Kolom Alumni

Menjalani Peran sebagai Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup



Seorang mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya dan menikah, sempat curhat via fasilitas chatting di situs jejaring sosial facebook. Ia mengeluh karena capek-capek menjalani kuliah dan menyelesaikan S1-nya tetapi menjadi percuma dan sia-sia belaka. Karena ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Baginya seakan-akan ilmu dan pengetahuan yang telah susah payah diraihnya selama lebih kurang 4 tahun menjadi sia-sia. Perasaannya memuncak seolah-olah dunia seperti mau kiamat.

Banyak di antara kita dibesarkan dalam sebuah keluarga tradisional ala pedesaan di tengah pola kehidupan yang agraris. Hidup normal di antara keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Seorang ayah bekerja dengan pergi ke kantor, sedangkan yang lainnya ke sawah, atau ke pasar, atau tempat lainnya dalam mencari nafkah. Sedangkan ibunya mengurusi rumah dan segala atributnya—mulai dari menyiapkan makanan, merapihkan rumah, membayar tagihan-tagihan, dan seabrek kegiatan domestik lainnya.

Tata keluarga yang demikian memungkinkan terjadinya bias gender karena menganggap bahwa yang berhak keluar rumah untuk sekadar mengaktualisasikan diri adalah pria. Sedangkan wanita dunianya adalah hanya sekitar dapur, sumur, dan maaf kasur.

Mind set yang demikian masih mendarah daging dalam sebagian pemikiran orang-orang yang hidup di alam modern ini. Walaupun jaman telah meng-global, tetapi ada saja yang mengkungkung diri dengan pemikiran tersebut.

Seiring dengan perkembangan kehidupan, tingkat melek huruf dan lama bersekolah penduduk berjenis kelamin perempuan semakin meningkat. Dunia kerja tidak lagi didominasi oleh pria. Bahkan dalam pekerjaan yang cenderung secara tradisional merupakan wilayah laki-laki telah terjamah oleh pelaku yang berjenis kelamin perempuan, seperti supir, dll.

Laki-Laki Penanggung Jawab Pencari Nafkah

Secara normal dan didukung oleh banyak doktrin keagamaan sebenarnya laki-laki-lah yang memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah untuk bekal melangsungkan kehidupan sebuah keluarga.

Untuk itu beberapa keluarga memprioritaskan anak laki-laki dalam mendapatkan kesempatan meraih pendidikan terbaik guna menyiapkan diri mereka menjadi calon kepala rumah tangga. Dari sinilah wacana pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) mendapatkan tempat dalam pembahasaannya.

Seandainya toh ada wanita yang bekerja maka bukan merupakan tanggung jawabnya dalam mencari nafkah. Tetapi hanya sebagai tambahan penghasilan bagi keluarganya karena didukung oleh pihak laki-laki atau sang suami. Walaupun tidak dipungkiri banyak yang penghasilannya lebih besar wanita dari pada laki-laki karena berbagai hal, seperti ruang lingkup pekerjaannya, latar belakang pendidikan dan pengalaman, dan banyak hal lainnya. Hal ini biasanya kalau tidak dikelola secara fair dalam hubungan antara suami isteri akan menjadi kerikil dalam hubungan harmonis antara mereka. Hal tersebut mengakibatkan banyak pasangan yang sebelumnya sama-sama bekerja akan memutuskan untuk salah satu saja yang bekerja. Dan hampir dipastikan yang terkalahkan adalah pihak si isteri. Hal ini bisa terjadi karena adanya kekhawatiran dominasi laki-laki menjadi runtuh. Penghormatan terhadap kepala rumah tangga terancam gara-gara wanita berpenghasilan mandiri.

Menjadi Wanita Pekerja

Wanita boleh bekerja menjalani aktifitas sehari-hari di luar rumah sesuai dengan perjanjian dengan sang suami. Pada dasarnya apabila suami tidak mengijinkan, beberapa doktrin keagamaan cenderung melarangnya apabila wanita tetap melakukannya ia dianggap tidak menghormati keputusan suaminya. Bila diijinkan ada baiknya wanita tetap pada koridor, bahwa pencari nafkah utama adalah pria, sedangkan ia hanya sebagai tambahan. Sehinggan sang suami tidak merasa direndahkan eksistensinya.

Konsekuensi dari seorang ibu bekerja adalah meninggalkan anak dalam waktu yang lumayan lama. Anak lalu diasuh oleh seorang baby sitter atau pembantu rumah tangga. Kalau seorang wanita menjadi guru masih lumayan, banyak waktu tersisa yang dapat dijalaninya dengan si buah hati. Bagaimana dengan para wanita pekerja kantoran yang berangkat pagi dan pulang ke rumah menjelang malam?

Pada dasarnya saya sepakat dengan wanita yang memilih untuk tetap bekerja di luar rumah setelah menikah. Bahkan saya cenderung mewajibkan para wanita itu dapat bekerja. Hal ini dikarenakan bila sang suami sudah tiada, maka ia akan mengandalkan siapa lagi dalam mendapatkan penghasilan yang memadai untuk melangsungkan kehidupannya? Tunjangan pensiun yang tidak seberapa itu? Belas kasih dari keluarga besar? Uluran tangan dari negara? Boro-boro, iya enggak?[]

Menjadi Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup

Life is all about choice. Hidup itu bicara tentang pilihan. Menjadi ibu rumah tangga bisa menjadi semacam pilihan tanpa paksaan bagi sebagian besar wanita dalam sebuah keluarga. Ia—sebagaimana digambarkan oleh sebuah iklan televisi—adalah ahli akuntansi terbaik dalam sebuah keluarga. Seorang ibu dapat menjadi guru les bagi anak-anaknya yang dapat mengalahkan guru formal yang sudah terkategori profesional sekalipun. Ia adalah koki terbaik yang pernah ada. Ia adalah house keeper andalan yang setia dengan pekerjaannya. Ia adalah ojek terbaik dalam antar jemput anak sekolah, hehe…

Kehidupan yang rutin itu di mana saja dan kapan saja tetap mempunyai potensi yang dapat membuat kondisi seseorang mengalami kebosanan. Termasuk menjadi ibu rumah tangga, dimana kehidupannya yang dihadapi itu-itu saja sepanjang hidupnya. Apabila mau diuangkan (baca: dihargai secara professional) sebenarnya ibu rumah tangga adalah profesi tak ternilai penghargaannya. Agar tidak menjadi bosan/jenuh seorang ibu rumah tangga bisa mengaktualisasikan dirinya dalam banyak hal. Dunia arisan, dunia majelis taklim, dan dunia sosial lainnya sebenarnya memungkinkan kehidupan seorang ibu rumah tangga dapat lebih berwarna. Bahkan dapat melebihi warna pelangi terindah yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Untuk itu bersiap-siaplah ia keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).

Banyak aktifitas yang dapat dijalani, baik profit maupun non-profit. Ia dapat menjadi penulis freelance. Ia juga dapat menjalani peran sebagai guru les bagi anak-anak tetangga kanan-kiri yang kurang mampu secara ekonomi secara gratis atau free of charge. Waktu luangnya bisa dimanfaatkan dengan mendesain buku-buku cerita. Ia juga bisa menuliskan pengalaman hidupnya sebagaimana pernah dikatakan oleh penulis novel laris JK Rowling. Tulislah apa yang Anda ketahui, ucapkan, lakukan, dan rasakan.

Lagian perasaan tersisih, perasaan melihat orang lain lebih bahagia dari dirinya adalah karena cuma saling memandang. Dalam istilah bahasa Jawa disebut sebagai sawang sinawang. Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu kampungan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga kurang berpengalaman? Siapa bilang menjadi wanita sebagai pekerja kantoran itu berarti hebat? Jaminan menjadi langsung kaya raya? Ya, coba kita wawancarai atau survei sebagian dari teman atau tetangga yang menjalani aktifitas seperti itu. Apakah ia dapat menjamin bahwa dirinya bahagia? Bukankah kebahagiaan itu bersifat abstrak? Bukankah kebahagiaan itu bicara soal hati? Soal bagaimana seni dalam memberikan sebagian dari yang kita miliki untuk orang lain? Karena bagaimana pun kebahagiaan itu ada dan tanpa syarat. Karena kebahagiaan itu pilihan. Termasuk menjalani peran menjadi ibu rumah tangga. Bukankah begitu kawan? Wallahu a’lam[tan]

* Tanenji adalah seorang Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa perguruan tinggi swasta di Bogor, Depok, dan Jakarta-Timur, dapat dihubungi melaui email: tanenji@yahoo.com atau ponsel 0812 876 3133. Beberapa artikel lepasnya tentang secuil dinamika kehidupan dapat diakses di www.andaluarbiasa.com/tag/tanenji.


Telah di baca sebanyak: 2128
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *