya tidak sendirian dalam hal ini. Soalnya ketika keesokan harinya di kantor, dari obrolan ringan ketahuan juga ada seorang teman saya yang juga ikut meneteskan air mata ketika menonton acara tersebut.

Jadi tidak salah kalau saya mengatakan bahwa episode tersebut sarat dengan nuansa cinta. Cinta dan juga kasih. Saya terpesona akan betapa hebatnya perasaan akan cinta. Ternyata cinta itu memang bersifat universal, tanpa terkecuali. Semua orang bisa “tergerak dan tersentuh” oleh cinta. Cinta bisa mendatangi siapa saja, bagaimanapun bentuknya. Perasaan dicintai dan mencintai.
Jadi seseorang akan dicintai karena tindakannya mencintai orang lain. Mencintai secara tulus dan penuh akan menggulirkan buah yang manis, yaitu akan dicintai juga oleh orang lain secara penuh dan besar.

Saya mungkin bukan pecinta ulung, dalam arti kata memahami secara mendalam arti dari mencintai dan dicintai. Saya hanya mencoba untuk mengekspresikannya. Mengekspresikan apa yang saya lihat, saya jalani, dan apa yang saya rasakan. Tentunya dalam wawasan dan definisi saya sendiri.

Orang bilang bahwa cinta adalah anugerah dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Perasaan cinta akan melahirkan rasa syukur akan suatu nikmat. Hemat saya, hebatnya cobaan Tuhan terhadap hambaNya juga sebenarnya bentuk cinta Tuhan, cuma dikemas dalam paket yang berbeda saja. Untuk itu, kita harus menjadi rela dan ikhlas menerima dan menjalani skenario cobaan dari Yang Maha Berkehendak ini. Bagi Dia semudah seperti membalikkan telapak tangan. Skenario yang bagi ciptaannya itu kadangkala diartikan sebagai skenario baik dan buruk. Padahal kita pasti mengakui bahwa skenarioNya adalah terbaik buat kita. Karena Dia adalah Sang maha Sutradara sesungguhnya.

Hari ini Tuhan telah menggugah dan melembutkan hati saya. Hasilnya, saya menjadi dikuatkan dan komit lebih kukuh untuk hikmat mendoakan kesembuhan bagi semua orang, yang sedang terbaring sakit, kepada satu-satunya Sang Maha Penyembuh.Amin.(msa).

*) Maria Saumi. Lahir di Jakarta 27 Agustus 1976. Nama asli Mariatun Meima Saumi. Alumni Workshop Cara Cerdas Menulis Buku-Best Seller Batch VIII dan Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik Batch XI ini merupakan lulusan dari Jurusan Biologi (Angkatan’94) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetrahuan Alam (tahun 2000). Sebagai praktisi di bidang investasi spesialisasi future trading investment, Ia bekerja di PT. Sentratama Investor berjangka, Sudirman, Jakarta. Maria dapat dihubungi di mariasaumi@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 674

Rating This Post

Comments

5 Responses to “Mencintai dan Dicintai”

  1. Agung Praptapa on March 30th, 2009 11:27 am

    Kita akan menuai cinta bila menanam cinta. Setuju gak Maria? Nice writing. Touching….. Keep giving, keep writing!

  2. andrias harefa on March 31st, 2009 9:39 am

    Mencintai dan Dicintai.
    Waduh, siapa sangka kawanku yang satu ini pengamat soal cinta mencinta. Aku kagum karena ia mengaku “bertobat” dari shopaholic menjadi writaholic hehehe. Kayaknya dalam waktu dekat bakal bikin buku juga nih Maria. Salut!

  3. maria saumi on March 31st, 2009 10:12 am

    terimakasih buat teman2…atas doa dan supportnya…terimakasih banyak,saya seperti ini karena dukungan dan “didorong-dorong” oleh para mentor saya “yg canggih-canggih” itu…hahaha..salam sukses untuk semua .(msa)

  4. Puspita W on April 9th, 2009 11:52 am

    Anda luar biasa!. saya suka membaca karya mbak Maria, ayo mbak… bersemangat!

  5. S. Hadi Prasojo on September 14th, 2009 6:14 pm

    Bukan sekadar tulisan, tetapi makna yang luar biasa. dari sebuah penglihatan menjadi suatu tindakan. Mencintai. Masih di Sebtratama?
    Sukses ya.

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top