Kolom Alumni

Mendengarkan dan Belajar dengan Berbagi

Oleh: Wiji Suprayogi

Saya menyukai beberapa grup musik, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa bahkan tiap hari saya dengarkan musiknya. Dari mereka saya belajar berbagai hal: saya belajar semangat untuk hidup, belajar menjadi idealis, dan belajar memperhatikan orang lain. Dari Iwan Fals misal, saya belajar bagaimana peduli dengan sesama, belajar juga untuk menjadi diri sendiri. Lirik-lirik dan musik yang mereka bawakan menebarkan nilai tertentu yang saya rasakan menyebar dalam urat nadi kehidupan saya. Bukti nyata dari pengaruh orang-orang seperti Iwan Fals adalah ribuan fans yang selalu sigap melihat berbagai pertunjukan mereka.

Saya mencoba kilas balik bagaimana saya mengenal orang-orang tersebut. Saya menyukai band Metallica, tapi ternyata sampai saya kuliah, saya tidak memiliki satupun rekaman dari band ini secara pribadi . Saya lebih mementingkan makan daripada membeli rekaman mereka—belakangan ketika saya memiliki rejeki yang cukup, saya membeli cd-cd mereka. Lalu darimana saya mendengar mereka? Teman, ya dari teman. Saya kenal band ini di SMA, ketika seorang teman meminjamkan dengan sukarela kaset yang dalam istilahnya, “Wij musike dahsyat, lirike top”. Maka saya terhenyak dengan cara Metallica memandang dunia. Saya mulai mencari bacaan tentang mereka. Dan mencari tahu juga rekaman mereka yang lain. Lagi-lagi teman-teman yang berjasa mereka dengan sukarela meminjamkan kaset mereka untuk beredar ke banyak orang. Sepertinya ribuan orang terjangkiti Metallica dengan cara yang sama. Tidak ada keharusan membeli atau memusingkan hak cipta. Yang ada adalah semangat untuk berbagi. Kekayaan tersebut akhirnya menjadi milik bersama. Sepengetahuan saya Metallica di awal kariernya menjalankan “metode” yang hampir sama, berbagi rekaman mereka kepada yang lain.

Ribuan orang di dunia ini mendapatkan pembelajaran yang sama seperti saya dengan saling berbagi. Nilai-nilai tertanam dengan semangat berbagi ini. Tujuan utama bermusik untuk transfer rasa dan nilai benar-benar terjadi dengan tulus dan terasa sangat natural. Pendegar dan pemusik mendapatkan ikatan batin dengan berbagi ini.

Semangat berbagi ini menarik bagi saya karena beberapa hal. Salah satunya: semangat ini yang kemudian digunakan oleh pembajak untuk mengambil keuntungan menjual lebih murah. Tentu saja ini kejahatan mengingat mereka mengambil untung dari kesulitan orang lain dan berbeda dengan semangat berbagi tadi. Di sisi lain, semangat berbagi ini mendapat tantangan dari industri yang mendewakan uang dan mengharuskan peminat musik untuk membeli dengan dalih penegakan hukum dan penghargaan hak cipta. Nah karena hal inilah saya menjadi sangat sebal dengan beberapa band atau pemusik yang memiliki jutaan umat dan suka berkoar-koar di televisi, “Kalau kamu pendengar setia kami, segera beli kaset dan cd-nya yang asli”. Saya pikir ini pemaksaan dan pembodohan, seolah-olah peminat musik asli adalah mereka yang membeli barang. Bagi mereka yang hanya meminjam atau tidak memiliki akses kepada lagu mereka, sama saja dengan bukan pendengar setia.

Industri membuat bermunculannya band-band instan tanpa ketulusan. Tujuan utama mereka sangat jelas: mengeruk uang sebanyak mungkin dari penggemar mereka. Karena itu semua disusun dalam sebuah sistem yang terprogram dan menjadi tidak natural sama sekali. Semua diprogram agar menghasilkan uang sebanyak mungkin. Tidak heran, penonton musik di televisi di bayar untuk bersandiwara seolah-olah menyukai band ini. Setiap pagi mereka da di televisi-televisi kita. Rekayasa seperti ini saya pikir pembodohan. Kita dibodohkan untuk membeli album mereka yang tidak tulus. Mungkin juga bisa disebut pencurian uang kita secara tidak sadar. Kita dibodohkan karena nilai-nilai yang mereka sebarkan seringkali dangkal dan tidak nyeni sama sekali. Salah satu yang parah dari hal ini adalah: semua musik dalam industri ini menjadi seragam. Apa yang laku itu yang kemudian ditiru demi uang semata.

Secara pribadi saya setuju dengan hak cipta, tapi saya melihat dalih untuk menegakkan hak cipta ini malah menjadi alat untuk mengeruk uang dan membodohkan kita di beberapa sisi. Saya percaya bahwa ketulusan dan semangat berbagi lebih baik bagi perkembangan dunia ini. Saya melihat kerakusan akan uang membuat hal-hal positif menjadi hanya sebatas pemenuhan keinginan daging belaka. Mungkin karena itu kalangan underground—apapun itu bentuknya asal yang tulus—begitu giat menebarkan nilai-nilai dan semangat mandiri dan berbagi itu. Di Jogjakarta, tempat saya tinggal, beberapa pemusik dan seniman dengan sadar menulis: silahkan membajak album ini atau karya ini. Saya yakin salah satu semangat yang ada disitu adalah semangat untuk belajar dan menyebarkan nilai kebersamaan bukan menyetujui pembajakan yang berselimut kerakusan akan uang.

Semangat berbagi itu membuat saya dan jutaan orang lainnya, belajar untuk menjadi diri sendiri, bisa main gitar, bisa menikmati seni dengan utuh, terpacu kreatifitasnya, dan berkembang ke level berikutnya. Sepengetahuan saya, peradaban berkembang dan bergulir karena berbagi dan saling meng-kopi dan meniru untuk memunculkan ide baru.

Maka saya setuju right to copy selain copy right

*) Wiji Suprayogi, Penulis buku Mendidik Anak Menjadi Pengusaha. Alumni Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller” ini dapat dihubungi langsung di wijisuprayogi@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1133
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *