Kolom Alumni

Mengapa Hak Lebih Dulu?

Oleh: Endra Handiyana

“Pokoknya saya gak mau tahu, gaji saya harus dibayar penuh bulan ini”, teriak Herman kepada bagian personalia saat mengetahui bahwa slip gaji yang dia terima tidak penuh seperti yang diharapkannya.

Mungkin juga hal tersebut pernah terjadi kepada diri kita. Saat hak yang seharusnya kita dapatkan ternyata sebagian dikurangi oleh perusahaan tempat kita bekerja. Bahkan hal tersebut terjadi tanpa sepengetahuan kita secara langsung. Mungkin dalam hati kita akan merasa kecewa, marah, jengkel, menggerutu, atau apalah namanya.

Kecenderungan yang terjadi di kalangan masyarakat, hak adalah lebih utama sehingga mereka akan mendahulukan haknya terlebih dahulu tanpa pernah bercermin kepada kewajiban apa yang harus dilakukan. Sedikit saja hak terkurangai, maka begitu banyak perasaan kecewa harus terluapkan bahkan sampai meledak-ledak.

Di sisi lain, apakah kita pernah berpikir bahwa selain kita punya hak terhadap perusahaan kita juga mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan terlebih dahulu? Kalau berpikir sih saya rasa sudah, akan tetapi benar-benar memikirkannya mungkin saja belum kita lakukan. Selain itu pernahkah kita memikirkan juga bahwa sebenarnya perusahaan tempat kita bekerja juga mempunyai hak yang lebih besar terhadap diri kita sebagai karyawan? Hak perusahaan terhadap para pekerjanya itulah yang disebut kewajiban bagi si pekerja. Sebaliknya kewajiban bagi perusahaan terhadap pekerjanya merupakan hak yang harus didapatkan oleh si pekerja.

Dari sekian banyak orang yang sudah saya temui, sebagian besar mereka selalu mendahulukan haknya dari pada kewajibannya. Tidakkah kita malu kalau kita menuntut hak kita tanpa kita pernah melakukan kewajiban dengan sebaik-baiknya?

Hal ini awalnya mungkin saja dipacu karena penulisan dalam Bahasa Indonesia yang kurang tepat. Dalam Bahasa Indonesia selalu saja dituliskan ”Hak Dan Kewajiban”, jadi seolah-olah masyarakat dijejali harus menuntut haknya dulu sebelum menjalankan kewajibannya. Mungkin akan berbeda kondisinya seandainya dalam pengenalan bahasa saja sudah dilakukan perubahan, sehingga akan berbunyi ”Kewajiban Dan Hak”, dengan begitu tergambarkan bahwa untuk mendapatkan hak maka seseorang harus menjalankan kewajibannya dulu dengan sebaik-baiknya.

Dalam Bahasa Indonesia banyak sekali kata-kata yang berstatus terbalik seperti ini, misalnya ”Pulang Pergi”, seharusnya pergi dulu baru pulang, bukannya pulang dulu kemudian pergi. Kasihan kan yang menunggu di rumah. Adalagi ”Keluar Masuk”, seharusnya masuk dulu baru bisa keluar, kalau keluar dulu kemudian baru masuk lantas nanti kalau terkunci di dalam bagaimana?

Kata-kata seperti ini yang meracuni karakter asli dari manusia yang seharusnya bisa berpikir sedikit lebih maju. Oleh karena itu sepertinya orang-orang merasa dimanjakan dengan adanya hak, sehingga mintanya selalu yang enak-enak saja tanpa pernah melakukan kerja kerasnya.

Jika kita lihat kebelakang lagi, pernahkah perusahaan menuntut kita karena perusahaan tidak mendapatkan haknya? Saya rasa akan sangat kecil kemungkinannya jika perusahaan akan menuntut kita hanya karena kita tidak memenuhi kewajiban kita secara penuh, sedangkan kita menuntut mendapatkan hak kita secara penuh.

Jika kita berpikiran sebagai seorang yang maju dan memiliki visi mengenai kehidupan kita sendiri, seharusnya prinsip menang dan menang tersebut diberlakukan. Disatu sisi kita menang mendapatkan hak kita dan disisi lain perusahaan tempat kita bekerja juga menang mendapatkan haknya.
Bagaimana caranya memenuhi kewajiban? Tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati. Misalnya:

1. Disiplin
Dalam melakukan setiap pekerjaan kita harus selalu disiplin, baik saat masuk kerja dan juga saat pulang kerja. Terlambat sedikit saja berarti sebenarnya kita sudah tidak bisa menjalankan kewajiban dengan baik, jadi seharusnya kita sendiri akan merasa malu jika menuntut hak yang penuh harus diberikan kepada kita. Disiplin bukan hanya mengenai waktu, bisa juga kedisiplinan dalam kita menempatkan sesuatu, misalnya menempatkan sampah. Sampah B3 harus dibuang ke tempat sampah B3 bukannya ke tempat sampah organik, demikian juga sebaliknya. Juga disiplin menempatkan sepatu pada rak sepatu yang sudah disediakan, disiplin menyimpan tas dan barang bawaan pada loker yang sudah disediakan dan juga disiplin memarkir sepeda motor dapa tempat yang sudah ditetapkan.

2. Jujur
Jujur dalam berbuat haruslah dilakukan. Kalau memproduksi barang dan seharusnya direject namun karena perhitungan target omset maka barang tersebut akhirnya lolos bagian quality. Hal ini akan merugikan konsumen dalam jangka panjang dan pada ujungnya perusahaan juga yang akan mengalami kerugiannya. Ada juga saat kita melihat sampah tergeletak di tanah, kita pura-pura tak melihatnya, sehingga sampah tersebut tetap saja dibiarkan tergeletak, bukankah hal tersebut merupakan sebuah kebohongan?
3. Ubah paradigma
Seperti sudah saya jelaskan di awal, bahwa sebenarnya perusahaan mempunyai hak yang lebih besar kepada kita dari pada hak kita terhadap perusahaan. Jadi untuk mendapatkan hak merupakan sebuah perjuangan yang terwujud dalam proses pelaksanaan kewajiban. Kalau ingin mendapatkan hasil yang baik (baca hak) maka kita harus berjuang (baca kewajiban) dengan baik juga, sehingga proses keseimbangan akan tetap berjalan.

Dengan adanya proses kesadaran diri akan pentingnya kewajiban sebelum menagih hak, maka niscaya segala sesuatu yang kita lakukan akan terasa lebih nikmat. Hak itu belakangan, kewajiban itu yang harus duluan.

* Endra Handiyana; Penulis buku “Sukses Dengan Kekuatan ABJAD”. Alumni Writer Schoolen “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller batch V” ini dapat dihubungi di endra.handiyana@gmail.com.

Telah di baca sebanyak: 4925
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *