Emmy Liana Dewi

Mendongeng di Kelas

Bila Anda diminta membaca, maka buku yang mana yang akan Anda pilih: ’Harry Potter’ nya JK Rowling atau ’Anna Karenina’ nya Leo Tolstoy? Saya pikir, kebanyakan orang akan memilih membaca Harry Potter yang memakai bahasa gaul yang mudah dimengerti dengan alur cerita menarik ketimbang Anna Karenina yang bahasanya ’njlimet’, cerita klasik, dan kalimatnya panjang-panjang. Menurut Bapak Her Suharyanto, salah satu pembicara di workshop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller batch XI’ pada bulan Agustus 2009 di Jakarta, sekarang ini tren bahasa untuk penulisan buku popular sudah berubah, yaitu dari bahasa baku yang pakem menjadi menggunakan gaya bahasa narative atau gaya bahasa ’mendongeng’ yang lebih fleksibel dan gaul.

Untuk tren menulis buku, gaya bahasa narative memang merupakan tren baru, penulis seperti sedang mendongeng saja layaknya. Akan tetapi bagi warisan budaya, gaya mendongeng bukanlah merupakan hal yang baru. Sejak jaman dahulu kala, para pemimpin agama, para orang tua, penasehat kerajaan, bahkan orang tua menggunakan medium mendongeng dalam menyampaikan norma dan nilai, terutama ketika belum diketemukan cara untuk menyalin ajaran norma dan nilai yang disampaikan secara lisan tersebut dalam bentuk aksara.

Gaya Bahasa Narative vs Gaya Bahasa Klasik
Bila kita mengamati buku terbitan sekarang ini, gaya bahasa yang dipakai adalah gaya bahasa narative yaitu gaya bahasa yang menceritakan isi buku seperti seseorang ibu yang menceritakan ‘Bawang Merah Bawang Putih’ kepada anak-anaknya sebelum tidur atau nenek saya yang gemar mendongeng cerita ‘Mahabharata’ dan ‘Ramayana’ pada malam hari kepada cucu-cucunya untuk menyampaikan wejangan-wejangan atau nilai-nilai moral dan kebenaran melalui mendongeng. Dengan dongeng malahan biasanya mudah ‘nyantel’ di benak pendengarnya terutama dunia anak-anak dan diingat terus sepanjang hayatnya.

Demikian pula dengan tren baru menulis buku menggunakan gaya bahasa mendongeng. Sang penulis, entah Adi W Gunawan dalam bukunya ‘The Secret of Mind Set’ yang mau menyampaikan tentang peranan penting mind setting, entah Sri Sri Ravi Shankar dalam bukunya yang berjudul ‘God Loves Fun’ yang mau menyampaikan nilai spiritual, ataupun dr. Mehmet C OZ (yang sering muncul di Oprah Winfrey Show) dalam bukunya yang berjudul ‘YOU The Owner’s Manual’ yang mau menyampaikan diet yang menyehatkan jantung, semuanya memakai bahasa yang ringan: kosa kata yang mudah dipahami, dan gaya bahasa yang lincah, serta kalimat tidak berbelit-belit seperti seorang ibu sedang mendongeng kepada anak-anaknya agar apa yang ingin disampaikan ‘nyantel’ dan dipahami dengan mudah. Pembacapun mudah sekali terhanyut dan memahami kalimat demi kalimat yang ditulis di dalam buku mereka sehingga apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya bisa dipahami.

Coba bandingkan dengan bukunya ‘The Prophet’nya Kahlil Gibran atau ‘Anna Karenina’ nya Leo Tolstoy yang memakai gaya bahasa sastra yang klasik, dengan kalimat panjang dan berliku untuk menyampaikan alur cerita. Bahasa yang berat dan perlu berulang kali dibaca. Dari sisi nilai sastra, kedua pengarang ini adalah sang empunya. Kata-katanya indah sekali. Sayangnya, banyak orang kesulitan untuk menangkap maksud yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Jadi hanya kelompok tertentu yang membaca dan memahami inti sari yang disampaikan oleh sang penulis bergaya klasik. Untuk tidak membeda-bedakan, sebetulnya, kedua gaya bahasa tersebut semuanya bagus, tinggal dari kacamata mana kita melihatnya:dari sisi nilai klasikkah, best sellerkah, menyampaikan pesan agar lebih banyak pembaca yang mengerti pesan sang penuliskah?

Buku Pelajaran di Sekolah Dasar
Sekolah Dasar merupakan tempat dasar para siswa untuk menyukai sekolah sebagai tempat pembelajaran ilmu pengetahuan maupun ilmu kehidupan. Dalam belajar ilmu pengetahuan, seorang siswa butuh buku pegangan serta panduan dari para guru. Sayangnya masih ada (dibaca: banyak) buku pelajaran sekolah yang ditulis dalam bahasa yang sulit dimengerti oleh para siswa, terutama siswa yang baru belajar membaca.

Masih ada buku pelajaran di sekolah dasar ditulis memakai gaya bahasa yang rumit dan perlu dibaca berulang-ulang agar isi yang disampaikan oleh penulisnya bisa dimengerti dan diingat. Malahan cara penyampaian materi pelajaran ada kesan menggurui dan adanya kesan superior, dan apa yang disampaikan guru dari buku pelajaran banyak yang tidak terbantahkan. Gaya bahasa dengan kalimat panjang yang sulit dimengerti membuat siswa bosan dan malas untuk membaca apalagi mengingat. Padahal mengerti dan mengingat kembali adalah dasar keberhasilan dalam pengajaran. Memang buku-buku pelajaran sekarang sudah diberi gambar dan foto yang menarik, seandainya ditambah kalimat-kalimat yang informatif dan mudah dimengerti oleh para siswa, pasti siswa akan senang membaca berulang-ulang seperti sedang membaca buku cerita dan tanpa beban. Sehingga walaupun belum diterangkan di dalam kelaspun para siswa sudah mendahului membaca. Misalkan untuk mengajar matematika, soal matematika bisa dibuat seperti bercerita, di mana akhirnya siswa mulai mengerjakan soal dari pertanyaan cerita tersebut.

Saya ingat ketika di kelas empat saya membaca buku cerita karangan Karl May (maaf judulnya lupa. Apakah ada Pembaca yang ingat?) tentang kisah perjalanannya keliling dunia. Pada tahun 60 an, gaya bahasanya Karl May sudah lebih mendongeng daripada gaya bahasa yang dipakai di dalam buku pelajaran di sekolah. Dan saya bisa mengingat banyak tempat di Asia dengan kulturnya yang unik yang membuat saya tertarik belajar ilmu bumi dan bahasa Inggris dengan baik. Dan sampai kini dengan usia yang sudah mencapai setengah abad, saya masih ingat kebiasaan orang di Nepal minum teh memakai mentega, atau di gunung Himalaya orang mencoba memasak nasi tapi tidak bisa matang karena udara sedemikian dinginnya. Bahasa Inggris saya juga saya pelajari sendiri di kelas lima (pada tahun 70 an, pelajaran Bahasa Inggris baru dimulai diajarkan di bangku SMP), dan ketika di SMP saya dengan sangat mudah mengikuti pelajaran Bahasa Inggris yang menurut teman-teman saya tidak mudah. Nah, seandainya pelajaran-pelajaran ditulis memakai gaya bahasa yang menarik, maka tak pelak para siswa akan menikmati membaca buku pelajaran bahkan sangat menyukainya. Siswa bisa membaca bab pelajaran yang belum diterangkan karena bukunya menarik perhatiannya.

Mendongeng di Kelas
Buku pelajaran bukan satu-satunya keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Cara guru membawakan pelajaran lebih menentukan keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas, walaupun sekarang sudah memakai kurikulum yang berbasis kompetensi yang membuat murid-murid aktif dan menjadi pusat yang terpenting (student centered) dalam proses Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM). Bagaimanapun cara guru menyampaikan materi pelajaran menentukan siswa menyukai kelasnya atau tidak, dan ini yang menentukan keberhasilan KBM di kelas.

Mengingat cara tradisi lisan yang telah lama dilakukan turun temurun, apabila guru Sekolah Dasar membawakan mata pelajaran dengan santai, memakai domain yang sama dengan yang pakai oleh siswa, dengan cara mendongeng dan komunikasi interaktif, niscaya suasana kelas akan menjadi sangat amat menyenangkan. Mendongeng di kelas sangatlah meyenangkan. Bahkan matematikapun bisa dilakukan didahului dengan mendongeng yang memasukkan unsur-unsur matematika. Lalu pertanyaan-pertanyaan juga mempunyai unsur matematika sesuai topik yang sedang dibahas, maka komunikasi antara guru dan siswa akan lancar tanpa suasana kikuk dengan adanya masalah senioritas sang pengajar. Para siswa akan hanyut terhipnotis mendengarkan Ibu Tuti yang bercerita bahwa kemarin pergi ke pasar membawa uang sekian rupiah dan membeli: dua buah ketimun @ seharga A rupiah, tiga bengkuang @ seharga B rupiah, 5 kedondong @ sehargaC rupiah, sebuah nenas seharga D rupiah. Carita Ibu Tuti membuat siswanya mendengarkan sambil berpikir, berapa yang telah dibelanjakan oleh Ibu Tuti dan berapa sisa uang yang di dompet Ibu Tuti tanpa terpaksa mengerjakan soal matematika (sambil menelan air liur membayangkan nikmatnya lotis yang dibuat Ibu Tuti. Apalagi kalau Ibu Tuti benar-benar membawa lotis buatannya ke kelas. So pasti murid-muridnya akan mengerjakan soal-soal matematika berikutnya dengan lebih cepat dan menikmati kelas Ibu Tuti).

Di dalam kelas, siswapun wajib mendongeng. Tugas-tugas yang dikerjakan oleh para siswa, baik tugas perorangan maupun tugas kelompok dibuat dalam bentuk laporan yang akhirnya, para siswa maju ke depan kelas untuk mendongengkan hasil tugas yang dikerjakan atau forum ini bahasa kerennya: ‘presentasi’ yang esensi sebenarnya tetap ‘mendongeng di kelas’.

Cara menyampaikan pelajaran dengan mendongeng, cara menyampaikan laporan tugas dengan mendongeng akan membuat para siswa menjadi lebih aktif dan fokus. Pandangan siswa melihat gerak tubuh pengajar dan teman yang sedang mendongeng, pendengaran siswa aktif mendengarkan alur dongeng agar mengerti isi atau materi yang disampaikan, dan seluruh gerak tubuh siswa juga bergerak pada saat mendongeng di depan kelas dan juga pada saat mencari sumber bacaan dalam proses membuat laporan kerja, siswapun bersama-sama aktif berpartisipasi membentuk lingkungan proses pembelajaran yang menarik secara terpadu. Atau boleh dikatakan sistem pembelajaran visual, auditori, kinestetik, lingkungan menjadi terpadu dalam satu, yaitu sistem pembelajaran holistik yang berawal dari mendongeng di kelas. Tentu kelas akan menjadi sangat menarik!! Hormon endorfin (hormon pencetus rasa senang) muridpun akan mucul mengusir hormon kortisol (hormon pencetus stres).

Saya yakin sistem pembelajaran holistik ini sudah dikembangkan di sekolah-sekolah ‘berbintang’ dan sekolah-sekolah lainnya yang telah maju, akan tetapi berapa persenkah sekolah berbintang dan yang maju ini bisa dijumpai di Indonesia? Dan berapa gelintir siswa yang sangat beruntung yang ortunya mampu merogoh kocek mereka untuk investasi masa depan bagi siswa-siswa yang super beruntung ini? Bagaimana dengan sekolah-sekolah di pedalaman? Bagaimana dengan sekolah-sekolah di kota yang para pengajarnya merupakan produk peninggalan sistem pendidikan model lama yang datang ke kelas dan hanya ‘menyuruh’ siswanya membuka buku dan membaca buku pelajaran saja? Lalu guru menerangkan dan diakhiri dengan bertanya:”Apakah ada pertanyaan hari ini, Anak-Anak? Kalau tidak ada, Ibu/Bapak akan memberi tugas kepada Kalian…”. Dan kelas selesai. (Mohon maaf, ternyata pada jaman sekarang ini, masih ada pendidik yang mengajar dengan cara antik dan kuno, lho).

*) Emmy Liana Dewi, Alumnus Workshop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller”. Ibu Rumah tangga, pemerhati masalah pendidikan, dan kesehatan holistik ini dapat dihubungi langsung di esuhendro@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 3345
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *