Edy Suhardono

Menghargai (Nilai) Diri

Kejadian yang saya ceritakan berikut mungkin pernah pembaca alami sendiri, entah ketika berperan sebagai anak atau orangtua. Saya tergerak menuliskannya sejak saya kedatangan seorang bapak (klien) yang mendaftarkan diri ke front office dan mengaku bermaksud mengkonsultasikan putrinya yang bermasalah.

Di ruang konsultasi, ternyata yang saya temui adalah pasangan suami istri. Sang istri memulai membuka pembicaraan dengan senyuman khasnya, “Pak Edy, kami harus meminta maaf karena telah berbohong kepada staf Bapak. Sebenarnya bukan anak kami yang bermasalah, tetapi ayahnya, ya suami saya ini…”.
“Begini ceritanya, Pak Edy…” tukas sang suami. “Suatu sore saya ditegur ibu mertua saya yang kebetulan tinggal serumah bersama kami. Beliau menyatakan kesedihannya menyaksikan cucunya, anak perempuan kami, menyerocoskan kata-kata makian. Ibu mertua saya menyebutkan beberapa kosakata makian… dan saya sungguh terkejut, sebab kata-kata itu persis merupakan kata-kata yang pernah keluar dari mulut saya sewaktu kami sekeluarga bermobil dan tiba-tiba “dikepot” sebuah bus Metromini. Serta merta saya gampar sang sopir sambil melontarkan seribu makian setelah saya berhasil memalangkan mobil kami di depan busnya”.

Nilai Sebuah Diri

Kejadian dimaki atau memaki dengan kata-kata kotor mungkin mengejutkan pada kali pertama, namun cenderung menjadi awal kebiasaan pada kali berikutnya.
Suatu malam hari, 35 tahun silam, sesudah makan malam ayah memanggil saya dan enam adik saya. Sembari memegang selembar uang dan dengan tangan terangkat tinggi ayah bertanya: “Siapa yang mau uang Rp 10.000 ini?” Tangannya yang memegang selembar uang itu kian terangkat ke atas disertai pengulangan pertanyaan yang sama hingga tiga kali. Keruan saja, saya dan keenam adik saya sungguh terpana. Entah karena baru kali ini melihat uang bergambar Sudirman senilai itu atau karena baru kali ini menyaksikan ayah saya yang berperilaku seaneh itu.

“Anak-anak, ayah akan memberikan uang Rp 10.000 ini kepada salah satu di antara kalian, tetapi lihatlah yang ayah akan lakukan.” Ayah saya melipat-lipat lembar uang itu hingga menjadi lipatan segi empat seluas ibu jari. “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” tanyanya sambil memegang lipatan uang itu di antara ibu jari dan jari telunjuk dengan tangan terangkat di udara. Kami hanya saling memandang.

“Bagus… bagus… sekarang lihat yang akan ayah lakukan…” Lantas ayah saya menjatuhkan uang itu ke lantai tanah dan menggecaknya dengan ibu jari kaki kanannya seolah melumatkannya. Kemudian ia ambil uang yang sudah kotor bercampur debu tanah itu dan kembali berucap lantang: “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” sambil memegang lipatan uang kotor itu di antara ibu jari dan jari kelingking; mengesankan betapa rasa jijiknya, sambil tangannya makin terangkat ke udara.
Kami bertujuh masih terbengong melihat permainan akrobat ayah. Kami terhenyak ketika mendengar ayah berkata lirih, namun dengan penggalan patah kata yang diucapkan secara sangat jelas, “Anak-anak, baru saja ayah mengajak kalian mempelajari hal yang sangat sangat bernilai,” katanya. “Apa pun yang ayah lakukan terhadap uang ini, ayah yakin, tak satu pun dari kalian yang tak menginginkannya; sebab semua yang ayah lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Nilainya tetap saja Rp 10.000!”.

Ketaksadaran Kata-kata

Menyumpahserapahi, memaki, mengumpati sama sebangun dengan tindakan ayah saya mengangkat, menjatuhkan, melipat-lumatkan, atau menggecak lembar uang Rp 10.000-an itu. Perlakuan ayah saya itu sama identiknya dengan keputusan kita atau lingkungan kita, baik ketika mengumpati, memaki, menyumpahi, melabel, atau memberikan stigmatisasi terhadap suatu obyek atau seorang pribadi.
Bayangkan, jika yang kebetulan menjadi obyek atau orang yang terkena stigmatisasi itu adalah diri Anda, betapa Anda merasa tak bernilai, setidaknya Anda merasa bahwa harga diri Anda direndahkan. Padahal, bukan saja oleh segala caci-maki dan stigmatisasi lantas Anda jadi tak bernilai. Bahkan oleh apa pun yang sudah dan akan terjadi pada Anda, Anda takkan kehilangan nilai diri Anda. Dimaki sebagai kotor atau bersih, dekil atau parlente, berkerut atau rata, adil atau batil; diri Anda tetap dan tak hilang, tak luntur; apalagi bagi orang-orang yang menyayangi Anda.
Otomatisasi makian, mulai dari yang berspesies binatang piaraan, alat vital, hingga adjective words yang berhubungan dengan karakter; tampaknya makin sering kita saksikan di sekitar kita–- tak terkecuali di lingkup keluarga, niaga, bisnis, parlemen, pemerintahan; di wall space virtual macam Facebook; bahkan di institusi keagamaan dan pendidikan. Kekerasan kata menjadi banjir bandang yang kian sulit dibendung.

Hasil salah satu riset kecil saya di sebuah sekolah di Jawa Barat menunjukkan bahwa para siswa SMP, yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana para guru memuntahkan makian, ternyata sampai pada pemahaman bahwa sebenarnya makian itu bukan merupakan sesuatu yang direncanakan. Para siswa ini secara sangat cerdas menyimpulkan: makian, ungkapan sarkas, dan pembunuhan karakter di ruang kelas oleh para guru mereka tidak dimaksudkan untuk mengoreksi kesalahan terkait pelajaran atau disiplin; sebaliknya, merupakan data tentang inkompetensi, ketidakyakinan, bad mood, pelampiasan lain, dan sebagainya, yang kesemuanya bersumber pada kondisi para guru, dan bukan siswa. Guru yang telanjur melakukan agresi kata segera kehilangan otoritas di depan siswa, dan makiannya pun kehilangan efektivitas.

Dari perspektif si pemaki, tampaknya terdapat anggapan tentang restriksi legal yang membuat mereka terbatas menanggapi tindakan yang tidak mereka sukai (aversif). Dan hal ini juga bukan karena mereka sadar tentang masih tersedianya prosedur lain, termasuk yang berlaku di suatu lingkup seperti sekolah atau keluarga, misalnya.

Menyimak penelitian Lovaas dan Favell ( “Protection For Clients Undergoing Aversive/Restrictive Interventions” , 1987), dalam diri para pemaki terdapat dua pandangan tentang tindakan menghukum. Pertama, berupa reaksi tak terduga yang tersampaikan (contingent delivery) terhadap konsekuensi yang tak mereka sukai; dan kedua, berupa penggunaan reaksi tak terduga namun yang tak tersampaikan (contingent nondelivery) terhadap “tindakan positif” yang biasanya ditujukan pada perilaku yang tak diinginkan.

Salah satu contoh yang sangat sering saya jumpai dalam sesi konsultasi: anak sedang asyik mengerjakan PR matematika, tiba-tiba ayahnya masuk ke ruang belajar, mengomel bahwa anak harus lebih rajin belajar seraya menyisipkan kucuran kata makian. Akibatnya, perilaku belajar anak pun menurun drastis. Dilihat dari efeknya, perilaku memaki sang ayah di sini memang jelas bukan tindakan yang “secara sosial positif”. Efek ini terjadi karena makian sang ayah merupakan suatu bentuk “reaksi tak terduga yang sebelumnya pernah tak tersampaikan terhadap hal yang tak ia sukai”. Justru , karena alasan ini maka makian ini menjadi contoh dari “hukuman yang positif”. Kepositifan itu terbukti dari fakta bahwa tindakan memaki sang ayah berefek positif, yakni berupa penurunan daya pembelajaran anak.

Benar bahwa “Every man stamps his value on himself…man is made great or small by his own will” (J.C.F. von Schiller), sama seperti kata ayah saya bahwa semua yang ia lakukan tidak akan mengurangi nilai uang yang memang Rp 10.000. Sembarangan menghargai nilai diri, apalagi dengan makian, niscaya memerosotkan harga dan nilai sebuah diri.
Yang perlu dicatat, tidak ada tindakan yang terjadi tanpa dimaui. Yang ada adalah kemauan yang tak tersadari. Pokok soalnya ada pada ketaksadaran terhadap kemauan sendiri akibat terlalu banyak menunda merespon hal yang tak disukai. Padahal, merespon adalah cara mengakui (eksistensi) dan menghargai (nilai) diri sendiri tepat pada saatnya.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 5, Mei 2009.

Telah di baca sebanyak: 2297
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *