Kolom Bersama

Menembus Dinginnya 0 Derajat

Oleh: Riris Theresia

Agustus 2014, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti perayaan Dieng Culture Festival (DCF) 5 melalui sebuah agen perjalanan di Jogja. Petualangan kami dimulai dari stasiun kereta api (KA) Jakarta Kota menggunakan KA Gaya Baru Malam dengan jadwal keberangkatan jam 10.30 tepat. Saya dan suami sangat excited karena ini adalah perjalanan pertama kami yang mengusung tema perayaan kebudayaan suatu daerah di Jawa Tengah. Rombongan besar kami yang berangkat dari Jakarta ada sekitar 50 peserta, di mana sebelumnya kami sudah saling berkenalan via media wahatsapp.

Delapan jam berlalu dan tibalah kami di stasiun KA Lempuyangan. Kami semua diantar ke Ketawang menggunakan 3 bus besar. Di sana kami rebahan sebentar dan menikmati hangantnya teh sambil menunggu peserta lain yang akan bergabung dengan kami dari daerah lain. Kami pun berganti bus dengan ukuran yang sedikit lebih kecil untuk menuju Dieng. Sedikit surprise, kami rupanya dibagikan goody bag dari panitia yang berisi tiket VIP DCF 5, baju, kain khas Jogja dsbnya. Wow … menarik bukan?

Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Kami semua yang sudah berada di bus sudah tidak sabar untuk segera sampai di Dieng karena perjalanan ke sana lumayan jauh ternyata. Namun setelah 20 menit berlalu, bus belum juga berangkat. Apa masalah? Rupanya masalah teknis karena ada beberapa peserta yang belum kebagian tempat duduk. Panitia pun kewalahan. Kami yang sudah terkantuk-kantuk hanya bisa menunggu dengan lelah seraya berdoa agar peserta yang belum dapat tempat duduk segera bisa melabuhkan pantat mereka juga.

Satu jam pun berlalu. Mulai terdengar suara mesin bus untuk bergegas pergi tanpa kami ketahui apakah peserta lain sudah mendapatkan bus.

Jam 04.00 subuh, kami pun tiba di Dieng, tepatnya di Sikunir yang memiliki suhu 0 (nol) derajat. Sesampai sana, tujuan pertama kami adalah hiking di bukit Sikunir untuk melihat indahnya sunrise. Semua orang bergegas agar tidak ketinggalan moment indah ini. Ada yang naik ojek sampai di persimpangan, ada yang mendaki dengan bergegas. Sedangkan saya dan suami? Memilih untuk berjalan kaki dengan santai sambil menikmati detik demi detik pendakian ini, bersama dengan rombongan pendaki lainnya.

Tepat matahari terbit, kami tepat pula mencapai puncak pendakian. Rasa lelah dan cepak terbayar lunas dengan indahnya pemandangan gunung Sindoro dan gunung Sumbing, yang susah untuk dijelaskan, diselingi dinginnya udara sampai menembus tulang rasanya. Bukit Sikunir ini terletak di desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa. Secara pribadi saya setuju jika tempat ini disebut spot terbaik untuk melihat bangunnya sang Surya. Selesai menikmati tempat ini sambil berfoto-ria, kami pun turun dari bukit menuju homestay.

Ketika berada di bawah, saya melihat banyak aktivitas anak-anak kecil yang mau berangkat menuju sekolah. Anak-anak itu dengan cepat memikat hati saya. Pipi kemerahan yang tersapa sinar matahari pagi terlihat sangat menggemaskan. Selain itu saya juga menikmati jajanan penduduk lokal di pagi hari, yaitu “buah anget”, yang bentuknya seperti sop buah namun hangat. Harganya? cukup seribu rupiah.

Setiba di homestay, kami pun bersih-bersih tubuh. Saya nekat mandi tanpa air hangat karena saya pikir kapan lagi bisa menikmati mandi dengan suhu udara sedingin ini tanpa air hangat. Sensasinya? Wow … tidak terbayarkan. Selesai berbasuh, kami pun sarapan. Ada kejadian yang sedikit merusak kenyamanan pagi itu, yaitu terdengar suara salah satu peserta yang hampir berteriak dengan nada marah ke guide. Selidik punya selidik, rupanya peserta tersebut tidak kebagian kamar di homestay. Rupanya bukan cuma dia, ada juga beberapa peserta lain mengalami hal yang sama. Ini adalah puncak kemarahan peserta tersebut karena sejak awal dia sudah merasa tidak terlayani dengan baik. Ah … Saya sempat membayangkan jika saya di posisi dia, dengan kondisi yang melelahkan ditambah mendapat perlakuan yang tidak sesuai keinginnan … mungkinkah saya akan bertindak sama? Tapi saya tersadarkan, kalau saya di posisi mereka, saya akan memilih untuk diam sejenak selama 6 detik, berpikir jernih sebelum bertindak dan mengelola emosi saya. Jika saya marah seperti itu, saya yakin selama liburan saya tidak akan bisa menikmatinya, dan sepertinya hal itu terjadi pada peserta yang marah tersebut.

Terlepas dari kejadian tadi, saya pun meneruskan agenda untuk mengunjungi komplek Candi Arjuna. Kami sepakat naik bus karena setelah itu kami juga akan mengunjungi kawah Sikidang dan Telaga Warna. Sesampai tujuan, kami pun turun. Dan betapa kagetnya kami karena kami dilepas begitu saja sama guide. Kami harus mandiri dalam menjelajah Dieng, yang mengundang ocehan tiada henti dari beberapa peserta. Tidak mau mengikuti gerombolan menggerutu itu, saya dan suami pun menikmati suasana dengan mengelilingi candi. Candi-candi di komplek Arjuna hampir semuanya di pugar dan di jaga ketat oleh polisi-polisi berbadan tegap. Namun demikan kami tidak kecewa karena teralihkan dengan sajian kuliner. Ada kentang goreng khas Dieng dan es dawet durian.

Puas di sana, kami pun meneruskan perjalanan kami ke Kawah Sikidang. Di kawah Sikidang pemandangannya tidak jauh beda dengan kawah-kawah yang pernah saya kunjungi. Aroma khas belerang sempat tercium beberapa kali. Tapi yang tidak mengenakkan adalah ada aroma busuk, yang rupanya berasal dari telur-telur yang kelamaan berada di dalam kawah. Kenapa itu bisa terjadi? Rupanya ada pedagang yang memasak telurnya di kawah tersebut 🙂

Perhentian saya selanjutnya adalah Telaga Warna. Panoramanya sangat memanjakan mata. Air telaga yang kadang berubah warna seperti pelangi, refleksi dari indahnya ciptaan Sang Pencipta. Di seberang lokasi Telaga ini saya dan suami lagi-lagi belanja kuliner. Ada mie Ongklok khas Dieng.

Tidak terasa hari pun menjelang malam. Kami kembali menuju komplek Arjuna untuk menikmati Jazz Atas Awan. Acaranya seru. Selain ada panggung musik, juga tersaji aneka kegiatan lain, seperti bakar jagung massal, pelepasan lampion, dan berbelanja benda unik khas Dieng dan sekitarnya. Malam yang sangat indah.

Puncak dari festival budaya ini adalah keesokan harinya, yaitu ritual pemotongan rambut anak bajang atau rambut gimbal. Saya baru tahu saat itu bahwa festival ini di hadiri lebih dari 20.000 pengunjung. Wow … animo peserta luar biasa. Selesai ritual, rombongan kami pun bergegas menuju stasiun KA Purwokerto untuk kembali pulang ke Jakarta.

Buat saya liburan kali ini sangat berkesan. Dengan sejuta kegiatan yang memanjakan mata, lokasinya juga sungguh memesona. Dalam hati saya bertekad, saya akan datang kembali tahun depan untuk DCF 6 seraya menikmati dinginnya 0 derajat.

Penulis
Riris Theresia S.
Twitter: @ririshG0SUCCESS

Telah di baca sebanyak: 1316
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *