Agung Praptapa

Menjadi Lebih Tanpa Berlebihan (Local Wisdom 5)

Oleh: Agung Praptapa

Bangga menjadi orang yang hebat? Bangga menjadi orang besar? Bangga menjadi orang yang berguna dan memiliki banyak kelebihan? Tentu saja iya! Anda harus berbangga! Hidup hanya sekali. Jangan disia-siakan. Jadilah orang yang hebat, besar, dan berguna. Berbanggalah kalau Anda sudah besar, hebat, dan berguna, karena ini anugrah, yang harus disyukuri. Namun kita harus berhati-hati karena kebanggaan yang salah penerapan dan porsinya justru akan berakibat sebaliknya. Dapat menjadi bumerang. Kita bisa hancur apabila kelebihan-kelebihan yang kita miliki tidak dimanage dengan benar. Untuk itulah maka diperlukan suatu “sistem kontrol diri”, untuk menghindarkan terjadinya serangan balik atas kelebihan yang kita punya. Yang kita harapkan adalah semua kelebihan kita akan beranak pinak, sehingga kita semakin besar, semakin besar lagi, dan terus menjadi lebih besar tanpa harus meletus. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan membuat sistem kontrol diri agar kelebihan-kelebihan kita bisa terus berkembang tanpa harus meletus dan hancur lebur . Sistem kontrol diri ini telah diformulasikan oleh para leluhur melalui nasihat bijak agar kita tidak adigang, adigung, dan adiguna. Seseorang dikatakan adigang apabila ia terlampau membanggakan ‘kehebatannya’, termasuk didalamnya kesaktian dan prestasinya. Seseorang dikatakan adigung apabila ia terlampau membanggakan ‘kebasaran dan pangkatnya’.Sedangkan adiguna adalah keadaan di mana seseorang terlampau membanggakan ‘kepandaian dan kelebihannya’.

Kijang, Gajah, dan Ular
Raja keraton Suryakarta, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, di sekitar tahun 1700an mengabadikan formula kontrol diri agar tidak adigang, adigung, dan adiguna melalui tembang (nyanyian klasik jawa) yang dirangkum dalam kumpulan syair yang disebut “Serat Wulangreh”. Dalam salah satu syairnya digambarkan bahwa orang yang adigang adalah seperti kijang, yang memiliki kemampuan lari yang kencang. Orang yang adigung digambarkan seperti gajah, yang besar dan kuat. Sedangkan orang yang adiguna digambarkan seperti ular, yang mengandalkan gigitannya yang berbisa.

Dikisahkan bahwa kijang, gajah, dan ular mati bersama walaupun mereka mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh binatang lain. Mereka mati bersama untuk menggambarkan bahwa seberapa hebatnya kita, selalu ada batasnya. Kijang bisa lari kencang tetapi bukan berarti tidak bisa lapar dan tidak bisa masuk lobang perangkap. Gajah memang kuat tetapi bukan berarti tidak bisa sakit dan mati. Ular bisa memangsa binatang lain yang lebih besar namun bukan berarti ular juga tidak bisa dimakan oleh mahluk lain. Jadi dalam kehidupan ini tidak ada yang paling hebat dalam segala-galanya. Ada kelebihan, ada pula kekurangan. Sayangnya, tidak semua orang mau dengan bijak memahami hal ini. Dalam dunia kerja tidak sedikit orang yang justru mengumbar adigang, adigung, dan adiguna.

Aplikasi di Dunia Kerja
Di dunia kerja orang dituntut untuk profesional dan memiliki kelebihan yang dapat diandalkan untuk membesarkan dirinya sekaligus membesarkan organisasi dimana mereka bekerja. Kalau mau dilihat dengan hati yang jernih, sebenarnya semua orang memiliki kelebihan masing-masing. Hanya saja kepercayaan diri untuk mengekspresikan kelebihan tersebut tidaklah sama. Itulah yang membedakan antara orang yang “diakui” dan orang yang “tidak diakui”. Hal ini pulalah yang kemudian menjadikan ada orang yang berada dalam kelompok “orang hebat” dan ada pula yang berada dalam kelompok “orang yang biasa saja”. Mengapa semua orang yang sebenarnnya memiliki kelebihan sendiri-sendiri yang unik itu tidak seluruhnya menjadi orang hebat? Jawabnya adalah karena orang me-manage kelebihan yang dimiliknya dengan cara yang tidak sama. Tidak semua orang me-manage kelebihan yang dimilikinya dengan benar.

Me-manage kelebihan yang kita miliki bukanlah hal yang mudah. Untuk itulah mari kita coba menemukan cara yang tepat agar kita dapat me-manage kelebihan yang kita miliki agar bisa berkembang dan menciptakan kelebihan berikutnya (sustainable).

Yang pertama-tama harus kita lakukan adalah kita harus mengeset (setting) pikiran kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan. Kemudian kita coba temukan kelebihan kita tanpa harus gentar dengan kelebihan orang lain. Ini pekerjaan yang mengasyikkan dan memerlukan keberanian untuk mengatakan bahwa “inilah kelebihan saya”. Belum ketemu juga? Coba lagi cari dengan pikiran yang lebih jernih. Jangan ijinkan pikiran negatif merasuki kita, jangan ijinkan pikiran jelek masuk. Berbaik-sangkalah pada orang lain dan pada diri sendiri. Terus lakukan sampai kita mampu mengatakan “inilalah kelebihan kita”. Tidak perlu kelebihan seperti orang-orang super tingkat dunia. Mampu bersabar adalah kelebihan. Mampu menahan lapar juga kelebihan.

Setelah kita dapatkan kelebihan kita, kita tanam kelebihan-kelebihan tersebut didalam pemikiran dan keyakinan kita. Sirami dia, rawatlah dia, sampai dia tumbuh dan berkembang menjadi kelebihan yang kuat. Disinilah keahlian kita untuk bersyukur sangat diperlukan. Semakin bersyukur kita dengan kelebihan yang kita miliki, akan memupuk kelebihan tersebut untuk terus mengakar pada diri kita dan tumbuh berkembang. Kita disini bisa berbangga, dan kebanggaan yang proporsional akan memperkokoh kelebihan yang kita miliki.

Namun, pada tahap inilah orang banyak yang tergelincir. Sadar memiliki kelebihan kemudian mereka mulai sesumbar. Memang sesumbar terkadang bisa meningkatkan secara instan kepercayaan diri (confident), namun kalau tidak terkontrol hal tersebut akan menuju ke kepercayaan diri yang berlebihan (over confident). Pada saat over confident ini, sistem kontrol diri seseorang sudah mulai kacau. Orang sudah tidak lagi memiliki ukuran yang akurat. Yang terjadi disini orang akan “merasa” lebih hebat, bukan “benar-benar” lebih hebat.

Untuk itulah maka tiga kata “adigang, adigung, adiguna” digagas untuk menjadi sistem pengereman (break system) agar orang tidak lepas kendali. Kalau kita hebat dan berprestasi, syukurilah, tidak perlu sesumbar. Jangan adigang. Kalau kita besar, berpangkat, berkuasa, juga tidak perlu sesumbar. Syukurilah. Tidak perlu adigung. Dan kalau kita pandai, juga syukurilah, berbagilah dengan tulus. Tidak perlu sesumbar, tidak perlu adiguna.

Mari bersyukur. Mari bekerja ihlas. Mari berkembang menjadi lebih hebat, lebih besar, dan lebih berguna tanpa harus adigang, adigung, adiguna. Kita bisa menjadi lebih tanpa harus berlebihan.

* Agung Praptapa, alumni writer schoolen dan trainer schoolen ini adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur dan Direktur AP Consulting. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1981
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *