Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

Mendaki Gunung Lempuyang

January 27, 2009 by  
Filed under Andrew Ho

28 Agustus 2006 – 11:00   (Diposting oleh: Editor)

“Nothing is too high for a man to reach, but he must climb with care and confidence. ~ Tak satu pun terlalu tinggi untuk dicapai, tetapi ia harus mendaki dengan hati-hati dan percaya diri.”
~ Hans Christian Andersen

Gunung Lempuyang berada di ujung timur pulau Bali. Di gunung tersebut berdiri salah satu pura tertua di pulau Bali, yang dibangun pada jaman pra-Hindu- Budha. Pura tersebut adalah pura terbesar ketiga setelah pura Besakih dan Ulun Danu Batur.

Lempuyang merupakan akronim dari kata lempu yang bermakna lampu atau sinar dan hyang berarti Tuhan. Lempuyang berarti sinar suci Tuhan yang terang benderang. Ada kisah menarik tentang pura di gunung setinggi 1.174 meter itu. Saya mendengar dari masyarakat di sana tentang sebuah pemotretan di luar angkasa, yang menangkap sebuah sinar yang sangat terang di ujung timur pulau Bali. Sinar tersebut dipercaya berasal dari sebuah pura di gunung Lempuyang.

Saya terkesan mendengar tentang kemegahan dan ketinggian pura itu. Terlebih saya sudah cukup lama tidak pernah mendaki tempat yang cukup tinggi. Saya berpikir mendaki 1.750 anak tangga adalah tantangan sekaligus kesempatan untuk kembali berlatih. Maka saya langsung mengiyakan ajakan lima orang teman di Bali untuk meniti ribuan anak tangga pura tersebut.

Usai memberikan seminar di Singaraja dan Denpasar dalam dua hari, keesokan harinya kami segera melakukan persiapan pendakian. Sepanjang mempersiapkan perbekalan, pikiran saya sibuk membayangkan pemandangan alam dilihat dari puncak salah satu pura tertua di Bali. “Pasti sangat mengagumkan dan luar biasa,” gumam saya dalam hati.

Proses awal ditandai dengan keinginan untuk meniti setiap tangga supaya sampai ke puncak pura. Dibutuhkan tenaga dan semangat luar biasa untuk sampai ke sana. Agar tenaga dan semangat tidak kendor, untuk itu diperlukan sebuah komitmen.

Begitupun dalam upaya berprestasi, sedari awal dibutuhkan komitmen untuk berhasil. Mario Andretti, seorang pembalap mobil, mengatakan bahwa komitmen memungkinkan kita mencapai setiap keberhasilan yang kita inginkan: “Desire is the key to motivation, but it’s the determination and commitment to an unrelenting pursuit of your goal – a commitment to excellence – that will enable you to attain the success you seek.”

Setelah semua perbekalan siap, kami segera berangkat. Kami harus naik ojek untuk sampai di kaki gunung. Setiba di sana, saya takjub pada ketinggian pura. “Apa mungkin saya bisa sampai ke puncak pura?” batin saya. Komitmen untuk menaklukkan gunung tersebut membuat kami tak menunggu lebih lama untuk segera memulai proses pendakian.

Mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan adalah bagian yang tak terpisahkan untuk bisa sampai ke puncak pura Lempuyang. Sepatu olahraga dan minuman adalah dua bagian penting dari keseluruhan persiapan pendakian. Begitupun untuk meraih keberhasilan, dibutuhkan persiapan. Lucius Annaeus Seneca mengatakan: “Luck is what happens when preparation meets opportunity. Keberuntungan akan terjadi ketika persiapan yang sudah matang bertemu dengan kesempatan.”

Setelah itu, menciptakan strategi adalah bagian penting dalam proses pendakian. Kami membagi pendakian menjadi empat bagian. Proses pendakian mungkin sama, di mana secara fisik dan mental kami benar-benar diuji. Tetapi dengan menerapkan strategi tersebut membuat kami bisa memfokuskan energi dan kekuatan pada setiap bagian. Meskipun cukup melelahkan, tanpa terasa akhirnya kami berhasil melintasi bagian-bagian terakhir. Mencapai keberhasilan di bidang lain pun perlu menerapkan strategi. Kita tidak akan merasa proses itu terasa panjang dan melelahkan, karena strategi yang kita terapkan menjadikan proses itu terasa menyenangkan. Selain itu, strategi juga menjadikan pendekatan dan langkah-langkah yang harus kita tempuh lebih efisien dan tepat sasaran.

Dalam perjalanan pendakian, masing-masing di antara kami saling memotivasi. Kebetulan salah seorang teman adalah wanita. Dia sempat pucat, tetapi setelah kami semua memberikan dorongan, akhirnya dia berhasil juga sampai ke puncak.

Saat itu kami juga berpapasan dengan rombongan pelajar yang turun dari puncak. Kami menyapa mereka dan memberikan ucapan selamat karena sudah berhasil mencapai puncak. Mereka pun memotivasi kami, “Teruskan, 15 menit lagi pasti sampai!” Motivasi mereka tentu membuat kami kembali optimis dan bersemangat. Padahal setelah 15 menit kami juga belum sampai ke puncak.

Motivasi dari orang lain ataupun dari dalam diri kita sendiri membuat kita tidak mudah menyerah. Saya juga sempat kelelahan saat mendaki pura Lempuyang. Tetapi saya berusaha memotivasi diri sendiri. “Tahun 2001 saya mampu naik ke puncak tertinggi Jiayu Pass di Tembok Besar Cina. Maka kali ini saya pasti bisa,” batin saya. Pengalaman sukses yang lalu memberi dorongan dan semangat yang luar biasa.

Contoh tersebut sebenarnya membuktikan bahwa kita memiliki kekuatan yang sangat besar untuk melampaui tantangan sebesar apa pun. Dibutuhkan sebuah motivasi untuk menggerakkan semua kekuatan itu, entah motivasi dari orang lain atau dari diri kita sendiri. “Motivation is the fuel, necessary to keep the human engine running. Motivasi adalah bahan bakar, sangat penting untuk menjaga semangat manusia tetap menyala,” ungkap Zig Ziglar.

Cara yang paling efektif untuk berhasil melampaui tantangan adalah dengan menikmati proses itu sendiri. Pada waktu mendaki Pura Lempuyang, kami butuh waktu untuk istirahat, dan benar-benar kami manfaatkan untuk menikmati suasana. Meskipun hanya ada monyet yang melintas, tetapi kami sangat menikmati semua itu. Sehingga perjalanan kami tidak terasa terlalu melelahkan dan membosankan.

Akhirnya kami sampai di puncak pura Lempuyang. Cucuran keringat saat berjuang mencapai puncak terbayar sudah, saat kami melihat pemandangan dari puncak pura yang sungguh luar biasa. Kami merasa seakan berada di atas awan. Hawa dan suasananya begitu sejuk dan tenang. Kami lewatkan beberapa saat di puncak pura Lempuyang untuk merayakan keberhasilan kami. Tetapi kami tentu tidak berlama-lama di sana, karena kami harus segera turun dan memulai aktivitas kami seperti biasa.

Pengalaman itu sangat berharga, dan saya kira terkait erat dengan proses menuju puncak keberhasilan berprestasi. Kalaupun kita berhasil mencapai keberhasilan, tak salah jika kita meluangkan waktu untuk merayakannya. Tetapi sebuah prestasi bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah proses.

Jadi jangan terlalu lama berada di sana atau merasa sudah cukup puas. Tetapi kita harus kembali menyusun visi, berkomitmen dan bersiap melaksanakan langkah-langkah untuk menyongsong kesuksesan berikutnya, dan yang terpenting adalah menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Tidak ada kemuliaan yang dicapai dengan menjadi lebih baik dari orang lain. Kemuliaan sesungguhnya adalah menjadi lebih baik dari diri sebelumnya,” kata pepatah Tiongkok kuno.

Telah di baca sebanyak: 1113

Rating This Post

Comments

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top