Kolom Alumni

Menjadi Perusahaan Pandai-pandai


Oleh: Gagan Gartika

“Perusahaan pandai-pandai, perusahaan yang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga masalah sulit sekalipun selalu teratasi”.
—Gagan Gartika

Dalam menjalani hidup, sebenarnya tak perlu pintar, namun kita cukup dengan pandai-pandai. Sebab orang pintar belum tentu berhasil, tetapi yang pandai-pandai pasti pintar dalam menyiasati hidup agar berhasil.

Jadi saat sekarang, pintar saja tak cukup, tapi perlu ditambah dengan pandai-pandai. Seseorang pintar mengerjakan sesuatu, namun kalau tak pandai-pandai bergaul dan membawa diri, kepintaran itu sering kurang berguna. Karena kepintaran ini belum bermanfaat bagi kemajuan orang lain dan hanya untuk dirinya saja.

Pemilik order, pejabat, penguasa, bos dikantor biasanya senang pada orang yang pandai-pandai. Karena seseorang yang bersifat pandai-pandai bisa hibup di mana saja, dalam segala situasi serta pandai-pandai menyenangkan. Ketika keadaan krisis, misalnya, ia dapat mengatur diri dan menyesuaikan pengeluaran. Bertahan dan menyiasati diri agar tetap masih bisa survive. Dalam keluarga, misalnya, suami menyenangi istri yang pandai-pandai mengatur pengeluaran, ketika menghadapi krisis ekonomi keluarga, semula makan dengan menu bervariasi, seorang pandai-pandai, bisa merubah menjadi menu sederhana atau gradenya diatur, tanpa perlu berkeluh kesah. Juga biasa makan diluar saat bekerja, kini mulai bawa nasi dari rumah. Biasa sering pergi ke salon setiap bulan, sekarang mulai sedikit berhias. Sehingga semua pengeluaran terpangkas dan banyak berhemat. Agar hidup abnormal menjadi normal kembali.

Begitu juga dalam perusahaan, anda perlu pandai-pandai dengan karyawan, konsumen serta rekanan atau supplier.

Pertama, pimpinan perlu pandai-pandai dengan karyawan. Seorang bos dalam menghadapi perusahaan sedang goncang, perlu bekerja menjadi lebih teratur—semula jarang masuk kantor, menjadi setiap hari datang dan mulai membereskan hambatannya—rajin mengamati seluruh kegiatan pekerjaan. Akibat pimpinannya rajin, berimbas pada karyawan biasa bolos atau terlambat datang, sekarang pada rajin dan kini arus keuangan perusahaan lebih terpetakan. Pola-pola kegiatan kembali ke asal dan normal kembali. Karena selain pimpinan pandai mengatur waktu, juga pimpinan pandai-pandai membawa diri, sehingga karyawan tak gundah ketika ada perubahan—karyawan tak protes, ketika ada progam penghematan—karena perubahan yang terjadi, dirasakan bisa membawa kebaikan ke depan—menuju arah lebih baik.

Ketika perusahaan berjalan tak normal sering perlu pemimpin yang mampu mengembalikan berbagai progam yang menyimpang, menjadi teratur kembali, cash flow keuangan perusahaan perlu dipelototin terus. Program-program bukan unggulan dan progam yang tak menghasilkan arus pendapatan dicoret dulu, sehingga perusahaan lebih memperhatikan kepada kegiatan yang membuat arus kas masuk, agar pendapatan naik. Sementara, arus pengeluaran, di stop dulu. Dan perusahaan butuh turn around, dengan bos yang pandai-pandai.

Masalahnya, ketika likwiditas perusahaan terkuras, maka perusahaan akan sempoyongan, perlu suntikan dana keras. Biaya operasional bisa kosong, kalau tak ada bantuan dana segar. Untuk itu sebelum goyang, perlu penghematan di mana-mana. Agar perusahaan kembali normal. Setiap bulan perlu menghasilkan dan menyisakan uang cash berupa pengendapan saldo. Dan ketika saldo yang mengendap ini naik terus, maka keuangan perusahaan bisa pulih kembali. Hutang-hutang jangka pendek terbayar, biaya operasi mulai berputar kembali dan ketika sudah mulai normal. Investasi pun bisa bergulir lagi, tentunya investasi yang bisa cepat menghasilkan arus pendapatan.

Begitulah pimpinan yang pandai-pandai mengatur waktu, menghemat dan membuat perubahan pada perusahaan. Pandai-pandai inilah yang membuat perubahan tak menimbulkan dampak parah bagi lingkungan perusahaan dan masyarakatnya, temasuk vendor serta rekanan.

Kedua, perusahaan perlu pandai-pandai dengan konsumen. Karena terkadang bertemu dengan konsumen galak, butuh pelayanan serba perfect, butuh kesabaran dalam menerangkan tahapan-tahapan pekerjaan, agar konsumen mengerti kapan barang bisa diterima, dan mengetahui tentang kualitas pelayanan sebanding dengan harga diberikan.

Perusahaan yang tak pandai-pandai menjaga dengan konsumen, sering ditinggal mereka. Karena merasa keinginannya tak terpuaskan. Keingintahuannya tak terpenuhi. Mereka tak mendapatkan informasi aktual, sehingga rentetan janji kepada konsumen akhir, selalu meleset. Untuk itu, perusahaan perlu pandai-pandai menghadapi konsumen, apalagi, konsumen tersebut merupakan konsumen utama.

Kita beranggapan konsumen selalu benar, meskipun, kita sebagai perusahaan perlu mencari cara yang tepat, agar mereka dapat mengerti betul terhadap berbagai informasi yang kita berikan, agar mereka dapat memutuskan suatu permasalahan. Dengan demikian, ketika menghadapi konsumen rewel, karena kita masih memerlukan mereka, maka perlu pandai-pandai membawa diri.

Saya sendiri dalam menghadapi konsumen seperti ini, sering mengukur dari cara pelayanan perusahaaan pesaing. Kita perlu memberikan pelayanan yang terbaik, dan minimal bisa seperti pelayanan yang diberikan pesaing atau diatas pesaing. Sehingga ketika konsumen ingin pelayanan berlebih, dan terus merasa kurang, ketika dia memutuskan pindah ke tempat lain. Saya yakin, perusahaan pesaing tak mampu membuat pelayanan seperti kita berikan. Sehingga konsumen yang lari akan balik lagi.

Ketiga, perusahaan perlu pandai-pandai kepada rekanan, supplier atau vendor, karena ketika kita membutuhkan, mereka tetap mensupply perusahaan kita, meskipun ada keterlambatan pembayaran. Selain itu, mereka bisa membandingkan perlakuan dari perusahaan kita dengan perusahaan lain.

Karyawan, konsumen serta rekanan atau supplier merupakan tulang punggung perusahaan, yang perlu mendapat perhatian dari perusahaan, agar tetap terpelihara. Sebaliknya, ketika salah satu tersakiti, mereka akan mencari perusahaan lain, yang mampu memuaskan dirinya.

Karena itu, kita perlu pandai-pandai membawa diri dan bekerjasama dengan mereka. Dan sebetulnya sebagai perusahaan, kita hanya sebagai mediator, yang bisa mempersatukan mereka dalam perusahaan. Sehingga mereka jadi berkegiatan, karena produk serta jasanya dapat menyokong usaha kita. Menjadikan Anda bisa seperti sekarang, perusahaan masih berdiri, roda perusahaan masih menggelinding, bendera masih berkibar, Anda sebagai pimpinan masih memiliki banyak karyawan yang membantu, mereka masih menghormati, masih mau melayani, menyopir, mengetikan surat, membeli, mensupply. Untuk semua itu Anda perlu pandai-pandai dengan mereka. Dan sebaliknya, jangan mentang-mentang telah maju, sehingga melupakannya. Bila itu terjadi, cepat atau lambat, perusahaan akan menemui kehancuran. (gg)

*) Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pendiri, Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada bidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id

Telah di baca sebanyak: 1441
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *