Menjadi Pemenang Sejati (Local Wisdom 9)

Oleh: Agung Praptapa

Kompetisi di dunia kerja semakin hari semakin ketat. Ada yang bilang jaman sekarang ini jaman very tight competition, atau kompetisi yang super ketat. Tidak puas dengan itu, ada yang kemudian menyebutnya dengan hypercompetition, atau kompetisi yang sudah luar biasa hebatnya, yang sudah pol-polan. Sudah gila-gilaan. Yang penting menang. Yang penting mendapatkan yang kita mau. Caranya bagaimana sudah tidak lagi menjadi pertimbangan. Ada yang nyogok, ada yang melacurkan diri, ada yang membunuh, ada yang pakai black magic, duh….”udah edan full” begitu mungkin kalau boleh meminjam istilah Mbah Surip. Gila-gilaan.

Untungnya,di tengah “kegilaan” kompetisi tersebut, masih ada orang yang memilih berkompetisi secara wajar, fair, berdasarkan kompetensi dan prestasi. Kompetisi ya kompetisi, namun pakai cara yang baik dong. Mau menang ya boleh saja, semua orang juga pingin menang, tapi yang fair dong. Kalu menang ya harus elegan. Kalau bisa, kita win-win saja lah. I’m happy, you are happy (ini dalam konotasi positif loh ya…). Tapi kalau memang harus ada yang kalah, kita tetap harus menjaga martabat yang kalah.

Kearifan local jawa mengajarkan kita agar dalam berkompetisi bisa “nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake”. Nglurug artinya adalah penyerangan besar-besaran, penyerangan yang proaktif, penyerangan yang berani mendatangi lawan. Tanpo artinya tanpa, sedangkan bolo artinya adalah pasukan, atau teman, atau orang lain. Jadi nglurug tanpa bolo dapat diterjemahkan secara umum sebagai mendatangi lawan dengan tidak melibatkan orang lain. Sedangkan menang tanpo ngasorake dapat diterjemahkan secara umum dengan menang tanpa mengalahkan, atau menang tanpa ada yang merasa dihinakan. Apa maknanya dalam dunia kerja saat ini?

Nglurug Tanpo Bolo
Kata nglurug mengandung arti adanya gerakan besar, adanya semangat mengalahkan bersama-sama, adanya langkah yang mantap, heroik, dengan semangat luar biasa. Kalau diterjemahkan dalam dunia kerja saat ini, kata nglurug bisa diartikan dengan semangat memenangkan persaingan, semangat mengalahkan hambatan, tantangan, dan rintangan yang dapat mengganggu kita mendapatkan apa yang kita mau. Ini berkaitan dengan kemauan luar biasa sebagai the winner! Pemenang!

Karena besarnya kamauan untuk menang itu maka dalam persaingan kerja sering kita temui bahwa untuk mendapatkan apa yang mereka mau, orang menghalalkan berbagai cara. Kalau perlu dengan cara memfitnah, membunuh karakter orang lain, atau cara-cara tidak terpuji lainnya. Cara-cara seperti inilah yang tidak dianjurkan dalam kearifan lokal jawa.

Kearifan lokal jawa mengajarkan kita bahwa kalau mau menang kita harus bermodalkan niat baik, cara-cara yang baik, proses yang baik, sehingga nanti hasilnya juga baik. Istilah jawanya adalah sing bener lan kebeneran, yaitu dengan cara yang benar dan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan, yang akan berakibat baik bagi kita. Pemenang yang baik adalah ‘orang baik’ yang menjadi pemenang.

Mengapa tanpo bolo? Apakah tidak boleh kita mencapai tujuan melalui orang lain? Nah ini yang perlu diluruskan. Tanpo bolo di sini adalah tanpa mengorbankan orang lain untuk mencapai tujuan kita. Tidak jarang kita dapati orang yang kasak-kusuk menjelek-jelekkan orang lain sehingga akhirnya ada gerakan masal untuk menghancurkan karakter seseorang. Disini seseorang untuk mencapai tujuannya “memanfaatkan” orang lain dalam konotasi “mengorbankan” orang lain tersebut. Bahkan ada yang lebih licik lagi, yaitu membiarkan orang lain yang berbuat kejahatan sedangkan ia sediri bersembunyi. Lempar batu sembunyi tangan.

Untuk memenangkan persaingan saat ini bahkan ada yang sudah dengan cara jaman bar-bar. Kalau perlu dengan membunuh. Membunuh beneran, sampai lawan mati. Meninggal dunia. Jadi, mereka menggunakan cara-cara seperti cara mafia. Seperti film action saja. Ini jelas ditentang habis-habisan dalam kearifan local jawa. Jangankan membunuh, saat kita bersaing sehatpun kita dianjurkan untuk menang tanpa ada yang merasa dikalahkan, menang tanpo ngasorake.

Menang Tanpo Ngasorake
Mana bisa ada orang yang menang tanpa ada yang kalah? Bukannya kemenangan ada karena ada kekalahan? Kalau gak ada yang kalah, trus mengapa harus ada yang menang? Kembali lagi kearifan lokal jawa mengajarkan kita sesuatu yang agung, yang mengandung kebesaran jiwa. Jangan mempermalukan orang lain walaupun mereka kalah. Bantulah yang kalah untuk menemukan alasan bahwa ia pun sebenarnya menang. Hanya saja menang dalam hal lain.

Menang tanpa mengalahkan mengandung beberapa pesan yang mendalam. Yang pertama, kita dianjurkan untuk berkompetisi secara sehat (fair competition). Kompetisi yang sehat akan membangun perasaan iklas bila menang maupun kalah. Saat kita bermain tenis yang dilakukan dengan rule of the game yang semestinya, kita tentunya akan ikhlas kalau misalnya permainan dimenangkan oleh lawan permainan kita. Tinggal bilang “you are great, I’ll do better next time” sambil bersalaman saat kita kalah, dan kemudian kita happy. Kalau kita dalam posisi menang juga tinggal bilang “Anda hebat hari ini, cuma saya yang hari ini lebih beruntung”. Coba lihat, dalam keadaan persaingan sehat seperti itu pantaskah kita sakit hati? Tidak kan? Yang penting happy kan? Jadi yang kalah senang, dan yang menang lebih senang. Dua-duanya senang. Kuncinya? Sekali lagi, kompetisi yang sehat!

Pesan yang ke dua dari menang tanpo ngasorake adalah agar kita menyadari bahwa tidak ada kemenangan yang abadi. Konsekuensinya tentu saja tidak ada kekalahan yang abadi pula. Kalau sekarang kita menang, mungkin saja suatu saat kita kalah. Kalau sekarang kita kalah, mungkin saja suatu saat kita akan menang. Jadi, yang menang tidak perlu sombong dan yang kalah tidak perlu putus asa.

Pesan yang ke tiga adalah agar kita turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saat kita menang memang sangat wajar kalau kita senang dan bangga. Kesenangan dan kebanggaan tersebut sangat wajar pula apabila kita rayakan dan kita nikmati. Sah sah saja kalau kita merayakan kesuksesan kita (celebrating success). Tetapi harus diingat, dipihak lain lawan kita sedang merasakan sebaliknya. Sebagai manusia kita harus toleran, harus mau memahami perasaan orang lain. Apalagi kalau apa yang dirasakan orang lain tersebut posisinya berkebalikan dari apa yang kita rasakan, sedangkan hal tersebut dalam satu paket persaingan yang sedang kita lakukan.

Pesan yang ke empat adalah agar kita terlatih dan terbiasa membesarkan hati orang lain saat mereka kalah, meskipun itu musuh atau kompetitor. Apa untungnya? Kalau mereka musuh dan kemudian kita besarkan hatinya, ada kemungkinan mereka luluh dan kemudian beralih dari musuh menjadi teman. Siapa tahu? Kalaupun mereka tetap mengambil posisi sebagai musuh, setidak-tidaknya kita sudah pernah menunjukkan kebesaran hati kita dengan tetap membesarkan hati mereka. Jadi posisi kita akan tetap sebagai pemenang. Bukannya begitu?

Pesan yang ke lima adalah agar kita memilih menjadi orang yang “baik”. Ingat, seorang pemenang yang baik adalah orang “baik” yang menang. Bukan sekedar orang yang menang dengan baik! Ini berkaitan dengan menghargai diri sendiri. Ini merupakan suatu ketetapan hati bahwa kita bukan pecundang.

Sebagai kesimpulan, persaingan kerja yang demikian keras ini bukanlah menjadikan alasan bagi kita untuk bersaing dengan tidak sehat. Hargai diri sendiri dengan bersaing sehat. Saat kita menang, hargai kompetitor yang kalah. Saat kita kalah, akui saja kemenangan lawan, dan segeralah bangkit dari kekalahan menuju kemenangan dalam babak kompetisi berikutnya. Seorang pemenang sejati adalah yang mampu berkompetisi dengan sehat tanpa memanfaatkan orang lain dalam hal keburukan. Saat menang harus dapat menjaga diri agar tidak mempermalukan yang kalah. Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

0 comments on “Menjadi Pemenang Sejati (Local Wisdom 9)Add yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *